Senin, 24 Desember 2018
Meninggalkan kota Jogjakarta, mobil melaju kencang.
Dengan beban aneh di hatiku, turut serta.
Seraya melihat pemandangan dari jendela mobil, aku menarik napas panjang yang setiap tarikannya penuh gejolak. Kumolonimbus menggantung di langit siang itu, menghalangi sinar matahari yang kemungkinan akan begitu terik. Jalanan dipenuhi orang-orang yang sibuk bercengkerama dengan keluarga masing-masing.
Dalam suasana seperti itulah aku memasuki kedalaman bawah sadarku.
Menemui seseorang yang menungguku mengatakan sesuatu.
"Bukankah kamu menyukai Jogjakarta? Mengapa hari ini kamu datang kepadaku dengan wajah seperti itu?" tanya orang itu.
Aku tersenyum simpul.
"Oh ayolah, aku tahu kamu. Jogjakarta buatmu adalah segalanya. Kamu sangat menantikan perjalanan ini sampai tidak bisa tidur. Sekarang tiba-tiba kamu datang seperti orang habis dikuliahi," katanya.
Aku tidak segera menjawabnya. Aku ingin dia menebak langsung apa yang terjadi kepadaku. Biasanya tebakannya sangat jitu. 100% tepat.
"Kamu pasti datang ke sini dengan pikiran-pikiranmu, kan?" tebaknya.
"Bingo," ujarku.
Dia tertawa puas.
"Jadi," Dia mendekatiku. "Apa yang kamu pikirkan hari ini?".
"Rumit, kurasa. Aku bingung harus mulai dari mana,".
"Pelan-pelan saja kalau begitu. Kita akan punya banyak waktu mengobrol hari ini,".
Aku mengangguk.
"Well, baiklah," ujarku. "Aku...bingung. Entahlah, baru pertama kali rasanya seperti ini. Biasanya aku selalu yakin dengan keputusanku. Aku tidak akan membiarkan satu orang pun dalam hidupku untuk turut campur. Namun, sekarang aku benar-benar ragu keputusanku tepat,".
Seolah mengerti ini akan menjadi cerita yang panjang, dia menjentikkan jarinya. Sebuah taman dengan bunga-bunga, air mancur, dan kupu-kupu segera terbentang di hadapan kami. Dia kemudian menuntunku ke sebuah bangku putih di samping air mancur, lalu berkata, "Pemandangan yang indah akan membuatmu lebih rileks. Duduklah di sini,".
Aku tersenyum.
"Lanjutkan," katanya.
"Kamu sudah tahu betapa berartinya Jogjakarta buatku. Semua yang kuinginkan ada di sini. Komunitas yang dapat menampungku, perpustakaan besar dan bagus, buku-buku yang terjangkau, kafe yang murah dan menyenangkan, tempat wisata yang bisa kukunjungi kapan saja, museum yang keren...".
"Sebutkan semuanya," selanya dalam tawa.
"...orkestra yang bisa kutonton, galeri seni yang bisa kudatangi, ajang diskusi yang ramai, ah! Semuanya! Semua yang begitu kusuka dan tidak kutemukan di kota kelahiranku ada di Jogjakarta. Aku kadang sering berpikir betapa beruntungnya orang-orang yang berkesempatan belajar di sana. Ada begitu banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk mengembangkan diri dan semua itu ada fasilitasnya di sana,".
Dia mengangguk. "Lalu, kenapa? Bukankah karena itu kamu ingin melanjutkan pendidikanmu di sana? Orangtuamu sudah memberi ijin. Kamu didukung banyak pihak. Kamu tinggal menyelesaikan pendidikanmu di sini untuk memulai semuanya di sana. Ada masalah?" tanyanya.
"Aku...teringat sesuatu,".
"Dan? Apa itu?".
"Impianku yang...lama sekali ingin kuwujudkan, sesulit apapun jalannya,".
