Say hello to the dearest Roger Taylor, Freddie Mercury, Brian May, and John Deacon!
Dari aku masih jabang bayi, Mama dan Papa suka banget memperdengarkanku lagu-lagu Western. Mama lebih suka dengan yang pop dan up beat gitu, sementara kalau sama Papa pasti dengerin lagu-lagu country dan relaxing songs sebelum tidur. Karena itu nama-nama band dan penyanyi seperti Westlife, Queen, Michael Jackson, The Cranberries, dan lain-lain udah akrab di telingaku.
Well, itu kenapa sih aku sangat menyukai playlist-nya Mbak Ika di kantor departemen. Tiap kali kami kerja dan beliau nyetel musik, wuah, udah deh betah rasanya dengerin.
"Kamu dengerin lagu-lagu begini nanti ikutan tua lho," kata Mbak Ika suatu hari.
"Nggak kok, Mbak. Saya suka sekali," ujarku menikmati. "Di playlist Spotify saya banyak lagu-lagu yang '60s, '70s, '80s gitu kayak The Beatles, Queen...".
Namun, nggak ada satu pun dari band dan penyanyi itu yang lebih fantastis dari Queen. Bahkan, menurutku di era modern culture ini, nggak akan ada grup musik yang bisa mengalahkan Queen. Beda gitu kan kesannya kalau dengerin yang 2010s kebanyakan isinya seks, love, dan have fun doang, jadi kehilangan esensi gitu. Queen pokoknya beda banget.
Di tahun 2018 inilah aku menyadari semua itu.
* * *
Ada suatu hari di mana tiba-tiba sebuah ingatan melayang begitu saja dalam pikiranku. Memori tentang sahabatku yang sudah lama meninggal. Ibunya bilang dia dulu bisa main bagian gitar (atau drumnya gitu) lagu Bohemian Rhapsody.
Aku hanya pernah dengar judul lagu itu sekilas gitu. Belum pernah dengar sama sekali malah. Namun, aku tahu itu lagunya Queen.
Mungkin pernah dengar gitu ya, tetapi lupa.
So, akhirnya aku mencari lagu itu di YouTube karena penasaran. Apaan sih Bohemian Rhapsody ini? Lagu yang kayak gimana, sih?
First time aku dengerin itu ya, rasanya bingung banget. Lagunya benar-benar confusing, baik dari segi lirik maupun melodinya. Bingung ini lagu dari liriknya mau cerita soal apa. Mama apaan, bismillah apaan, Galileo, Figaro, ini maksudnya apa dijadiin satu semua. Melodinya juga, dari awalnya calm terus naik, naik, naik, semakin up beat gitu, terus calm lagi perlahan-lahan.
"Hah? Lagu apaan, nih? Maksudnya apaan dah?" batinku.
Pertama kali mendengar opera dan rock jadi satu benar-benar membingungkan. Nggak pernah aku mendengar lagu seperti ini sebelumnya. It's very very different.
Meski bingung, aku justru semakin penasaran. Ada dorongan misterius yang berkata, "Nisa, you have to listen to it again!" terus-menerus. Sejak hari itu, setidaknya dua-tiga kali dalam sehari aku mendengarkan Bohemian Rhapsody. Baru akhirnya aku mengerti sisi seninya di mana.
Damn, what a great puzzle Bohemian Rhapsody is!
Yah, memang di situ bagusnya! Justru karena nggak ada satu pun lagu yang seperti itu, makanya Bohemian Rhapsody jadi bagus. Apalagi bagian peralihannya antara rock ke opera, lalu kembali lagi ke rock. Ya macam bikin seminar proposal penelitian gitu kan, justru bagus kalau belum pernah ada yang meneliti itu.
Seketika ingat proposal yang masih satu halaman, huhu.
Oke, kembali ke topik.
Sejak saat itu, aku mendengarkan lebih banyak lagi lagu Queen. Next, aku mendengarkan I Want To Break Free. Aku udah pernah dengerin ini waktu masih kecil, sih. Waktu itu Mama memutar video Queen lagi menyanyikan lagu itu live entah di mana. Namun, mendengarkannya sendiri lewat headphone ternyata pengalaman yang berbeda. Asyik gitu. Melodinya up beat, enak banget buat didengar.
Belum lagi setelah kenal lagu Under Pressure. Karena lagu ini filosofis banget, aku langsung nyantol gitu aja. Beberapa ide tulisanku sempat muncul ketika mendengarkan lagu ini. Like, iyalah ya, lagu ini banyak menyoroti isu sosial di seluruh dunia dan aku anak HI.
