"Apa resolusimu tahun depan?".
Pertanyaan itu muncul begitu saja malam ini. Mungkin karena terlalu sering melihat kalender di laptop akhir-akhir ini, aku tanpa sadar menghitung berapa banyak hari lagi untuk membuka 2019.
Namun, aku punya jawabannya.
Entah, tunggu. Aku sedikit ragu terkadang kalau mau membicarakannya.
Ah, oke. Oke. Rasa ragu dan takut, hilanglah!
Pertama, aku...ingin selesai kuliah. Tahun depan kalau bisa, haha. Aku tahu sih awalnya bukan ini rencanaku. Rencana awalku adalah menikmati skripsi pelan-pelan dan seperti kata Mas Rosyid, membuatnya sebagai masterpiece. Namun, kalau kupikir lagi, sepertinya menyelesaikan pendidikan sesegera mungkin adalah jalan terbaik. Keluargaku menantiku mengambil langkah berikutnya. Aku sendiri juga tidak sabar membuka lembaran lainnya.
Namun, ada beberapa aspek yang ingin kubiarkan berlalu pelan-pelan. Seperti...keputusan mau S2 ke mana, misalnya. Aku tidak ingin menjawab lagi dengan pasti, "Mau ke universitas A!" atau "Mau ke universitas B aja,". Aku ingin membiarkan hatiku memilih. Apapun pilihannya nanti, aku akan menjalaninya dengan baik, serta menghargai setiap proses dan momen yang kulewati.
Que sera sera, begitulah kiranya.
Kedua, aku ingin menjadi berkah bagi seseorang. November lalu, aku menerima pesan yang baik sekali dari seseorang. Dalam pesan itu, dia berdoa agar Tuhan menjadikannya teman yang lebih baik dan berkah bagiku. Sebuah pesan yang...sangat sweet dan baik.
Sejujurnya, kalau aku berkilas balik, Tuhan sudah mengabulkan doanya. Sepanjang tahun ini, dia menjadi berkah bagiku. Ada banyak hal tentangku yang membuat kami menghadapi kesulitan. Namun, dia adalah teman yang begitu baik. Kalau boleh kukatakan, resolusiku tahun ini tercapai berkat dia.
Aku ingin menjadi orang yang lebih baik dan Tuhan mengabulkan resolusi itu lewat dia.
Dia sudah menjadi berkah bagiku sepanjang tahun ini. Tahun depan, aku ingin menjadi berkah baginya. Aku ingin menjadi teman yang lebih baik dan berkah baginya juga. Toh, Mr. Izz pernah berkata kepadaku bahwa muslim yang baik bisa membuat orang di sekitarnya aman. Being a good friend for him is another way to be a good Muslim.
Well, ya, aku bisa mendengar satu sisi dalam diri ini berkata, "Kamu saja belum cukup memahaminya, bagaimana menjadi berkah?". Baiklah, itu benar. Aku tidak pandai membaca kodenya. Aku terkadang juga bingung sendiri. Aku terkadang juga take things seriously. Namun, hey, bukan berarti tahun depan aku tidak bisa jadi lebih baik dalam hal-hal itu, kan? Let's take it slow.
Ketiga, aku berharap manajemen stresku lebih baik. Kurasa dengan begitu, aku jadi jauh lebih bisa diandalkan orang lain. Aku juga dapat bekerja dengan baik. Sejauh ini aku pada akhirnya bisa memanajemen itu semua, tetapi pasti ada jalan lain meningkatkannya.
Jadi, dengan begitu aku bisa menghindari pertengkaran dengan orang-orang terdekat ketika terlalu capek.
Ah, ya. Jika boleh, aku ingin berharap semoga 2019 nanti rumahku bebas obrolan politik, hahaha. Kau tahu, kalau sudah jadi anak FISIP yang seharian dikuliahi politik, rasanya akan capek sekali mendengar obrolan itu lagi di rumah. Mau pilih Jokowi kek, Prabowo kek, terlalu fanatik menurutku tidak baik. Take it slow, sikap itu yang akhir-akhir ini kuambil. Bagus-tidaknya capres dan cawapres nanti bisa dinilai sendiri.
Lagian, terlalu fanatik bisa mempengaruhi objektivitas akademisi. Aku berusaha sebaik mungkin menjaga agar tidak condong ke capres tertentu. Ya, iya sih kita punya kecenderungan politik masing-masing, tetapi sekali lagi kita harus bicara data untuk menilai secara objektif.
Toh, aku juga relawan MAFINDO. Netralitas penting sekali untuk memberantas fitnah dan hoaks.
Terakhir, semoga 2019 membawa kebaikan bagi semua orang. Membawa perubahan yang lebih baik dan positif. Membawa persahabatan dan kebersamaan yang abadi. Membawa perdamaian bagi seluruh belahan bumi.
Anissa Antania Hanjani

Komentar
Posting Komentar