Ada jeda yang begitu hening di antara kami. Hanya gemericik air mancur yang terdengar dalam keheningan tanpa kata. Suara yang begitu membawa ketenangan untukku.
"Lanjutkan saja dulu," katanya. "Aku ingin tahu apa yang membuatmu ragu dengan keputusanmu. Tidak biasanya kamu begini,".
"Aku...menginginkan lebih dari ini, kamu tahu itu. Kamu tahu aku selalu ingin pergi. Kamu tahu aku begitu ingin melihat belahan dunia yang lain. Orang-orang juga ingin aku pergi lebih jauh. 'Ambilah S2 di luar negeri, Nis, lalu kembalilah ke sini,' begitu kata mereka. Aku pun ingin pergi. Naik pesawat ke tempat yang jauh sekali. Setelah 20 tahun, pada akhirnya aku tahu apa yang menjadi panggilanku: belajar, belajar, belajar. Aku ingin memuaskan rasa hausku. Aku nggak akan pernah puas hanya berada di sini. Aku ingin lebih, lebih dari ini,".
"Aku tahu kamu selalu begitu. Kamu...orang yang sulit dipuaskan. Dari dulu selalu begitu," tanggapnya.
"Namun, kamu tahu?" Aku tertawa. "Aku juga...tidak ingin pergi di saat yang sama,".
Pandangannya beralih dari air mancur ke mataku.
"Kamu takut?" tanyanya.
"Bodoh," Tawaku mengeras. "Kamu tahu aku tidak takut apapun kalau kita sudah bicara tentang dua hal: belajar dan merantau. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku pernah berada di kota yang begitu asing buatku selama 3 tahun. Aku ini seekor burung, hey, kamu sudah lupa? Aku tidak pernah takut terbang meninggalkan sarangku,".
Dia menyeringai.
"Aku...hanya merasa berat meninggalkan semuanya," lanjutku. "Aku baru 3 tahun kembali ke kota kelahiranku setelah merantau begitu lama. Selama 3 tahun ini, aku mendapat banyak hal yang begitu sulit kulepaskan begitu saja. Komunitas dan teman-temanku terutama,".
"Jadi? Itu biasa, kan?".
"Tidak, Bodoh. Jauh berbeda. Sulit rasanya meninggalkan sesuatu yang begitu kusuka. Terutama, jika dari pekerjaan itu ada banyak hal yang kudapatkan. Aku juga belajar di komunitas. Ditambah, mereka sedang menyiapkanku untuk sesuatu yang lebih besar dalam 1-2 tahun lagi. Itu membuatku semakin berat untuk pergi,".
Lagi-lagi, jeda yang begitu hening menyela kami dengan damainya.
"Aku mengerti sekarang kenapa kamu ragu," ucapnya. "Ah, tapi itu semua tidak membebanimu, kan?".
"Tidak, tidak. Itu hanya...membuatku berpikir ulang, mencoba bertanya lagi apa yang kuinginkan. Sesekali kita perlu pelan-pelan dan melihat sekeliling, kan?".
"Kau benar," Dia mengangguk.
"Aku hanya tidak ingin gegabah menentukannya. Keputusan yang kubuat akan memetakan ke arah mana tujuanku berikutnya,".
Dia memalingkan kepalanya ke arahku. Matanya menatap mataku dengan lembut. Jemarinya memainkan jemariku. Helaan napasnya yang harum begitu dekat denganku.
"Kamu...tidak berubah ya," Dia tersenyum. "Begitu...rakus?".
Segera tawaku meledak.
"Kamu tidak bisa mencari kata-kata lain ya? Bodoh," ledekku.
"Lalu apa?".
"Kurasa...ambisius," koreksiku. "Aku tidak pernah puas ketika satu hal sudah tercapai. Aku haus. Sangat haus. Ada keinginan dalam diriku untuk mencapai lebih dari ini. Keinginan itu seperti api yang sulit dipadamkan, begitu merah dan membara,".
