Night Talks (2)

Untuk Ayu. Untuk Rifai. Untuk Adam.


Makan malam ini rasanya hambar. Mie dok-dok malam itu benar-benar...bland. Tanpa rasa. Sebagai INFJ yang mementingkan kualitas, aku menyesal menghabiskan uangku membelinya. Mas Juru Masak terlalu banyak menuangkan saus, sehingga bumbu mienya yang lezat sampai tertutupi rasa sausnya. Kalau boleh jujur sih, it's the worst mie dok-dok I've ever tasted.

Masih belum ada yang bisa mengalahkan enaknya mie dok-dok kantin FISIP. Favoritku dan Adam ketika kami makan di kantin.

Namun, makan malam itu diselamatkan oleh seseorang yang baik. Kalau dia bilang kami bisa lama-lama di tempat makan karena good food dan good conversation, aku lebih setuju di bagian good conversation. Hari ini makan malamku buruk, tetapi aku suka mengobrol dengannya. Aku jadi kenyang sendiri.

Ada satu poin menarik dari percakapan kami malam itu. Hal yang sama-sama kita sadari baru-baru ini. 

"Sekarang aku sadar ya, Nis, hubungan dengan setiap orang bukan lagi soal kesamaan, tetapi willingness to compromise," katanya. "Ada banyak orang yang...sebenarnya sulit banget buat diajak berhubungan karena nggak ada kesamaan, tetapi ada willingness to compromise, jadinya bisa bertahan lama,".

"Ha, iya tuh! Aku setuju banget," timpalku. Aku sudah nggak bisa menghitung berapa kali ngomong begini ketika sedang ngobrol sama dia. Like, her thoughts are what I've been thinking about all this time. "Justru itu kualitasnya. Dia masih mau bertahan sama kita, sesulit apapun hubungannya. Mereka yang layak banget buat dipertahankan,".

Aku terus memikirkan hal tersebut ketika perjalanan pulang. Akhir-akhir ini aku menghabiskan waktu bersama orang-orang yang jadi favoritku di muka bumi. Watak mereka berbeda-beda. Ada yang benar-benar affectionate, penuh kejutan, dan selalu membuatku tertawa. Ada yang keras, seems cold, tetapi aku tahu hatinya penuh cinta kasih. Ada yang pikirannya selalu satu channel denganku, getting along very well since the beginning, dan menyenangkan di luar maupun di dalam. Ada yang realis setengah mati, tetapi super chatty dan penuh percaya diri.

Namun, mereka punya satu kualitas yang menurutku langka: willingness to compromise

Karena bagaimana pun sehatnya sebuah hubungan, kualitas ini penting untuk memastikan kata 'kita' tetap mengikat dengan baik. Jika cinta dihubungkan oleh perasaan, pertemanan dihubungkan oleh ikatan. Believe me, lebih susah mencari teman yang baik daripada pacar yang baik. Pertemanan bisa berakhir dengan hubungan romantis, tetapi tidak semua hubungan romantis yang berakhir bisa berubah menjadi pertemanan.

Hal tersebut yang kupelajari satu semester ini. Bahwa aku harus menjaga hubungan dengan orang-orang terdekatku sekarang. Love and cherish them well.

Untuk Ayu, I have a big guilt when we started over again. I was aware of how horrible I was last semester. Saat ini dan seterusnya, aku mencoba untuk tumbuh menjadi versi terbaik diriku sendiri. Bukan untukmu, bukan untukku, tetapi untuk kita. Karena kata 'kita' harus tetap dipertahankan untuk mengikat Ayu dan aku. Truly, I thank you very much for everything.

Untuk Rifai, thank you very much for amazing years. Aku tidak pernah mengkhawatirkan apapun ketika sedang bersamamu. I feel peace and secure, because you put me on your priority. Satu hal lagi, aku benar-benar berterima kasih karena kamu mengijinkanku masuk ke duniamu. Terima kasih sudah percaya kepadaku. One day, you will find yourself as a great person, as you always aspire to be.

Last, but not least. Untuk Adam, kamu hanya butuh jadi dirimu sendiri untuk menjadi seseorang yang kusayang. Percayalah, kamu benar-benar seseorang yang baik hati. We've been walking together this far, it's also because of you. Aku butuh banyak waktu untuk memahami satu kepribadian, tetapi guess what, kita masih punya banyak waktu. Let's take things slow. I love you.




Anissa Antania Hanjani    

Komentar