Do You Remember When I Fell for You?

Orang yang mengenalku sekarang dan baru-baru ini tidak akan percaya bahwa aku punya side yang akan kuceritakan berikut.

Aldin, misal, ketika kami sedang beberes pasca agenda ToT, pernah berkata kepadaku, "Kamu to Mbak kayaknya bakalan susah cari jodoh. Logis banget orangnya!".

"Lho iya dong," timpal Mbak Etha. "Kita cewek-cewek nggak makan rayuan gombal, kok. Iya kan, Nis?".

Aku mengangguk bangga dan memberikan high five.

Kalau Aldin saja bisa berkata begitu, apalagi orang-orang yang tahu bagaimana aku memilih lelaki yang bersamaku di masa depan. Pasti lebih nggak percaya lagi ketika aku menceritakan side berikut.

...

Aku asyik membaca buku oranye bertotol putih pada suatu malam. Baru membuka beberapa halaman saja, tawaku sudah membahana ke mana-mana. Sesekali aku memaki penulis buku itu, "Ya Tuhan goblok banget ngapain nulis beginian, dah!" dan tertawa keras. Semu merah menjalar dan merambah pipiku, membuatku tak tahan ingin selalu tersenyum membaca setiap kalimat yang tertera abadi di dalamnya.

Membuatku teringat...bagaimana polos dan kekanakkannya diriku ketika jatuh cinta dengan seseorang.

Dan tentunya membuatku teringat kepadanya...yang pernah membuatku jatuh cinta begitu dalam.

Oke, aku sedang tidak bercanda.

Setelah kuliah, aktivitasku di kampus dan komunitas benar-benar membuatku sibuk. Ditambah persiapanku membuat seminar proposal yang aku targetkan fix selama liburan ini. Plus, aku akan mencoba belajar bahasa asing lain untuk membantu TA-ku kelak. Dengan kesibukan seabrek itu, tentu itu tidak membuatku punya waktu untuk jatuh cinta dengan seseorang. Aku lupa akhirnya bagaimana rasanya jatuh cinta.

Malam itu, ketika memutuskan untuk membaca kembali tulisan-tulisanku sendiri dalam buku itu 5 tahun lalu, aku akhirnya ingat bagaimana rasanya jatuh cinta dengan seseorang. This feeling, ketika pipi bersemu merah ketika teringat dia. Ketika tiba-tiba perut terasa sakit tanpa alasan. Ketika jantung tidak berhenti berdebar. Ketika tanpa sadar aku bertanya kepada diriku sendiri, "Dia sedang apa ya?". 

Ah, ya. Sensasi menyenangkan itu yang kurasakan terakhir kali beberapa tahun lalu.

Aku bisa membayangkan seandainya ini kuceritakan secara verbal, mungkin tiba-tiba akan banyak orang memberi pertanyaan, "Seperti apa orangnya? Ganteng? Tinggi?".

Dan aku tertawa.

Hm, dia itu...seperti matahari. Jauh berbeda denganku, meski guru favoritku berkata kami sebenarnya mirip. Ketika aku awkward dan canggung ketika bertemu orang baru, dia adalah kebalikannya. Dia selalu tersenyum dan tertawa, begitu carefree, dan selalu menarikku dari duniaku yang membosankan. Andai kehidupanku itu ditayangkan jadi drama, kalau misal nanti dia masuk scene gitu ya, nanti pasti ada efek cahaya cemerlang yang bikin silau gitu.

Karena exactly seperti itulah dia: begitu carefree, menikmati kehidupan, menyenangkan, banyak tersenyum dan tertawa.

Dan aku? Planned, serius, awkward, mudah bingung, dan canggung.

Cerita pertemuan kami adalah satu hal yang tidak akan pernah terhapus dalam memoriku. Sebuah memorable moment yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup. Saat ditugaskan menulis nama 10 teman laki-laki dan perempuan di orientasi sekolah, tiba-tiba dia datang dan bertanya siapa namaku untuk dicatat. Ketika dia tidak tahu bagaimana menulis namaku, dia memberikan blocknote-nya agar aku bisa menuliskannya.

Dia membacanya, lalu berkata, "Namamu sepanjang Sungai Bengawan Solo,".

Aku bingung. Tidak pernah ada orang yang merasa nama lengkapku kepanjangan. Perasaan hanya terdiri atas tiga kata, deh.

"Lalu, namamu siapa?" tanyaku.

Sama, aku pun tidak tahu bagaimana menulis namanya. Aku melakukan hal yang sama dengannya agar dia bisa menulis nama lengkapnya.

Begitu membaca blocknote-ku, aku sedikit memberengut. Antara kesal dan tidak mengerti. 