"Apa itu untuk hasratmu sendiri?".
"Ya dan tidak," jawabku. "Kamu tahu sendiri sejak kecil aku selalu penasaran akan banyak hal. Berkat rasa penasaran itu aku nyaris membakar rumah dan membuat telur-telur di warung pecah. Aku ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berhenti muncul dalam pikiranku,".
"Oke, itu untuk jawaban ya. Kalau tidak?".
"Sudah 20 tahun berlalu. Aku juga sudah melewati banyak hal yang mengubah pandanganku. Aku melihat dunia yang kutinggali. Ada banyak hal yang membuatku senang, tetapi tidak sedikit juga yang menyakitkan. Tentang manusia terutama. Aku ingin mengubahnya menjadi lebih baik,".
Tatapan matanya yang lembut masih menyapuku. Sorotnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan oleh hal lainnya.
"Oke, kembali ke topik," Aku menyela kereta pikirannya. "Jadi, bagaimana?".
"Aku akan bertanya dulu sebelumnya. Satu hal saja," katanya.
"Boleh,".
"Bagaimana caramu mengambil keputusan ini nantinya? Dengan logika benefit and risk?".
Aku terdiam sesaat. Pertanyaan itu sulit juga. Aku sendiri saja masih ragu dengan keputusanku sekarang. Belum tahu ke mana akan melangkah.
Namun, ada satu hal yang...kutahu pasti.
"Mungkin...metode yang biasanya," jawabku. "Aku tidak akan membiarkan logikaku bicara untung-rugi,".
"Untuk keputusan sepenting ini?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu,".
"Kenapa?".
"Karena aku harus menekan sedikit rasa hausku," Aku tersenyum yakin. "Membiarkan rasa haus itu menguasaiku akan membuatku terburu-buru. Aku ingin menikmati setiap prosesnya. Aku ingin menikmati setiap momen yang kudapatkan, apapun keputusan yang kuambil nantinya. Aku ingin pelan-pelan kali ini,".
Beban-beban yang tadi kubawa lenyap perlahan-lahan. Sebuah keyakinan terbentuk menggantikannya. Kuat dan kokoh, dia bertengger menggenggam hatiku erat-erat.
"Aku tahu terkadang...bisa saja waktuku berhenti. Mungkin aku akan mati muda. Mungkin aku terpaksa mengakhiri ambisiku sebelum semuanya tercapai," ujarku. "Namun, itu hanya mungkin. Berarti, ada kemungkinan juga aku hidup lebih lama. Aku tidak ingin membuang waktu percuma. Aku masih muda. Jalan ke depan masih panjang,".
Dia menatapku lagi. Kali ini dengan senyuman penuh kemantapan.
"Aku ingin mati tanpa ada penyesalan, kalau memang begitu takdirnya. Aku akan membiarkan hatiku sendiri memilih. Setiap pilihan memang ada untung-rugi, tetapi...yang terpenting adalah menjalaninya dengan baik,".
Dia kemudian berdiri dan bertepuk tangan.
"Kau sudah menemukan jawabannya," pujinya.
"Ya," Aku mengangguk mantap. "Kalau begitu, aku harus pergi,".
"Baiklah,".
"Sampai jumpa lagi,".
"Ya, akan kutunggu kapanpun,".
Anissa Antania Hanjani
"Sebutkan semuanya," selanya dalam tawa.
"...orkestra yang bisa kutonton, galeri seni yang bisa kudatangi, ajang diskusi yang ramai, ah! Semuanya! Semua yang begitu kusuka dan tidak kutemukan di kota kelahiranku ada di Jogjakarta. Aku kadang sering berpikir betapa beruntungnya orang-orang yang berkesempatan belajar di sana. Ada begitu banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk mengembangkan diri dan semua itu ada fasilitasnya di sana,".