Setelah cukup kenal banyak lagu-lagu Queen (yang kalau disebut semua nanti jadi novel), aku mulai menonton beberapa penampilan live mereka. Pertama kali itulah akhirnya aku menonton video Queen saat tampil di Live Aid tahun 1985. Gila, gila, penampilan mereka keren banget! Freddie Mercury sebagai frontman dan lead vocalist terutama, bisa gitu lho mengomando ratusan ribu orang yang menonton saat itu.
Pertama kali lihat Freddie di Live Aid itu lho, aku benar-benar takjub. Ada aura dari Freddie yang bikin dia menjadi sorotan spotlight di Wembley Stadium kala itu. Apa ya...aku nggak bisa jelasin, tetapi bagaimana dia membuat penonton ikut bertepuk tangan waktu menyanyikan Radio Ga Ga itu benar-benar something. Soalnya, nggak semua penonton di sana fans Queen gitu lho, tetapi Wembley Stadium riuh banget selama 20 menit mereka tampil. Gila, keren!
Belum lagi Ay-oh nya, hahaha! Bisa gitu dia mengomando ratusan ribu orang ngikutin dia Ay-oh gitu. Vocal range-nya, musiknya, komposisinya, how he entertain audience, semuanya sempurna soal dia! Nggak berlebihan memang kalau Freddie Mercury disebut legenda musik rock.
Adalah sebuah kenyataan menyenangkan ketika aku tahu semua kisah amazing Queen difilmkan dalam Bohemian Rhapsody. Aku menemukan teaser-nya ketika sedang asyik browsing video di YouTube pas bulan Ramadhan. Woah, langsung glimpse gitu waktu pertama kali menonton! Dan of course, aku langsung heboh. Hahaha jadi inget waktu itu statusku ketika heboh film Bohemian Rhapsody dikomentari Mbak Anita Wahid. Who knows ternyata beliau penggemar Queen juga.
Even aku udah janjian sama Mama buat menonton film itu berdua saja dari Lebaran, padahal masuk bioskop baru tanggal 2 November. Saking senangnya.
As a fans, aku menonton film itu sehari setelah rilis. Tanggal 3 November aku dan Mama pergi ke Java Mall buat menonton. Beruntung banget waktu itu studionya sepi, jadi bisa lebih menikmati. FYI, film itu kan emang bikin orang-orang pingin sing along gitu kan ya. Berkat sepinya studio, aku bisa nyanyi keras-keras gitu, hahahaha.
Film Bohemian Rhapsody sangat memuaskanku. Literally the best movie I've ever watched! Bikin goosebump gitu tiap ada adegan Queen tampil live di sana. Apalagi pas momen Live Aid. Astaga, mau nangis! Penonton segitu banyak, penataan musiknya, grafisnya, bagus gila! Bahkan setelah film ini selesai penayangannya, aku nggak bisa berhenti berulang-ulang menonton video trailer-nya di YouTube. Guess ternyata ada ribuan orang yang melakukan hal serupa di seluruh dunia! Sama sepertiku, mereka sangat menyukai filmya.
No matter the critics, film ini sangat, sangat keren! Menyesalah kalian yang nggak pernah menonton film sebagus ini, hahahaha.
Mengenal Queen adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi di tahun 2018 ini. Musik yang mereka tawarkan nggak hanya inspiring, tetapi juga classy dan artsy! Mereka menawarkan banyak genre dalam musik rock. Kalau kamu nggak suka rock-opera seperti Bohemian Rhapsody, mungkin kamu bisa mendengarkan rock-a capella seperti The Prophet's Song atau gospel-rock seperti Somebody to Love. Kalau lebih suka pop-rock yang ringan, bisa juga tuh dengerin Crazy Little Thing Called Love. Kalau lebih suka ballad-rock yang touching, bisa banget dengerin Love of My Life. Banyak banget deh alternatifnya!
Aku banyak banget mengagumi Freddie Mercury. Like, kalau dilihat dari interview-nya atau dari teman-teman satu band, dia tuh...membuatku merasa, "Ah ya, aku bisa ngerti perasaannya, tetapi dia mengagumkan!". Aku terbiasa kan bicara di depan umum untuk presentasi, mengisi materi, atau pidato, tetapi setelah itu aku awkward dan malu kalau ada yang mendekati secara personal. Menyimak wawancara Freddie, Roger, dan Brian, aku jadi mengagumi Freddie. I think he was much more introvert, but he could command hundred-thousands people in a stadium like hell.
