My Life in 2018: MAFINDO, My Second Homies

Berhubung sudah lama sekali tidak menulis, aku ingin memulainya dari sesuatu yang ringan-ringan dulu. Aku akan mencoba cerita apa saja yang kulakukan di tahun 2018 ini. Yaa...berhubung udah mau tutup tahun juga, kan? Sekalian flashback nggak sih, hahaha.

Well, tahun 2018 ini kuawali dengan bergabung dalam komunitas melawan hoax, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO), untuk pertama kalinya. Indeed, aku sebenernya udah kenal MAFINDO sejak ikut acara mereka yang waktu itu mengundang Gus Mus, Pak Ganjar Pranowo, dan Kapolda Irjen Condro Kirono di Wisma Perdamaian. Aku udah kenal koordinator MAFINDO Semarang waktu itu, Om Farid Zamroni, dan ketua umumnya, Mas Septiaji Eko Nugroho, di sana juga dan kami sempat mengobrol. But, aku baru masuk ke MAFINDO Semarang di tahun 2018 ini.

Foto pertama kali dengan Om Farid dan Mas Aji a.k.a. Muhammad Jawy selepas sarasehan dengan Gus Mus, but waktu itu belum jadi anggota MAFINDO. Inget banget bela-belain aku naik bus ke Tugu Muda dari kampus waktu itu HAHAHA, soalnya belum bisa naik motor, sih


Nah, di awal tahun ini karena waktu itu mau mengirimkan essay tentang komunikasi dan informasi di era posmodern, aku memutuskan buat mencoba mengontak MAFINDO lewat temanku, Aldin, dan Mas Septiaji. Sambutan mereka hangat banget, btw, dan tahu-tahu aku dimasukkan ke grup WA MAFINDO Pusat dan MAFINDO Semarang Raya. FYI, biasanya memang ada beberapa grup WA gitu sih di MAFINDO, kalau MAFINDO Pusat itu anggotanya kayaknya udah ratusan gitu dan isinya relawan dari seluruh Indonesia, sementara MAFINDO Semarang Raya isinya relawan dari Semarang dan sekitarnya.

Kebetulan aku bergabung di MAFINDO dalam momentum yang benar-benar pas. Waktu itu ternyata mereka akan menyiapkan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I yang rencananya diadakan di Magelang. I think karena masih mahasiswa gitu kan, aku dimasukkan ke kepengurusan Komite Pemuda dan Pelajar. Sebenarnya ada 6 atau 7 komite gitu kan (aku lupa, pardon me, hahaha), salah satunya Komite Pemuda dan Pelajar, yang kemudian nanti rapat bersama waktu Rakernas I di Magelang.

Momen mengesankan pertamaku di MAFINDO ya waktu Rakernas I di Magelang. Kan relawan MAFINDO di seluruh Indonesia mengirimkan perwakilan gitu, jadi seru banget deh pokoknya! Di sini pertama kalinya aku kenal Mbak Anita Wahid (putri Gus Dur yang ketiga) dan Tante Ratih Ibrahim, psikolog yang keren. Untuk pertama kalinya aku juga ketemu beberapa orang yang selama ini kukenal lewat Facebook doang, seperti Bu Niken, Om Bonny, Mas Tommy F. Rumengan, Om Harry Sufehmi, Om Aribowo, Mami Rini, dan wuah banyak banget sampai nggak mungkin disebutin semua, hahaha. Di sana, MAFINDO daerah memperkenalkan relawan-relawannya. Seru tuh, soalnya tiap daerah punya jargon masing-masing dalam melawan hoax, hahaha. 

 Nah, ini nih waktu tim MAFINDO Semarang perkenalan di Rakernas. Rasanya campur aduk gitu waktu berdiri sebagai newbie buat pertama kalinya di depan relawan MAFINDO seluruh Indonesia. Like, gila...rasanya gini ya bisa kenal banyak relawan yang hebat

Nah, di Rakernas ini juga Hoax Buster Tools (HBT) diluncurkan untuk pertama kalinya. Menkominfo, Pak Rudiantara, datang sendiri lho waktu itu! Beuh, gila rasanya thrilling gitu bisa ketemu orang penting dari jarak dekat begitu. Pendopo yang menjadi venue kan kecil banget tuh, jadi aku bisa melihat Pak Menteri dan Mas Aji dari jarak dekat waktu meluncurkan aplikasi HBT pertama kalinya. Oh ya, aplikasi ini fungsinya untuk membantu kita mencari kebenaran berita dan sekarang tersedia gratis di Google Playstore untuk pengguna Android ya!

Ini nih momen waktu Menkominfo Pak Rudiantara dan Mas Septiaji meluncurkan HBT. Ada Om Harry juga di situ sebagai kreator aplikasi ini (Foto diambil dari Kompas.com)


 Ini nih aplikasi Hoax Buster Tools (HBT). Bisa diunduh di Google Playstore buat pengguna Android ya, guys!

Namanya juga Rakernas, ya isinya rapat dan materi gitu. Materi serius-serius, deh! But, seru banget Rakernas ini meski diisi rapat dan materi. Nggak tahu kenapa ya, vibe-nya beda banget gitu dari rapat-rapat organisasi lain yang biasanya diikuti, mungkin karena suasana kekeluargaan di sini terasa banget. Rakernas ini sampai larut malam banget, kalau nggak salah sampai sekitar jam 11-12 malam karena ada rapat komite. Namun, karena aku kebanyakan minum kopi waktu itu, akhirnya waktu udah jatahnya istirahat dan tidur malah nggak bisa tidur, hahaha. 

Kegiatan keesokan harinya pas Rakernas diawali pada jam 4 pagi. Kami berangkat naik truk bareng-bareng ke Punthuk Setumbu untuk mengikuti kegiatan sunrise anti-hoax. Bayangin ya, sedingin itu pagi-pagi kami harus naik ke Punthuk Setumbu buat lihat sunrise. Yaa...itung-itung olahraga nggak, sih?

Namun, capeknya naik ke Punthuk Setumbu subuh-subuh terbayar lunas, dong! Sunrise-nya bagus banget subhanallah! Ini pertama kalinya buatku juga melihat sunrise pagi-pagi dari spot yang tinggi, jadi secara nggak langsung ini mencoret satu dari daftar My 100 Dreams yang dulu pernah kutulis waktu SMA. Senang, senang, senang!

Untungnya sempet kufoto nih cantiknya sunrise di Punthuk Setumbu waktu itu. Sumpah ya ini unforgettable banget momennya!

Ketika udah sunrise, kami melakukan deklarasi anti-hoax di Punthuk Setumbu, dilanjutkan dengan gowes mengitari daerah tersebut. Seneng dong bisa gowes bareng-bareng! Ditambah, aku udah lama banget nih nggak main sepeda gitu kan, jadi pas gowes aku sok-sokkan dong mengayuh pedalnya kencang-kencang. Lucunya habis itu aku ketinggalan jauhhhhhhh banget di belakang karena udah kecapekan. Malu banget, hahahaha.

Deklarasi Anti Hoax di Punthuk Setumbu. Benar-benar momen yang unforgettable banget!

Pasca Rakernas itu, ada beberapa agenda yang dilakukan MAFINDO Semarang. Jeda satu bulan setelahnya, kami rapat dengan Kabid Humas Polda Jateng untuk melakukan deklarasi anti hoax di CFD Jl. Pahlawan. Rapat pertama kami dilakukan H-1 sebelum acara di Restoran De Lasco, Tembalang. Nggak banyak persiapan waktu itu, tetapi alhamdulillah semua berjalan lancar waktu kami deklarasi di CFD. Dua kali sih deklarasi itu dilaksanakan dan semuanya berkesan. Senang sekali buat terlibat pertama kalinya dalam kegiatan MAFINDO Semarang.

 Bersama Kapolda Jateng, Irjen Polisi Condro Kirono, setelah deklarasi anti hoax. Berkesan banget dong bertemu Pak Kapolda secara langsung pertama kalinya.

Deklarasi Anti Hoax kedua bersama Polda Jateng, bertepatan dengan pembukaan pendaftaran taruna Akpol. Pertama kali rasanya awkward gitu berdiri di keramaian, lama-lama akhirnya biasa juga


Agenda ketiga kami masih bersama dengan kepolisian juga, tetapi kali ini di Polrestabes Semarang. Kami diminta mengisi materi seputar pemberantasan hoax dalam pelatihan literasi digital untuk Ditbinmas, Bidhumas, Bid TI, dan Bhabinkamtibmas. Nah, karena kebetulan Om Farid dan Aldin waktu itu nggak bisa, aku ditunjuk untuk mengisi dengan Mas Andhika. 

Kaget? Iya lah!

Aku memang beberapa kali ikut lomba yang mengharuskanku bicara di depan banyak orang seperti debat, public speaking, dan speech, tetapi rasanya yang satu ini berbeda. Aku waktu itu masih newbie banget lah ya di MAFINDO dan sama sekali nggak ada pengalaman buat mengisi materi. Ditambah, audiensnya kali ini usianya jauh lebih tua dariku. Aku biasanya presentasi di depan teman-teman sebayaku doang, sekarang harus mengisi di depan bapak-bapak dan ibu-ibu polisi.

Deg-degan banget. Sumpah aku deg-degan banget waktu itu. Takut salah ngomong, menyinggung, aneh, kaku, awkward, pokoknya segala macam lah! Even sehari sebelum acara jantungku udah dag-dig-dug gitu. Rasanya semua orang bisa mendengar jantungku berdetak kencang banget. Adududuh...ditambah perutku udah mual banget rasanya. Campur aduk pokoknya!

But, penyelenggara acara menyambut kami ramah waktu itu. Some people even said, "Lho, ternyata masih kuliah S1, Mbak? Masih muda ya!". Yaa...aku mengerti, sih. Orang pasti berekspektasi yang mengisi materi lebih tua dari aku. Ya paling nggak seusia Mas Andhika lah yang jadi dosen di UPGRIS. Anyway, sambutan ramah dari penyelenggara acara mengurangi demam panggung itu. Membantu banget pokoknya.

Dan...meski rasanya masih kurang banyak di sana-sini, my first time menjadi pembicara bisa dibilang sukses lah!

  Indeed, deg-degan banget rasanya mengisi materi pertama kalinya sebagai newbie di MAFINDO plus audiensnya lebih tua dari aing, but seenggaknya ini awal yang baik!

Sejak mengisi agenda di Polrestabes Semarang itu, ada beragam kesempatan lainnya yang aku dapatkan untuk menjadi speaker di berbagai acara. Undangan berikutnya beberapa hari setelah ulang tahunku, tepatnya tanggal 19 Mei, untuk mengisi acara talkshow anti-hoax yang diadakan oleh UKM Peduli Sosial Undip di Transmart Setia Budi Semarang. Acara itu mungkin juga jadi radio talk show pertama buatku karena disiarkan langsung juga oleh beberapa stasiun radio.

Pertama kalinya mengisi talkshow dan rasanya...something banget! Ayu waktu itu datang dan masakin aku sesuatu buat buka puasa juga. Another unforgettable moments!

Jeda beberapa bulan, kami mendapat undangan buat mengisi talkshow yang disiarkan RRI Surakarta. Sebenarnya hanya Aldin saja yang diundang untuk acara itu, tetapi kami memutuskan datang bersama-sama sekalian main ke Solo. Yah, bisa main ke tempat Bu Niken sekalian, kan? 

Namun, beberapa menit sebelum acara dimulai, Bu Niken menawariku untuk ikut mengisi slot pembicara. Well, akhirnya aku mengambil kesempatan itu. First real radio talkshow for me, at least! Selama sejam kami berbincang-bincang seputar konten yang ada di media sosial, temasuk hoax, dan bagaimana cara bijak menanggapinya, dimulai dari lingkungan keluarga. 

Pertama kali masuk ruang broadcast radio tuh rasanya sesuatu. Jadi inget mimpi pertamaku sebelum masuk HI sebenernya adalah bergelut di bidang broadcasting dan film. Seru banget mengisi bincang radio, lho. Aku jadi ngerti gimana sih siaran radio itu sebenernya

Tiga agenda berikutnya kami mengisi di komunitas agama. Pertama, kami mengisi di agenda Dialog Lintas Agama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Semarang. Untuk pertama kalinya kami memutuskan untuk tampil dalam format tim. Jadi, meski yang dapat undangan itu Om Farid, kami tampil bersama-sama: Om Farid, aku, Aldin, Mbak Priska, dan Mas Basuki. 

Btw, agak deg-degan juga waktu mengisi di sini karena beberapa orang yang ada di sana kenal beberapa dosenku di kampus. Jadi inget aku secara nggak langsung bawa nama HI Undip di sini, hahaha. But, everything was fine!

Ruangan yang besar waktu mengisi di FKUB bikin deg-degan awalnya, tetapi orang-orang di sana ramah banget. Aku inget waktu makan siang dengan ketua dan pengurus FKUB, mereka ramah banget dan kami diskusi banyak hal di sana

Kedua, kami mengisi di agenda FGD MUI. Ini kedua kalinya kami mengisi satu slot penuh dalam sebuah acara di sana (sebelumnya di MAJT waktu ada undangan dari GP Anshor, tapi waktu itu aku nggak bisa ikut). Kami di sana bertugas sebagai pembicara sekaligus trainer. Awalnya sedikit canggung sih, karena sebagai trainer aku harus mendekati peserta face to face. Aku sebenernya awkward banget kalau sama orang baru, jadi bingung gitu awalnya buat ngomong harus gimana. 

Ya, tapi dari situ aku belajar banyak. Both as a speaker and as a trainer, I have to be professional, no matter what. Nggak peduli apakah aku ini orangnya aslinya kaku atau gimana, mereka harus mendapatkan hospitality yang baik karena ini lingkup profesional. Di sini juga aku belajar secara langsung komunikasi interpersonal yang baik harus bagaimana.

 Honestly, aku banyak takut di sini karena harus menghadapi peserta face to face, beda dari yang biasanya ngomong di panggung doang tanpa harus kontak langsung. But, thanks to this experience, I learned a lot!

Agenda yang terakhir bersama komunitas agama adalah yang paling berkesan bagiku sepanjang 2018. Why? Karena ini bakalan berbeda, jauh berbeda. Kalau di dua agenda sebelumnya kami mengisi di depan audiens yang mayoritas muslim, kali ini kami mengisi di GKJ Sidomukti Salatiga dalam rangka agenda Adven Natal. 

It was so great, I told you!

Awalnya ada beberapa keraguan dalam hatiku buat ikut mengisi karena tahun lalu aku sudah jadi hot topic, apalagi setelah memutuskan keluar grup alumni. Well, katanya mengecewakan agama lah, belajar agamanya gimana lah, berubah setelah masuk HI lah, macam-macam pokoknya. First time ketika aku tahu kalau banyak banget diomongin di belakang oleh beberapa teman dan guru juga, I was suffering from emotional break down and depression. Aku nggak keluar kamar selama seminggu, nggak kuliah selama seminggu lebih, rasa percaya diriku jatuh, nggak bisa berhenti nangis dan berkata, "You are worthless, Nis," ke diriku sendiri.

Ya sebelumnya aja udah seperti itu, apalagi kalau orang-orang tahu aku mengisi acara di gereja. Bakalan gimana lagi omongannya ya?  

Jadi, ketika tawaran agenda ini datang, ada beberapa pikiran dalam kepalaku juga meski antusias banget menerimanya.

Namun, aku perlu titik balik buat bangkit. Perlu banget. Selama ini aku memutuskan buat mengambil jalan yang jauh berbeda dalam politik dan pandangan beragama karena aku yakin ini benar. Jadi, rasanya aku nggak perlu lagi takut untuk melakukan sesuatu yang kuanggap benar. Aku sudah 20 tahun dan bebas menentukan jalan hidupku, so let them talk anything later. Aku nggak peduli lagi. Terserah deh mau ada omongan apa lagi setelah ini, yang jelas ini keputusanku dan ini jalan hidup yang sudah kupilih sendiri. Kesalahan besar kalau aku sampai jatuh lagi di jalan yang aku yakini benar.


Aku memutuskan agenda di GKJ Sidomukti adalah titik balikku.


Apa yang paling aku apresiasi pertama dari GKJ Sidomukti adalah hospitality mereka. Kami disambut dengan baik di sana oleh Pendeta Eben dan Bu Maya. Mereka bahkan meminta ijin ke kami ketika acara dirasa akan molor mulainya dan akan berdoa dengan cara yang berbeda dari kami.


Then, antusiasme di sana sama tingginya dengan acara-acara lain yang kami ikuti. Meski orangnya sedikit, ada banyak hal yang kami diskusikan bersama-sama. Terlebih, gereja ini bulan April lalu menjadi korban hoax lewat tuduhan pemurtadan di acara Paskah. Ckck, kadang heran aku sama orang-orang kok bisa sejahat itu.


  
 Ini narasi hoax yang dibangun untuk menuduh GKJ Sidomukti Salatiga dan sebelah kanan itu adalah berita sebenarnya. Aku sering dulu dapat berita-berita kayak gini. Jahat banget, serius


Aku sering dulu mendapat berita-berita sejenis ini. Iya, sering. Narasinya ya melakukan pemurtadan lah, kristenisasi lah, ada aja pokoknya. Aku kadang nggak bisa ngebayangin gimana ya rasanya berada di posisi pendeta dan pelayan-pelayan gereja itu, pasti nggak enak banget.


Jadi, dalam kesempatan itu, aku berkata, "Saya sering melihat narasi ini sering dituduhkan ke umat Kristiani, terutama tuduhan pemurtadan. Sebagai umat Islam, saya menyatakan keprihatinan karena ini sering sekali terjadi,".


Overall, agenda di GKJ Sidomukti ini menjadi yang paling berkesan buatku karena ini menjadi kesempatan pertama kami mengisi di tengah komunitas Kristiani, sekaligus titik balikku. Nyes gitu rasanya waktu Pendeta Eben menyalamiku dan berkata, "Terima kasih untuk pelayanannya ya, Mbak," dengan ramah. Terharu banget deh pokoknya karena mereka benar-benar considerate. Acara selesai ketika adzan Maghrib berkumandang dan mereka menyediakan ruangan bagi kami untuk melaksanakan salat. Even mereka menyediakan sandal gitu agar jangan sampai kaki kami kotor waktu ambil wudhu dan sampai nyariin kain bersih buat dijadikan sajadah. 

What an amazing moment here! Mereka ramah, baik, dan benar-benar considerate banget selama kami mengisi acara. Peserta juga antusias menyimak penjelasan. Aku kehabisan kata-kata pokoknya buat menjelaskan betapa unforgettable-nya momen ini!


Selain mengisi acara, aku juga menjalankan fungsi organisasi juga selama bergabung dengan MAFINDO. Setengah tahun pertama aku masih tergabung sebagai relawan, jadi nggak banyak kegiatan. 


Namun, semua berubah di pertengahan tahun. Antara bulan Juli-Agustus gitu, yang jelas sebelum kami mengisi acara di FKUB.


Suatu hari di antara dua bulan itu, aku, Pak Fadjar, Aldin, dan Om Farid rapat di Restoran De Lasco, Tembalang. Aku lupa sih apa agenda utama yang kami bicarakan, tetapi yang jelas kemudian Om Farid menyampaikan bahwa MAFINDO Pusat mengadakan perombakan organisasi. Om Farid ditarik menjadi presidium MAFINDO, sehingga koordinator Semarang harus ganti. Pak Fadjar ditunjuk sebagai koordinator baru menggantikan beliau. Namun, karena kesibukan Pak Fadjar sebagai dosen di Fakultas Planologi Undip, Om Farid akhirnya memutuskan membuat posisi sekretaris. Menurut beliau, posisi sekretaris ini penting karena akan membantu koordinator menjalankan fungsi-fungsi MAFINDO Semarang yang lain. 


"...dan saya sudah memikirkan siapa yang mengisi posisi sekretaris ini," Om Farid kemudian menatapku. "Antania, kamu ujung tombak dari organisasi ini. Kamu kuliah di fakultas yang tepat dan sesuai dengan misi organisasi kita. Kamu juga punya banyak potensi yang bisa dikembangkan selama saya mengamatimu mengisi acara. Jadi, saya pikir Antania yang akan mengisi posisi sekretaris,".


Aku hampir tersedak ludahku sendiri mendengarnya.


Rasanya surprised banget. Bukan karena excited atau apa, tetapi justru deg-degan. 

Oke, emang aku banyak deg-degan selama di MAFINDO karena selalu banyak hal pertama yang kudapatkan di sini, hahaha.

Campur aduk banget perasaanku waktu itu. Pertama, karena selama ini ketika berorganisasi, aku hanya sampai di fungsionaris. Jadi kadiv atau kabid aja belum pernah, tahu-tahu sudah ditunjuk jadi sekretaris. Intinya, pengalamanku belum banyak untuk posisi itu. Ditambah, waktu itu aku masih sering sekali meragukan diriku sendiri. 

Meski hesitate banget waktu itu, atas dorongan orang-orang yang datang juga waktu itu, akhirnya aku mengambil posisi itu.

Namun, dalam berjalannya waktu, aku nggak pernah sendirian dalam menjalankan fungsi sekretaris itu. Aku banyak dibantu Aldin, Mbak Priska, dan Mas Basuki selama bekerja. Well, seru banget kalau kerja bareng mereka. Ada beberapa kesempatan di mana pekerjaan kami seharusnya di-handle 10 orang, tetapi kami berempat bisa menyelesaikannya. Mereka bertiga enak banget pokoknya kalau diajak kerja. Ritme kerjanya menyenangkan, suasananya santai, tetapi tetap serius.

Karena seringnya kami berempat ketemu bareng buat kerja komunitas, kami membuat grup WA sendiri yang kunamai Proletar MAFINDO Semarang, hahahaha.

Proletar MAFINDO Semarang. Seru banget sumpah kalau kerja sama mereka. Guyon iya, kerja iya. Ya nggak kayak rapat gitu kalau lagi rapat, malah kayak kongkow biasa akhirnya hahaha (dari kiri ke kanan: aku, Mas Basuki, Aldin, dan Mbak Priska)


Ada banyak banget hal-hal pertama yang kudapat selama menjadi relawan MAFINDO. Jadi pemateri lah, jadi trainer lah, jadi sekretaris lah, dan lain sebagainya. Hal-hal itu yang bikin aku belajar banyak bagaimana memanajemen organisasi agar terus berjalan, bagaimana berkomunikasi interpersonal, bagaimana membuat time management yang baik, dan lain sebagainya. Satu tahun yang sangat memorable dan menyenangkan pokoknya.

Ditambah, selama di MAFINDO ini ada dua dari daftar My 100 Dreams yang akhirnya bisa kucoret. Pertama, lihat sunrise tadi. Kedua, menjadi pembicara yang diundang ke mana-mana.

Dulu waktu SMA, sering banget aku menatap kagum kakak-kakak yang diundang sekolahku buat mengisi acara motivasi. Mereka keren banget waktu bicara di depan. Bisa menggerakkan hati orang lain gitu. Setiap melihat mereka, rasanya kepikiran, "Suatu saat bisa nggak ya aku seperti itu, jadi pembicara kayak mereka, diundang ke mana-mana?".

Hal itu akhirnya kucatat di daftar My 100 Dreams.

Dan...siapa sangka terwujud sekitar 4 tahun kemudian, bukan? Namun, itu juga bukan tanpa kerja keras juga, sih. Ada bagian capeknya harus menyiapkan materi dan koordinasi H-1 sebelum acara.

Capek? Iyalah! Apalagi kalau kerja komunitas itu berbarengan dengan aktivitas lainnya seperti kuliah dan asistensi di jurusan. But, I think, still, we make a great team together, jadi capeknya nggak terlalu terasa. 

Terima kasih banyak untuk semua kesempatan yang Anissa dapatkan! Rasanya, aku banyak berkembang setelah menjadi bagian dari MAFINDO.

Can't wait to make another memories in 2019 with you, guys!






 

Anissa Antania Hanjani  

Komentar

  1. Bagaimana cara bergabung menjadi relawan di Mafindo dan ikutan group WhatsAppnya?

    BalasHapus

Posting Komentar