Dia mengangguk. "Lalu, kenapa? Bukankah karena itu kamu ingin melanjutkan pendidikanmu di sana? Orangtuamu sudah memberi ijin. Kamu didukung banyak pihak. Kamu tinggal menyelesaikan pendidikanmu di sini untuk memulai semuanya di sana. Ada masalah?" tanyanya.
"Aku...teringat sesuatu,".
"Dan? Apa itu?".
"Impianku yang...lama sekali ingin kuwujudkan, sesulit apapun jalannya,".
Ada jeda yang begitu hening di antara kami. Hanya gemericik air mancur yang terdengar dalam keheningan tanpa kata. Suara yang begitu membawa ketenangan untukku.
"Lanjutkan saja dulu," katanya. "Aku ingin tahu apa yang membuatmu ragu dengan keputusanmu. Tidak biasanya kamu begini,".
"Aku...menginginkan lebih dari ini, kamu tahu itu. Kamu tahu aku selalu ingin pergi. Kamu tahu aku begitu ingin melihat belahan dunia yang lain. Orang-orang juga ingin aku pergi lebih jauh. 'Ambilah S2 di luar negeri, Nis, lalu kembalilah ke sini,' begitu kata mereka. Aku pun ingin pergi. Naik pesawat ke tempat yang jauh sekali. Setelah 20 tahun, pada akhirnya aku tahu apa yang menjadi panggilanku: belajar, belajar, belajar. Aku ingin memuaskan rasa hausku. Aku nggak akan pernah puas hanya berada di sini. Aku ingin lebih, lebih dari ini,".
"Aku tahu kamu selalu begitu. Kamu...orang yang sulit dipuaskan. Dari dulu selalu begitu," tanggapnya.
"Namun, kamu tahu?" Aku tertawa. "Aku juga...tidak ingin pergi di saat yang sama,".
Pandangannya beralih dari air mancur ke mataku.
"Kamu takut?" tanyanya.
"Bodoh," Tawaku mengeras. "Kamu tahu aku tidak takut apapun kalau kita sudah bicara tentang dua hal: belajar dan merantau. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku pernah berada di kota yang begitu asing buatku selama 3 tahun. Aku ini seekor burung, hey, kamu sudah lupa? Aku tidak pernah takut terbang meninggalkan sarangku,".
Dia menyeringai.
"Aku...hanya merasa berat meninggalkan semuanya," lanjutku. "Aku baru 3 tahun kembali ke kota kelahiranku setelah merantau begitu lama. Selama 3 tahun ini, aku mendapat banyak hal yang begitu sulit kulepaskan begitu saja. Komunitas dan teman-temanku terutama,".
"Jadi? Itu biasa, kan?".
"Tidak, Bodoh. Jauh berbeda. Sulit rasanya meninggalkan sesuatu yang begitu kusuka. Terutama, jika dari pekerjaan itu ada banyak hal yang kudapatkan. Aku juga belajar di komunitas. Ditambah, mereka sedang menyiapkanku untuk sesuatu yang lebih besar dalam 1-2 tahun lagi. Itu membuatku semakin berat untuk pergi,".
Lagi-lagi, jeda yang begitu hening menyela kami dengan damainya.
"Aku mengerti sekarang kenapa kamu ragu," ucapnya. "Ah, tapi itu semua tidak membebanimu, kan?".
"Tidak, tidak. Itu hanya...membuatku berpikir ulang, mencoba bertanya lagi apa yang kuinginkan. Sesekali kita perlu pelan-pelan dan melihat sekeliling, kan?".
"Kau benar," Dia mengangguk.
"Aku hanya tidak ingin gegabah menentukannya. Keputusan yang kubuat akan memetakan ke arah mana tujuanku berikutnya,".
Dia memalingkan kepalanya ke arahku. Matanya menatap mataku dengan lembut. Jemarinya memainkan jemariku. Helaan napasnya yang harum begitu dekat denganku.