He's super awesome!
Sekarang, setiap kali menonton klip Queen waktu tampil di Live Aid, sering sekali aku bergumam sendiri, "Woah, gila. Pingin gitu kayak Freddie. Tiap kali aku tampil di panggung, semua audiens matanya langsung menatapku dengan kagum. Gimana ya caranya?". Karena dia benar-benar sangat keren!
Dari Queen, aku belajar banyak hal. Banyak sekali. Namun, satu poin terpenting yang kupelajari dari mereka adalah be yourself, love yourself. Queen tidak akan menjadi Queen kalau mereka sama seperti band lain. They are all four misfits, who play for other misfits, don't belong to mainstream people and the critics. Musik mereka adalah milik orang-orang yang mencintainya.
Kalau aja mereka nggak experimental, berhenti gitu waktu Bohemian Rhapsody dikritik karena terlalu panjang, berbeda, dan aneh, Queen tidak akan pernah sebesar ini, kan? Yang mencintai mereka bukan hanya generasi 1980-an. Generasi yang muncul setelah kematian Freddie pun juga mencintai mereka sebesar itu.
Karena Queen adalah Queen. Tidak akan pernah ada lagi yang bisa membentuk Queen seperti Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon.
Anissa Antania Hanjani
"Hah? Lagu apaan, nih? Maksudnya apaan dah?" batinku.
Pertama kali mendengar opera dan rock jadi satu benar-benar membingungkan. Nggak pernah aku mendengar lagu seperti ini sebelumnya. It's very very different.
THIS ICONIC POSE!! I bet people will shout out and say, "Yay, that's Bohemian Rhapsody!"
Meski bingung, aku justru semakin penasaran. Ada dorongan misterius yang berkata, "Nisa, you have to listen to it again!" terus-menerus. Sejak hari itu, setidaknya dua-tiga kali dalam sehari aku mendengarkan Bohemian Rhapsody. Baru akhirnya aku mengerti sisi seninya di mana.
Damn, what a great puzzle Bohemian Rhapsody is!
Yah, memang di situ bagusnya! Justru karena nggak ada satu pun lagu yang seperti itu, makanya Bohemian Rhapsody jadi bagus. Apalagi bagian peralihannya antara rock ke opera, lalu kembali lagi ke rock. Ya macam bikin seminar proposal penelitian gitu kan, justru bagus kalau belum pernah ada yang meneliti itu.
Seketika ingat proposal yang masih satu halaman, huhu.
Oke, kembali ke topik.
Sejak saat itu, aku mendengarkan lebih banyak lagi lagu Queen. Next, aku mendengarkan I Want To Break Free. Aku udah pernah dengerin ini waktu masih kecil, sih. Waktu itu Mama memutar video Queen lagi menyanyikan lagu itu live entah di mana. Namun, mendengarkannya sendiri lewat headphone ternyata pengalaman yang berbeda. Asyik gitu. Melodinya up beat, enak banget buat didengar.
Belum lagi setelah kenal lagu Under Pressure. Karena lagu ini filosofis banget, aku langsung nyantol gitu aja. Beberapa ide tulisanku sempat muncul ketika mendengarkan lagu ini. Like, iyalah ya, lagu ini banyak menyoroti isu sosial di seluruh dunia dan aku anak HI.
Sampul album Hot Space di mana Under Pressure masuk di salah satu list-nya. Kalau lihat ini langsung inget intro yang dimainin John Deacon gitu, ehehe.
Setelah cukup kenal banyak lagu-lagu Queen (yang kalau disebut semua nanti jadi novel), aku mulai menonton beberapa penampilan live mereka. Pertama kali itulah akhirnya aku menonton video Queen saat tampil di Live Aid tahun 1985. Gila, gila, penampilan mereka keren banget! Freddie Mercury sebagai frontman dan lead vocalist terutama, bisa gitu lho mengomando ratusan ribu orang yang menonton saat itu.
Pertama kali lihat Freddie di Live Aid itu lho, aku benar-benar takjub. Ada aura dari Freddie yang bikin dia menjadi sorotan spotlight di Wembley Stadium kala itu. Apa ya...aku nggak bisa jelasin, tetapi bagaimana dia membuat penonton ikut bertepuk tangan waktu menyanyikan Radio Ga Ga itu benar-benar something. Soalnya, nggak semua penonton di sana fans Queen gitu lho, tetapi Wembley Stadium riuh banget selama 20 menit mereka tampil. Gila, keren!