Karena namanya jauh lebih panjang dariku.

Dasar bodoh, batinku. Sendirinya namanya lebih panjang!

"Kamu dari SMP mana?" tanyanya.

"Aku dari SMP N 1 Ungaran," jawabku. "Kamu?".

"Ar-Rahmah," jawabnya.

"Asalmu dari mana?".

"Balikpapan," jawabnya. "Oh ya, kenalin ini Yusuf Habibi," dia mengenalkan laki-laki yang duduk di sebelahnya kepadaku.

"Ah, halo," Aku tersenyum.

Kamu tahu, menurutku momen paling langka dan ajaib dalam hidup itu...ketika kamu bertemu dengan seseorang dan langsung akrab seakan-akan dia teman lama. Kira-kira itu yang terjadi denganku dan dia waktu itu. Sejak pertemuan pertama kami di orientasi sekolah, kami langsung akrab. Kami sering ejek-ejekkan ketika duduk bersebelahan. Ketika chatting, kami saling memaki, "Geblek!" satu sama lain. Like...aku sudah mengenalnya sejak lama.

I think we've been becoming best friend since that day.

Namun, aku belum menyukainya waktu itu. Belum, belum, pemirsa. Dulu malah temannya yang kusukai. Ingat deh jadinya, dulu selama masa orientasi aku sering menulis namanya di buku harian yang kuberi password. Tahulah ya, kalimat-kalimat seperti 'I can't take my eyes off from him', 'He's amazing', seperti itu. Bikin puisi juga...iya. HAHAHA. Kayaknya orang yang tahu gimana ketatnya aku sekarang dalam kriteria calon suami di masa depan, pasti nggak percaya lah ya.

Hoho, dulu aku pernah segalau itu juga kalau jatuh cinta, kok. 

Aku baru menyukainya dua minggu setelah libur lebaran. Saat itu aku rebel di asrama dengan diam-diam buka Facebook di kamar setelah pulang sekolah dan chat dia. Lagi asyik chat gitu, tiba-tiba aku merasa...ada yang aneh. Entah karena kami keasyikan chat, entah karena apalah itu, tiba-tiba...sensasi itu datang.

Semu merah itu menjalari pipiku perlahan.

I almost could hear my own heartbeat.

Ketika chat itu berakhir, aku tersadar sensasi-sensasi itu terus muncul tanpa henti. Tiba-tiba aku senang sekali setelah bisa chat dengannya, padahal chat itu simpel banget, hanya bercandaan biasa. 

"Ih, masa' sih aku...suka dia? Anak culun itu? Astaga!" gumamku.

Sejak hari itu, masa-masa aneh berwarna merah jambu itu dimulai. Masa-masa yang...serius deh, aneh dan seru di saat yang bersamaan. Di sekolah ketika papasan atau sedang mengikuti pelajaran seni budaya (karena kami ambil bidang yang sama), rasanya beda gitu. Di depannya, aku bisa kelihatan awkward, kaku, dan...like, "Ih, apaan sih," atau terkesan dingin. Meski kalau kami sedang berdua atau bertiga, aku bisa menikmati momen-momen bersamanya.

But, kalau di belakang nanti kalau udah nggak ada orangnya...

"Ya ampun, ya ampun, ya ampun, kok dia bikin aku jungkir balik gini, sih? Stop it, hey!" gumamku seraya tertawa keras, dengan semu merah yang masih menjalar.

Atau gini deh, biasanya kalau dia lewat, aku biasa aja atau kami bakalan ejek-ejekkan. Nanti ya kalau dia udah agak jauh jalannya, aku langsung mbatin, "Ya Tuhan, ganteng banget itu anak astagaaaaa...."

Oke, beberapa ada yang nggak sepakat, but that was it. Mana berani aku blak-blakkan memujinya di depan. Mana berani aku bilang, "Kamu keren banget sih," seekspresif ketika dengan Adam misalnya. 

Nggak, nggak akan berani. Karena aku punya perasaan lebih, hahaha.

Apa yang sebenarnya membuat kisah kami begitu seru buatku adalah karena di saat yang sama dia adalah sahabat sekaligus rivalku. Di saat tertentu, kami ejek-ejekkan, bercandaan, dan cerita-cerita. Namun, kalau sudah lomba...lupakan semua itu, kami adalah rival dan saingan. Dia bagus banget lah kalau tampil di panggung pokoknya. Namanya juga matahari kan ya, silau banget.

Nggak bisa cerita pokoknya aku di sini momennya apa aja. Bukan karena nggak mau, tetapi saking banyaknya, itu nanti bisa jadi novel gitu ntar kalau aku ceritain, hahaha.