"Kamu...tidak berubah ya," Dia tersenyum. "Begitu...rakus?".
Segera tawaku meledak.
"Kamu tidak bisa mencari kata-kata lain ya? Bodoh," ledekku.
"Lalu apa?".
"Kurasa...ambisius," koreksiku. "Aku tidak pernah puas ketika satu hal sudah tercapai. Aku haus. Sangat haus. Ada keinginan dalam diriku untuk mencapai lebih dari ini. Keinginan itu seperti api yang sulit dipadamkan, begitu merah dan membara,".
"Apa itu untuk hasratmu sendiri?".
"Ya dan tidak," jawabku. "Kamu tahu sendiri sejak kecil aku selalu penasaran akan banyak hal. Berkat rasa penasaran itu aku nyaris membakar rumah dan membuat telur-telur di warung pecah. Aku ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah berhenti muncul dalam pikiranku,".
"Oke, itu untuk jawaban ya. Kalau tidak?".
"Sudah 20 tahun berlalu. Aku juga sudah melewati banyak hal yang mengubah pandanganku. Aku melihat dunia yang kutinggali. Ada banyak hal yang membuatku senang, tetapi tidak sedikit juga yang menyakitkan. Tentang manusia terutama. Aku ingin mengubahnya menjadi lebih baik,".
Tatapan matanya yang lembut masih menyapuku. Sorotnya seakan ingin mengatakan sesuatu, tetapi tertahan oleh hal lainnya.
"Oke, kembali ke topik," Aku menyela kereta pikirannya. "Jadi, bagaimana?".
"Aku akan bertanya dulu sebelumnya. Satu hal saja," katanya.
"Boleh,".
"Bagaimana caramu mengambil keputusan ini nantinya? Dengan logika benefit and risk?".
Aku terdiam sesaat. Pertanyaan itu sulit juga. Aku sendiri saja masih ragu dengan keputusanku sekarang. Belum tahu ke mana akan melangkah.
Namun, ada satu hal yang...kutahu pasti.
"Mungkin...metode yang biasanya," jawabku. "Aku tidak akan membiarkan logikaku bicara untung-rugi,".
"Untuk keputusan sepenting ini?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu,".
"Kenapa?".
"Karena aku harus menekan sedikit rasa hausku," Aku tersenyum yakin. "Membiarkan rasa haus itu menguasaiku akan membuatku terburu-buru. Aku ingin menikmati setiap prosesnya. Aku ingin menikmati setiap momen yang kudapatkan, apapun keputusan yang kuambil nantinya. Aku ingin pelan-pelan kali ini,".
Beban-beban yang tadi kubawa lenyap perlahan-lahan. Sebuah keyakinan terbentuk menggantikannya. Kuat dan kokoh, dia bertengger menggenggam hatiku erat-erat.
"Aku tahu terkadang...bisa saja waktuku berhenti. Mungkin aku akan mati muda. Mungkin aku terpaksa mengakhiri ambisiku sebelum semuanya tercapai," ujarku. "Namun, itu hanya mungkin. Berarti, ada kemungkinan juga aku hidup lebih lama. Aku tidak ingin membuang waktu percuma. Aku masih muda. Jalan ke depan masih panjang,".
Dia menatapku lagi. Kali ini dengan senyuman penuh kemantapan.
"Aku ingin mati tanpa ada penyesalan, kalau memang begitu takdirnya. Aku akan membiarkan hatiku sendiri memilih. Setiap pilihan memang ada untung-rugi, tetapi...yang terpenting adalah menjalaninya dengan baik,".
Dia kemudian berdiri dan bertepuk tangan.
"Kau sudah menemukan jawabannya," pujinya.
"Ya," Aku mengangguk mantap. "Kalau begitu, aku harus pergi,".
"Baiklah,".
"Sampai jumpa lagi,".
"Ya, akan kutunggu kapanpun,".
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar