My Life in 2018: All Those Issues

Episodeku di tahun 2018 nggak hanya penuh dengan kesenangan. Yah, pasti ada bagian nggak enaknya. 

Namun, aku ingin menulis ini sebagaimana Ariana Grande menyanyikan hitsnya, thank u, next. Bahwa I've lost at some points. Bahwa ada banyak hardships dalam segala hal yang kulewati tahun ini. Bahwa itu membuatku jatuh berkali-kali.

Meski begitu, bukan itu yang kulihat dan ingin kuperlihatkan.

Aku ingin memperlihatkan ke dunia...apa yang diajarkan hal-hal itu kepadaku.

* * *

Dahulu, aku berpikir bahwa psychological issues hanya dialami orang-orang tertentu saja. Mungkin tidak akan pernah terjadi kepadaku. Sebab, dari cerita-cerita yang kubaca di internet, orang-orang yang mengalaminya biasanya bermasalah dalam keluarga. Meanwhile, aku dan keluargaku baik-baik saja. Aku hidup dalam keluarga yang harmonis.

Until I realize...aku sedikit berlebihan dalam berbagai hal.

Dalam emosi, terutama.

Orang-orang yang sudah mengenalku lebih dekat akan tahu bahwa aku mengerikan kalau marah. Dulu jauh lebih parah, sih. I could even slam the door and raise my tone so high. Aku akan menolak makan kalau sudah begitu dan berminggu-minggu suasana hatiku akan sangat buruk. 

Dan aku juga tidak bercanda ketika bilang bahwa aku orang yang sangat serius. Dulu bahkan aku nggak bisa membedakan apakah orang itu sedang bercanda atau mengejekku. I took it all by hearts, in a very serious way, as something harmful. Jadi, aku akan marah juga.

Dulu aku sering sekali memasukkan semuanya dalam hati karena mendengarkannya secara emosional. I took all things seriously. Karena itulah sebelumnya aku nggak bijak menanggapinya. Aku akan marah kalau dibercandain sedikit saja. Aku akan jatuh karena kritik yang...sebenarnya nggak harmful (ya bayangin aja, nggak harmful aja bisa jatuh, apalagi kalau harmful). Dan ya...bisa ditebak juga lah ya, aku gampang stres.

Yep. I was very fragile. Very fragile.

Yah, karena pada dasarnya aku highly sensitive person (HSP) juga, sih.

Perlahan memang semuanya membaik, terutama setelah lulus SMA. Nggak ada lagi acara banting-bantingan pintu. Nggak ada lagi drama mogok makan. But, still, tingkat emosionalku masih tinggi. Kadang aku marah ketika dibercandain. Masih gampang stres. Aku masih jatuh ketika dikritik sedikit, terutama setelah kejadian 212 itu. Aku jadi membangun tembok dengan maksud melindungi diriku sendiri. Karena aku gampang alert dalam segala hal. 

Hal-hal itu terjadi juga pada 2018 ini. Karena begitu emosional, aku mudah panik, bingung, marah, dan sedih. Namun, karena aku takut kehilangan apa yang sudah kumiliki sampai sekarang, aku menutupinya dan berkata bahwa everything is alright, padahal nggak juga. 

Ketika udah mulai punya orang terdekat, aku tersadar tembok yang dulu kubangun perlahan-lahan runtuh. Seharusnya aku senang karena itu berarti kemajuan. Artinya aku tidak perlu takut apa-apa lagi dan bisa melihat dunia dari kacamata lain.

Tidak, tidak. Justru yang terjadi adalah aku takut. 

Aku takut sisi emosional itu terlihat oleh orang terdekat selain keluarga. Aku takut terlihat oleh orang yang awalnya asing bagiku, lalu menjadi yang terdekat. 

Sebab, keluarga tidak akan pernah meninggalkanku, no matter what. Mereka melihat banyak hal tentangku yang bahkan jauh lebih parah dibanding sekarang. Berbeda dengan orang yang awalnya asing, lalu menjadi dekat. Pikirannya bisa berubah setelah melihat sisi itu.

Karena itu aku kembali berusaha menutupnya rapat-rapat.

Namun, tahulah ya apa kata pepatah. Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Seberusaha apapun aku menyembunyikannya, pada akhirnya akan terlihat juga.

Ada satu orang yang paling sering melihat sisi ini di antara sekian orang yang dekat denganku. Paling sering melihatku menangis. Paling sering kena marahku. Paling sering kena getahnya kalau tiba-tiba aku jutek karena kesal akan sesuatu. Paling sering menghadapi aku yang panik dan cemas. 

Wah, gimana ya. Bahkan, aku sampai pernah bilang kepadanya, "Sebutkan saja semua sisi burukku. Kamu yang paling tahu di antara semuanya,".

Bisa ditebak, karena sering berhadapan dengan sisi emosionalku ini, kami jadi sering bertengkar. Andai aja bisa aku hitung, setidaknya sebulan atau dua bulan sekali kami bertengkar. Lalu, saling mendiamkan satu sama lain.

Namun, ada beberapa hal yang kusadari selama bertengkar dengannya.

Aku...nyaman menunjukkan sisi-sisi ini kepadanya, terutama ketika marah. Dalam kehidupan kampusku, hanya sekali aku menunjukkan kemarahanku dengan orang yang asing buatku. Sisanya, aku selalu berusaha memendamnya sehingga menjadi bom waktu.

Lalu, ketika bertengkar dan kami jadi berjarak, aku merasa nggak nyaman. Benar-benar nggak nyaman. Ketidaknyamanan itu membuatku back to my sense. Ketika awalnya aku benar-benar marah gitu, ketidaknyamanan itu menurunkan panas dalam hatiku. Aku jadi memikirkan ulang apa yang menjadi masalah di antara kami, sehingga cepat-cepat aku mendekatinya dan berkata, "Ayo bicara,".

Aku akhirnya menyadari satu hal: I really must deal with this problem. Tingkat emosionalku benar-benar tinggi dan itu akan merugikan banyak orang. Aku nggak ingin suatu hari ketika bertengkar dengannya, aku benar-benar marah sampai mengatakan sesuatu yang membuatnya pergi. Aku nggak ingin mudah jatuh diterpa angin. Aku juga ingin jadi orang yang...banyak tertawa dan tersenyum, juga santai melihat kehidupan.

Orang itu mengajariku banyak hal kemudian. Caranya menghadapiku juga membuatku belajar mengenali tingkat emosiku. Well, dia hebat. Serius. Dia tidak mengenalku lebih lama daripada keluargaku, tetapi dia tahu bagaimana menghadapiku ketika sedang emosional. Dia mengajariku untuk tenang awalnya, lalu menurunkan emosi pelan-pelan. Banyak hal deh pokoknya.

Well, jangan bayangkan dia adalah orang yang lemah lembut ketika menghadapiku. Indeed, dia memang lemah lembut orangnya, tetapi ketika menghadapiku dia benar-benar galak. Dia menyentakku berkali-kali, tidak terhitung banyaknya. Galak pokoknya, serius.

Ya awalnya aku juga kesal balik dimarahi ketika aku sedang marah. Namun, ketika sudah back to my sense, aku sadar kata-katanya ada benarnya juga.

Karena semua itu...mungkin pada akhirnya kami saling mengenal satu sama lain lebih jauh. Dia tahu ada sesuatu yang kusembunyikan, entah hal itu bikin aku marah atau sedih,  just by looking at my face. Aku tahu dia sedang nggak enak hanya dengan sensing auranya (I mean, pokoknya kalau dia nggak enak, ketika di depan orang dia kelihatan banyak senyum gitu, entah kenapa perasaanku bilang kayaknya ada yang salah gitu).

Dia nggak tahu betapa besar dampak dari apa yang dia lakukan...mungkin?

Indeed, dalam prosesnya aku menemukan sendiri bagaimana berhadapan dengan tingkat emosionalku yang tinggi. Kalau sudah marah atau sedih, aku pasti memilih untuk tidur dengan lampu dimatikan. Atau ketika itu membebaniku sekali, sambil naik motor, aku akan bicara sendiri di jalan. Berteriak, kalau perlu, haha. Aku juga mulai rajin menulis buku harian lagi dan mengekspresikan perasaan-perasaanku secara tertulis.

Sehingga, perlahan aku tahu bagaimana mengungkapkan kemarahan atau kekecewaanku tanpa meninggikan nada bicara. Aku mulai banyak tersenyum dan tertawa. Aku pun mulai tahu bagaimana melakukan manajemen stres. Aku mulai bisa meng-handle lebih banyak pekerjaan di waktu yang sama.

Bagaimana pun aku bisa menemukan kuncinya berkat bantuannya. Berkat kesabarannya. Berkat pengertiannya. Ketika pada akhirnya Mama berkata kepadaku, "Nis, kamu banyak berubah ya sekarang,", aku ingat bahwa ini karena bantuannya juga. Karena dia menggedor tembokku begitu keras ketika aku takut dan terlalu alert

Jadi, menutup 2018 ini, aku ingin berterima kasih secara khusus kepadanya.

Indeed, ada banyak orang yang pernah dekat denganku. Namun, mungkin karena kita sering bertemu, karena kita sering curhat, atau karena kita sering bertengkar, kamu jadi memahamiku. Tahu apa bedanya di balik jawaban, "Ya, terserah," ketika kita chat, apakah sedang marah atau sibuk. Tahu apakah aku sedang sedih, bingung, atau marah hanya dengan melihatku sebentar.

Aku...belum menjadi yang terbaik. Mungkin, aku belum tahu bagaimana memahamimu dengan baik. Mungkin, aku belum memberikan the best of me. Rasanya aku lebih sering membuatmu jengkel dan marah ketimbang membantu dan melegakan. 

But, you've been a great friend all this time.

So, thank you very much.

Arigatou gozaimasu.

Saranghamnida, chingu-ya.

Aku akan menjadi lebih baik lagi di tahun 2019. Agar kamu bisa mengandalkanku juga. Agar aku juga bisa menjadi back-up untukmu juga. 

Kalau kamu membaca ini, ayo kita lakukan banyak hal lagi tahun depan. Kita cari kafe yang enak dan murah. Kita cari film yang bagus, lalu minum teh bersama setelahnya. Kita belajar bareng dan diskusi lagi kalau ada hal-hal menarik di kelas. Kita lakukan deep conversation lagi. 

Sekali lagi, terima kasih banyak untuk segalanya, my dearest best friend.

My gratitude to you is beyond words.






Anissa Antania Hanjani   

Komentar