Dia pindah sekolah kemudian, tetapi kami masih sering kontak-kontakkan. Beberapa kali cerita-cerita di chat kalau punya waktu. Well, selama masa itu aku dengar beberapa gosip miring tentang dia. Dari mana? Hmph, ada deh! Namanya juga orang jatuh cinta. Kekuatan orang lagi jatuh cinta itu ya, dia bakalan jadi detektif paling handal. Gosip miring itu dari sumber tertentu lah pokoknya yang hanya aku yang tahu.

But, I tried my best to trust him. Dia juga melakukan hal yang sama pokoknya. Kami nggak sering kontakkan karena basically dia nggak suka chatting-an, tetapi saling trust aja. 

Kalau sekarang mah, paling tahu kabar satu sama lain dari akun Instagram masing-masing.

Tiga tahun setelah dia pindah, kami melanjutkan hidup masing-masing di jurusan pilihan kami. One day, dia mengontakku dan cerita akan ke Semarang buat ikut lomba. Langsung lah kesempatan ini kumanfaatkan baik-baik untuk ketemu (ya siapa juga yang nggak mau ketemu si dia kan ya, haha). Seminggu sebelum ketemu dia, even aku udah bingung mau pakai baju apa dan tampil seperti apa di depannya. 

Dan aku memutuskan pergi akhirnya dengan adikku. No matter what, I'll meet him.

Aku menunggunya cukup lama dari pagi sampai siang. Karena nggak tahu technical lombanya seperti apa dan rundown-nya gimana, aku menunggunya. Cukup lega sih setelah tahu ada namanya di daftar. Yah, tapi capek kan menunggu tanpa kepastian. Akhirnya, aku pergi makan siang dengan adikku di warung dekat tempat lomba dan kembali menunggu.

Dan kembali bosan lagi karena dia tidak ada di sana.

"Huft, bentar deh ya, aku beli cokelat. Kamu mau aku beliin cokelat?" Aku menawari adikku. Dia memutuskan untuk menemaniku turun beli cokelat.

Aku baru melewati beberapa anak tangga ketika berpapasan dengan seseorang yang...begitu familiar. Suaranya. Caranya berjalan.

I felt the world freezed for a moment.

And our eyes met.

Dia lalu merentangkan tangannya lebar-lebar dan aku merasa kami sedang berada di sebuah adegan dalam iklan permen Kis.

"Antania, I miss you!".

Dan aku sudah tidak tahan lagi untuk menjawab.

"I miss you too," Aku tersenyum lebar.

Rencana beli cokelat seketika batal total!

...

Aku baru saja selesai mengisi di GKJ Sidomukti Salatiga waktu itu. Karena teman-teman yang lain salat dan aku sedang tidak bisa, aku bertugas menjaga barang.

Aku terduduk di sebuah tangga dan menatap langit malam. Baru saja aku melewati sebuah momen menakjubkan. Mengisi di tengah komunitas Kristiani begitu menyenangkan dan tak terlupakan. 

Tiba-tiba, aku mendengar dering handphone-ku. 

Dengan nama yang begitu familiar bagiku.

Dan panggilan video call.

"Oh, gosh!" Aku tersenyum lebar dan menjawab panggilan itu. Ketika kami terhubung, wajah itu terlihat memenuhi layar ponselku. Aku tidak bisa berhenti tersenyum.

"Hey, Antania!!" sapanya.

"Hey," sapaku balik, tersenyum. "I miss you,".

"I miss you too!" jawabnya. "Kamu lagi di mana?".

"Di gereja nih," jawabku.

"Ngapain di gereja?" tanyanya.

"Habis ngisi acara," jawabku.

"Guess what, I'll call you tomorrow, okay? Let's talk tomorrow," katanya.

"Oke," Aku mengangguk, masih tersenyum. "See you tomorrow,".

"See you tomorrow!".

Ada perbedaan antara perasaanku dulu dan sekarang ketika lagi-lagi kami bertemu via aplikasi chat. Perbedaan yang begitu besar.

Dulu mana berani aku mengatakan, "I miss you," seblak-blakkan itu. Selain takut perasaanku ketahuan, aku bisa terancam otoritas tertinggi, hahaha. Aku nggak akan berani memujinya, "You're great tho,". 

Karena...kamu akan sulit membedakan apakah kamu memujinya karena dia sahabatmu atau karena kamu punya perasaan lebih kepadanya.

Sekarang? Entah. Aku bisa melakukannya karena pilihan just be friend sudah kuaktifkan. Hanya saja, aku tetap tidak bisa melupakan sebuah fakta yang benar-benar nyata.

A fact that up until now, no man ever makes me fall in love so deep, as he did.





Anissa Antania Hanjani

Komentar