Beberapa hari ini, memori-memori lama muncul begitu saja dalam pikiranku. Terkadang, dalam mimpi-mimpiku setiap malam. Aku bisa merasakan balutan seragam SMA menutupiku. Seragam OSIS yang begitu panjang, dengan dalaman celana panjang, dan jilbab yang menutupi dada. Sepatu flat seharga 20 ribu dan kaus kaki hitam putih yang selalu kukenakan. Tagname yang tidak pernah dijahit tertempel di sisi kanan jilbabku, hanya dilekatkan dengan jarum pentul karena terlalu malas.
Melihat diriku sendiri di kaca, pantulanku tersenyum lembut. Wajahku...entahlah, jauh berbeda. Ini bukan wajahku saat SMA dulu yang berjerawat. Ini...wajahku yang sekarang.
Aku kembali melihat lorong-lorong asrama yang terakhir kuingat. Lorong bercat hijau yang banyak barang. Bau cat. Bau makanan dari dapur asrama. Terkadang bau kotoran kucing dari pendopo juga kuingat.
Kamar musyrifah di ujung lorong dekat gerbang ke pendopo, aku masih bisa mengingatnya. Karena aku selalu mengendap-endap masuk kalau pulang terlambat di hari Sabtu siang.
Aku merasakan...sepertinya saat ini aku akan berangkat ke sekolah. Aku bisa merasakan bahuku menggendong tas lamaku yang terisi laptop lama dan buku-buku.
Kalau sekarang ini waktunya berangkat sekolah, seharusnya ini pukul 6 pagi, pikirku. Karena aku selalu berangkat sekolah jam segitu.
Dan ternyata benar. Jam tangan lamaku menunjukkan pukul 5.55 a.m.
Apa lagi ya yang terjadi kalau ini waktuku berangkat sekolah? Ah, seharusnya di kantong samping rok ada daftar titipan teman-temanku. Apa-apa saja yang harus kubeli di Warung Soto Bu Mul, seharusnya ada di situ.
Tiba-tiba aku bisa merasakan kantongku terisi kertas yang ternyata berisi daftar itu. Gorengan dan nasi ayam sambal.
Aku melangkah keluar perlahan menuju pendopo, lalu pergi meninggalkan gedung itu. Biasanya aku selalu pamit musyrifah sebelum berangkat sekolah, hanya saja...di dalam imajinasiku ini, entah mengapa gedung asrama sunyi sekali. Hanya ada aku di dalamnya.
Sekolahku berjarak beberapa meter saja dari gedung asrama. Hanya menempuh waktu perjalanan 5 menit jalan kaki. Kadang aku sedikit berputar karena melewati gedung asrama putra.
Apapun itu, yang jelas aku bisa mengingat jelas perasaanku setiap pagi ketika berangkat sekolah. Perasaan yang...sudah lama tidak kurasakan. Perasaan yang kubangun dari pagi ketika terbangun jam 3, lalu mandi dan beribadah.
"Pagi ini indah sekali ya, Chef? Mataharinya bersinar. Burung-burung di mana-mana," Aku bisa mendengar diriku sendiri bergumam. Lalu, mataku menutup dan aku bisa merasakan tiap tarikan napas yang ditarik dalam-dalam. "Udaranya segar sekali,".
Ah ya, aku ingat kenapa dulu suka sekali berangkat jam segini.
Karena aku suka suasana Banyuanyar di pagi hari. Begitu tenang, damai, dan sepi. Belum ada lalu lalang kendaraan. Karena aku suka sekali mengamati langit dan matahari dari jendela kelasku di lantai tiga.
Kapan ya terakhir kali aku keluar, berjalan santai, dan berkata, "Pagi ini indah sekali!" seperti dulu?
Aku tidak bisa mengingatnya.
Entah mengapa, aku ingin sekali sekolahku ada orang. Membayangkan orang-orang di dalamnya, siapa-siapa saja di sana. Ketika memikirkannya, orang pertama yang selalu menyambutku di pagi hari...
"Nis, kok udah sampai aja?".
"Kamu emangnya nggak pernah sarapan di asrama?".
"Kamu mau bantuin saya bersih-bersih? Sana lap kaca jendelanya,".
Ya, sepertinya Pak Marwan.
Jauh sebelum mengenal kafe, tempat tongkrongan favoritku adalah meja satpam Pak Win dan tangga menuju lantai dua, sebelah ruangan Pak Marwan dan Pak Win. Setiap kali terpikirkan olehku untuk mencari Mr. Izz, menceritakan sesuatu yang seru atau curhat, tempat-tempat itu selalu ada dalam benakku. Karena Mr. Izz biasanya di sana dengan Pak Win atau Pak Marwan.
Aku bisa melihat sekolahku. Berdiri kokoh dengan cat ungu-putihnya. Pak Marwan sedang bersih-bersih di depan, tersenyum jahil ketika aku memasuki gedung sekolah.
Kelas berapa aku sekarang?
Aku membuka bagian samping jilbabku untuk melihat badge. Tertera angka XII di lengan kanan atas. Berarti, kelasku di lantai tiga. Di samping perpustakaan.
Aku menaiki tangga menuju lantai tiga. Ke kelas lamaku yang masih bisa kuingat jelas juga. Meletakkan tasku di bangku paling depan.
Aku kembali turun ke lantai satu. Duduk di kursi sebelah tangga. Mengingat dan merasakan banyak hal. Siapa saja yang biasanya menyapa dan kusapa setiap pagi, siapa saja yang biasanya duduk dan bercanda denganku, siapa saja yang tidak terlalu kusukai.
"Good morning, Sir!" begitu ketika aku menyapa Mr. Izz.
"Good morning,".
"Apa?" begitu terkadang kalau berpapasan dengan Mr. Dimas di pagi hari.
"Good morning, Katy!".
Hey, iya. Dulu aku dipanggil Katy.
Baiklah, indikasi ketidaksopanan selalu terjadi ketika dengan Mr. Dimas. Selalu seperti itu. Ketika Mr. Dimas berkali-kali memaksaku untuk menggunakan 'saya' ketika mengobrol dengannya ("Be polite, Antania,"), aku selalu ngotot menggunakan 'aku' hanya karena teman-teman yang lain tidak diingatkan seperti itu. Hanya satu murid perempuan yang dikerasi Mr. Dimas di angkatan pertama: aku.
Dan aku? Bandel, seperti biasa.
Banyak juga yang kulalui selama diajar oleh beliau. Digeprek kertas sebendel ketika tidur saat jam pelajaran, lalu bangun dan disuruh menghapus papan tulis (dan aku melakukannya sambil cemberut). Menggantikan beliau mengajar sejarah.
Di kantor guru lebih banyak lagi. Dari membantu membuat legger sampai dibelikan macam-macam cemilan. Membantu bersih-bersih, lalu dibelikan Floridina...
Hey, balasan panggilan Katy ke beliau dulu juga Mr. Bear. Karena beliau galak seperti beruang grizzly.
Dari semuanya, entah mengapa Mr. Izz adalah yang paling sering kulihat akhir-akhir ini saat terlelap. Sedang menasihatiku sesuatu. "Antania, you are tough,", "Be brave, I know you,", dan lainnya. Mr. Izz lebih keras kepadaku juga ketimbang murid perempuan lainnya.
"Coba lihat Husna, misal, saya bercanda terus sama dia. Anak laki-laki banyak yang saya kerasi terus. Sama kamu beda. Kamu bisa dikerasi, bisa dibercandain,".
Ternyata...ada momen aku merindukan semua itu. Tahun ini adalah momennya.
Tidak banyak orang yang kurindukan. Segelintir saja. Pak Win, Pak Marwan, Mr. Izz, Mr. Dimas, Rifai, Yusuf Habibi...entah mengapa aku bisa ingat diriku yang tertawa terbahak-bahak dengan mereka. Momen-momen itu yang kurindukan.
Ah, suatu hari nanti aku pasti kembali.
Kembali menjadi diriku yang mengatakan betapa indahnya pagi ini, berjalan riang memikirkan apa yang bisa dilakukan di sekolah hari ini, tertawa, bercanda, dan...tentunya, mempelajari denyut-denyut kehidupan.
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar