Senin, 14 Januari 2019
Malam ini, sebuah warung penyetan di Jl. Tirto Agung Tembalang ramai pengunjung. Duduklah aku bersama dengan seseorang. Anak laki-laki yang baru saja berusia 20 tahun dua hari lalu. Kami baru saja selesai makan dan aku menepati janji: cerita-cerita. Kami harus cerita-cerita.
Aku baru saja menceritakan semuanya kepadanya. Apa yang terjadi akhir-akhir ini. Bagaimana hidupku di Tembalang. Hal-hal yang tidak sempat kuceritakan tahun lalu, semua kuceritakan ketika malam ini kami bertemu.
"Ingat baik-baik, Nis. Don't expect people. Karena nanti kamu yang sakit sendiri. They are bullshit. Belajarlah untuk stand up. Jangan biarkan waktu berlalu, kamu harus buat gebrakan juga. Mulai perlahan-lahan, step by step,".
Aku mengangguk mendengarkannya.
Selama ada dia, aku tidak banyak bicara. Hanya kalau cerita saja. Aku membiarkan dia bicara setelah ceritaku selesai. Aku melewati tahun-tahun bersamanya seperti itu. Aku yang cerita, kubiarkan dia bicara setelahnya. Nasihat panjang, ceritanya, semuanya keluar setelah itu.
Aku suka sekali mendengarnya bicara. Sekarang aku mengerti kenapa dia harusnya berada di jurusan komunikasi. Caranya dia menyampaikan sesuatu benar-benar engaging, menyenangkan, dan intens. Well, tentu saja, karena itulah dia cocok sekali berpidato.
"Kamu mulai perawatan, kan? Maskeran, gitu-gitu? Aku tahu, lho! Wajahmu bersih sekarang. Aku senang, lho!" lanjutnya.
Aku tertawa terbahak-bahak.
Aku lupa pertemanan kami sudah mulai sejak jamannya aku tidak peduli sama sekali dengan penampilan. Dengan apa yang kukenakan. Jamannya jerawatku masih parah dan tidak terlalu peduli soal itu.
Ah, masa SMA itu ya?
"Kamu notice?" tanyaku.
"Iya lho, aku notice. Itu bagus, kok! See, aku juga notice kamu mulai make-up. Mulai pakai lipstick. Kamu mulai pakai celana jeans. Wow, kemajuan. Suatu hari nanti kamu harus mempertimbangkan untuk beli sesuatu yang menunjang penampilanmu. Harus,".
Dasar, batinku.
"Now, no offense, Nis, sekarang gimana caranya kamu nurunin berat badan. You know, meski gimana pun, penampilan benar-benar penting di masyarakat kita. Coba deh diet, ditarget setahun turun 10 kilo. Kita lihat lagi ya tahun depan kamu gimana,".
Aku mengangguk lagi. Iya, iya, batinku. I'll take your challenge.
"Pokoknya, Nis, you have to stand up for yourself. Kamu harus menunjukkan this is myself. Body language," Dia menatapku. "Jangan begini," Dia terduduk lesu. "Kamu harus menunjukkan this is myself," Dia menunjukkan raut percaya diri.
Baik, body language. Aku mengangguk.
Selama setahun, aku benar-benar nggak percaya diri. Berusaha berinteraksi dengan cara orang lain, bukan diriku sendiri, saking tidak percaya dirinya. Ya, ya. Kali ini, aku harus memulainya dari...diriku sendiri.
Namun, yang sudah terlanjur, aku tidak tahu bagaimana melakukan restart.
Bagaimana kalau kubiarkan saja seperti itu, sementara aku memulai lagi dengan...diriku sendiri? Bukan masa bodoh, tetapi let it be sebagaimana terakhir kali kutinggalkan. Biarkan saja sebagaimana terakhir kali. Biarkan mereka melihat, tanpa harus terlibat langsung denganku, dan menilai sendiri.
Karena aku belum siap untuk memulai lagi, sejujurnya.
"Kalau nanti kesepian, kamu bisa telepon aku kapan aja. Kamu juga bisa menuangkan semuanya lewat tulisan. Kamu tahu kan aku baca,".
Aku tertawa.
"You're sweet," kataku. "What did I do that I deserve you, sih?".
Dia tersenyum.
"That's what friend suppose to do kan, Nis?" jawabnya.
Aku teringat sebelum ke warung penyetan itu, ketika kami berdua saja duduk di sebuah ruangan, aku membuat satu janji dengannya yang...harus kuingat.
"Kalau kamu sama aku, Nis, don't ever say you're fine when you're not. Kamu nggak boleh kayak gitu," katanya.
"I promise," Aku mengangguk, tersenyum.
Pembicaraan berlanjut ke arah relationship. Aku terkejut bahwa...mau seberubah apapun pandangannya dalam menilai first look seseorang, kami sama-sama belum terpikirkan untuk hubungan yang serius.
"Tapi kamu harus, Nis. Suatu hari nanti you have to meet someone. Kamu punya semuanya. You've achieved many things already in your life, tinggal jalan-jalan aja, paling dalam 6 bulan lagi. You're worth it," tegasnya.
Lagi, kemudian dia memberiku banyak nasihat soal laki-laki. Men are wilder than you think, begitu katanya. Bagaimana membuat laki-laki tertarik. Bagaimana membuat laki-laki begini dan begitu.
Rasanya...kalau ingat apa yang terjadi dengan kami berdua, aku ingin tertawa terbahak-bahak.
Bicara soal laki-laki, baru satu orang yang benar-benar membuatku...penuh dengan aura merah jambu bertahun-tahun.
"Kamu punya kualitas, Nis. Sekarang, laki-laki mana yang nggak mau dengan perempuan yang cerdas. But, again, penampilan, Nis,".
Baik, baik.
"My God, Nis, you are very potential, you know? Mbak Dila tadi misalnya, terkesan sekali waktu pertama kali mengobrol denganmu. You are agent of change. Kamu punya potensi mengubah banyak hal di dunia ini. What you need to do is starting it all from yourself. You are a princess. Semua orang adalah princess dan prince, mereka aja yang nggak mau jadi seperti itu,".
Kamu juga hebat, kau tahu, batinku.
Apa yang membuatku benar-benar terkesan dengannya adalah bagaimana satu tahun dia berubah total. Bukan dia yang dulu...terkesan main-main dengan hidupnya. Dia jauh lebih dewasa. Jauh lebih dewasa dalam melihat kehidupan.
Dan juga...dalam bermimpi.
Ingin pergi, ingin pergi, ingin pergi. Rasa ambisius itu rasanya sekarang mengikat banyak hal dariku dan darinya. Ingin meninggalkan semua ini. Ingin memulai brand new life. Berdiri di atas kaki sendiri.
"Oh, omong-omong," ujarku tiba-tiba. "Ada nggak sih orang yang bikin kamu jatuh cinta dalam banget gitu?".
"Ada lah," jawabnya. "Kamu?".
"Kamu," jawabku.
Kami tertawa.
Entah mengapa senang sekali mengakuinya secara langsung. Blak-blakkan bahwa kuhabiskan bertahun-tahun jatuh cinta dengan satu orang dan...dialah orangnya.
"Why me?".
Ya kalau kamu tanya alasannya, bisa kuhabiskan berjam-jam untuk menjelaskannya, batinku geli. Aku bisa menuliskan sebuah novel untuk itu. Serius. Aku bisa menghabiskan hari-harinya selama di sini untuk menceritakan kenapa semua itu terjadi.
"Tapi kamu nggak kecewa kan dengan penolakannya?" tanyanya.
"Nggak lah," jawabku enteng.
"Serius?".
"Nggak, beneran," Aku tersenyum. "Aku nggak kecewa. Aku ngerti,".
"You know, kita nggak harus berada dalam relationship seperti itu kan. I love you. You love me. Kita bisa care satu sama lain. Kita nggak tahu ke mana takdir nantinya. Suatu hari nanti, mungkin kita bisa tinggal satu negara, kan? Di Eropa, misal,".
Ya, takdir kan begitu ajaib.
Malam yang begitu menyenangkan ini membuatku tidak ingin cepat-cepat pulang. Entah mengapa, sudah lama sekali tidak mengobrol seperti ini dengannya. Butuh jeda waktu yang lama untuk bisa seperti ini lagi.
"Hey, kita belum foto," kataku.
"Aku masih di sini, kan? Kita masih punya hari besok. Santai aja,".
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar