Selamat Datang, Angan-Angan Dandelion!







Kalau firasatku benar, 3 tahun lagi kita akan bertemu.
Kalau dugaanku benar, 3 tahun lagi kita telah menemukan jalan masing-masing.
Kita akan bertemu lagi.
Sebagai diri kita sendiri.

Selasa, 1 Januari 2019, 0.23 dini hari.

Doki doki. Setiap debaran jantungku begitu kencang ketika mengingat betapa tahun-tahun ini kulewati dengan berbagai pengalaman. Lembaran baru lagi-lagi terbuka kencang di hadapanku. Tidak ada pilihan lain selain melangkah masuk.

Dan aku memang ingin sekali melangkah masuk.

Aku tersenyum mengingat tiap kalimat yang kutulis untuk banyak orang. Terutama ketika mengenang perpisahan dan pertemuan. Karena di sanalah pertemuan kebahagiaan dan kesedihan terjadi, dibalut benang takdir. Mengenangnya membuatku merasa kebaikan takdir menyertai tiap-tiap manusia. Karena di sanalah manusia belajar menghargai setiap waktu bersama yang terkasih.

3 tahun lalu aku menulis surat perpisahan untuk seseorang. "Bacalah ketika kamu berada di pesawat," pesanku kepadanya. Dia menurutiku. Surat itu dibacanya dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman. Untuk berpisah.

Kalimat terakhir surat itu selalu terngiang dalam pikiranku, tergemakan oleh tiap gores kenangan, dan terpatri dalam kelegaan.

3 tahun lagi, kita akan bertemu.

Benarlah ramalan itu. 3 tahun kemudian kami bertemu. Dengan jalan masing-masing.

Namun, dia bukan melihatku lagi ketika kami bertemu. Kulit luarku bukanlah seperti yang dia lihat 3 tahun lalu. Aku berganti kulit, berkali-kali, sampai akhirnya menemukan yang...cantik bagiku. Bukan baginya lagi.

Inilah jalanku.

Aku bukan lagi edelweiss yang menghilang begitu saja ketika dipetik tangan-tangan para pendaki. Aku adalah dandelion yang abadi. Dia yang ketika ditiup akan menumbuhkan lebih banyak lagi harapan baru.

"Aku ingin memberitahumu satu hal," kataku kepadanya. "Dengar. Kamu orang yang begitu berharga dalam hidupku. Kamu adalah...permata bagiku. Temanku berbagi mimpi. Sahabatku. Kesayanganku. Kebanggaanku. Namun, aku ingin kau mengenangku bukan sebagai edelweismu. Karena saat itu kaulah yang memilihku untuk menjadi edelweis. Tidak. Kali ini, biarlah aku memilih. Panggil aku dandelion,".

Kau tahu? Aku memikirkan...banyak sekali angan-angan yang bisa kutiup ketika angin begitu bersahabat.

Suatu hari nanti, Adam, aku ingin pergi shopping denganmu di Slovenia. Mendengarmu tampil bersama Batavia Madrigal Singers di Milan. Mengajakmu ke kafe yang cozy dan classy di Perancis. Makan siang denganmu di bawah pohon sakura di Kyoto. Makan street food terenak di Seoul dan Busan. Mengantarmu dengan jet pribadiku ke Amsterdam, lalu kita jalan-jalan di sana.

Suatu hari nanti, kimi, aku ingin mengajakmu ke London. Aku ingin menggenggam tanganmu tepat di London Bridge, memenuhi janjiku kepadamu. Lalu, aku ingin menggenggam tanganmu ke mana pun yang kau inginkan. Asal kau hidup bebas sebagai dirimu. Aku akan menghadiri pernikahanmu, di mana kau tersenyum bahagia. Aku akan mengunjungimu sesekali, mengajakmu pergi ke kafe-kafe yang menyenangkan di Albania. Kau akan membawa pasanganmu bersama, memperkenalkannya kepadaku, dan berkata, "Antania, aku sungguh bahagia dengan hidupku sekarang,".

Kau kemudian bertanya, "Di mana aku?".

Aku...akan berada di laboratoriumku. Aku akan duduk di taman sekitar Namsan Tower, memastikan janji temu dengan beberapa menteri untuk wawancara. Aku juga akan sibuk, sibuk sekali. Mengurus sebuah perpustakaan besar di mana kau bisa menemukan kimchi, hallyu, Konfusianisme, dan Sunshine Policy dalam sebuah indeks besar. Beberapa tahun kemudian, kau bisa melihatku kembali ke almamaterku dengan gelar guru besar, sedang mengajar di ruang C202 mata kuliah Politik Luar Negeri Korea. Aku akan menjadi dosen keren yang menggunakan hanbok di kelas dan tertawa-tawa. Sesekali kau akan menemukanku di meja kerja, sibuk mengoreksi paper sambil mengeluh betapa malasnya mahasiswa jaman sekarang.

Kau akan menemukanku di sana. Menikmati hidup. Menjadi wanita pemarah yang memikirkan bagaimana mahasiswanya lulus kalau malas-malasan konsultasi TA.

Pasanganku...entahlah. Mungkin aku belum akan bersama seseorang sampai usiaku 30 tahun. Mungkin juga aku membulatkan tekad hidup sebagai single mother yang mengadopsi anak perempuan. 

Yang jelas, laki-laki yang kupilih adalah...seseorang yang tepat bagiku. Kujanjikan itu.

Aku akan hidup dengan berani. Dengan atau tanpamu, aku akan memutuskan hidupku sendiri. Kita datang ke dunia ini sendirian. Kita juga akan meninggalkan dunia ini sendirian. Jadi, mengapa aku harus menunggumu?

Karena ini hidupku.

I want to live it to my fullest.



Anissa Antania Hanjani

Komentar