Belum lagi Ay-oh nya, hahaha! Bisa gitu dia mengomando ratusan ribu orang ngikutin dia Ay-oh gitu. Vocal range-nya, musiknya, komposisinya, how he entertain audience, semuanya sempurna soal dia! Nggak berlebihan memang kalau Freddie Mercury disebut legenda musik rock.
Selalu ada goosebump gitu kalau lihat ini. Wow, satu orang di panggung yang kecil bisa menghibur ratusan ribu orang, dari ujung satu ke ujung lainnya. Freddie Mercury is literally the best entertainer in history!
Adalah sebuah kenyataan menyenangkan ketika aku tahu semua kisah amazing Queen difilmkan dalam Bohemian Rhapsody. Aku menemukan teaser-nya ketika sedang asyik browsing video di YouTube pas bulan Ramadhan. Woah, langsung glimpse gitu waktu pertama kali menonton! Dan of course, aku langsung heboh. Hahaha jadi inget waktu itu statusku ketika heboh film Bohemian Rhapsody dikomentari Mbak Anita Wahid. Who knows ternyata beliau penggemar Queen juga.
Even aku udah janjian sama Mama buat menonton film itu berdua saja dari Lebaran, padahal masuk bioskop baru tanggal 2 November. Saking senangnya.
As a fans, aku menonton film itu sehari setelah rilis. Tanggal 3 November aku dan Mama pergi ke Java Mall buat menonton. Beruntung banget waktu itu studionya sepi, jadi bisa lebih menikmati. FYI, film itu kan emang bikin orang-orang pingin sing along gitu kan ya. Berkat sepinya studio, aku bisa nyanyi keras-keras gitu, hahahaha.
Film Bohemian Rhapsody sangat memuaskanku. Literally the best movie I've ever watched! Bikin goosebump gitu tiap ada adegan Queen tampil live di sana. Apalagi pas momen Live Aid. Astaga, mau nangis! Penonton segitu banyak, penataan musiknya, grafisnya, bagus gila! Bahkan setelah film ini selesai penayangannya, aku nggak bisa berhenti berulang-ulang menonton video trailer-nya di YouTube. Guess ternyata ada ribuan orang yang melakukan hal serupa di seluruh dunia! Sama sepertiku, mereka sangat menyukai filmya.
No matter the critics, film ini sangat, sangat keren! Menyesalah kalian yang nggak pernah menonton film sebagus ini, hahahaha.
RAMI MALEK, YOU LITERALLY DESERVE OSCAR FOR BEING FREDDIE!!
Aku banyak banget mengagumi Freddie Mercury. Like, kalau dilihat dari interview-nya atau dari teman-teman satu band, dia tuh...membuatku merasa, "Ah ya, aku bisa ngerti perasaannya, tetapi dia mengagumkan!". Aku terbiasa kan bicara di depan umum untuk presentasi, mengisi materi, atau pidato, tetapi setelah itu aku awkward dan malu kalau ada yang mendekati secara personal. Menyimak wawancara Freddie, Roger, dan Brian, aku jadi mengagumi Freddie. I think he was much more introvert, but he could command hundred-thousands people in a stadium like hell.
He's super awesome!
Sekarang, setiap kali menonton klip Queen waktu tampil di Live Aid, sering sekali aku bergumam sendiri, "Woah, gila. Pingin gitu kayak Freddie. Tiap kali aku tampil di panggung, semua audiens matanya langsung menatapku dengan kagum. Gimana ya caranya?". Karena dia benar-benar sangat keren!
Dari Queen, aku belajar banyak hal. Banyak sekali. Namun, satu poin terpenting yang kupelajari dari mereka adalah be yourself, love yourself. Queen tidak akan menjadi Queen kalau mereka sama seperti band lain. They are all four misfits, who play for other misfits, don't belong to mainstream people and the critics. Musik mereka adalah milik orang-orang yang mencintainya.
Kalau aja mereka nggak experimental, berhenti gitu waktu Bohemian Rhapsody dikritik karena terlalu panjang, berbeda, dan aneh, Queen tidak akan pernah sebesar ini, kan? Yang mencintai mereka bukan hanya generasi 1980-an. Generasi yang muncul setelah kematian Freddie pun juga mencintai mereka sebesar itu.
Karena Queen adalah Queen. Tidak akan pernah ada lagi yang bisa membentuk Queen seperti Freddie Mercury, Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon.
Anissa Antania Hanjani





Komentar
Posting Komentar