Night Talks

Mobil melaju pelan dari Stasiun Poncol malam itu. Adikku terlelap tidur di jok belakang, sementara aku terjaga di jok depan. Menemani temanku yang menyetir malam itu.

"Besok aku pingin pergi sama dia," ujarku. "Eh bentar, kalau besok kita ke kafe, aku nggak bisa pesan minum, dong! Aku sedang diet!".

Iya, kalian tidak salah dengar. Aku sedang diet.

"Ya kamu pesan espreso dong, Mbak," timpalnya geli.

"Ha! Aku inget tuh dulu pernah pesan espreso di Antara Kata. Untung baristanya nanya aku pernah minum espreso atau nggak. Dia jadinya ngasih air putih. Gila, pait banget!".

Kami tertawa.

"Espreso harusnya kamu minum one shot kali, Mbak. Gimana, sih?".

"Ya baru tahu," tanggapku. "Yah, sementara aku diet nih, kan makannya jadi berkurang. Aku mau mengalihkan uangku buat yang lain. Aku...mau beli make up!".

Temanku sedikit kaget. Dia tahu dari dulu aku nggak peduli soal itu. Sama sekali. Aku nggak peduli berat badanku berapa atau apapun itu, yang penting bisa makan enak. Kadang aku pergi ke mana-mana dengan bare face tanpa sentuhan make up sama sekali.

Well, mendengarku tiba-tiba bicara soal make up dan diet, aku nggak heran sih kalau malam ini dia lebih banyak diam. 

"Tahu nggak, sih? Aku rasa dia benar," Aku mengingat anak laki-laki yang kutemui Senin kemarin. "Masyarakat kita tuh suka banget visual. Mau nggak mau, aku juga harus memenuhi itu. Nggak cukup punya otak, penampilan...ternyata memang harus oke,".

"Kalau aku sih orangnya simple, Mbak,".

"Iya, kan kamu cowok," Aku cemberut. "Cewek itu jadi cantik harus mahal. Kamu tuh ya, besok kalau minta istrimu jadi cantik, harus mau ngeluarin duit banyak. Buat make up. Buat perawatannya dia. Belum kalau pakai hijab. Mau pakai baju apa. Ha, ribet pokoknya. Nggak ngerti deh kenapa harus mahal banget buat jadi cantik,".

Kami tertawa. 

"Tahu nggak sih, buat acara yang tadi aja, aku diam-diam ambil make up base yang baru dibeliin Mama. Aslinya harus habisin yang lama dulu. Dari kemarin aku browsing tutorial hijab di YouTube. Gila ribet banget, tapi nggak tahu kenapa...aku pingin belajar gitu. Tadi kan sebelum ketemu kamu juga aku beli tisu di warung kan, tapi diam-diam aku beli eyeliner juga. Mama kan nawarin tadi mau naruh belanjaanku di kamar kan, aku langsung bilang nggak. Kalau ketahuan gawat," ceritaku seraya tertawa.

Kalau ingat gimana tadi siang aku siap-siap untuk acara hari ini, wah, ribet pokoknya. Aku memperhatikan sekali detail make up yang kupakai. Pagi hari usai mandi, aku mendinginkan wajahku dengan sendok dingin (tipikal wajah berminyak soalnya). Aku belajar lagi tutorial hijab yang kubuka dari YouTube kemarin, kali ini dengan benar-benar memperhatikan bentuk wajah (biasanya...asal nyaman aja). Siang ketika mulai pakai make up, aku menggunakan kertas minyak sebelum touch up dengan bedak.

Astaga...ribet!

Namun, ketika melihat hasilnya, aku...cukup puas untuk percobaan pertama. Lumayan, batinku. Aku meminta penilaian Mama dan adikku sebelum pergi. Rasa percaya diriku tumbuh ketika mereka mengangguk dan aku kembali menatap cermin.

Dan rasa nyaman itu lama-kelamaan tumbuh sendiri seiring perjalanan ke acara tersebut. Senang sekali untuk pertama kalinya aku menyiapkan make up sendiri untuk acara yang penting.

Yaaa...biasanya nggak peduli kan ya, Nis?

Lagi dan lagi, malam ini aku kembali membuka situs-situs cewek untuk mencari rekomendasi produk yang bagus. Target produk berikutnya yang ingin kubeli adalah setting spray dan concealer. Eh, kurasa setting spray lebih emergency deh sekarang. Besok akan kubeli...diam-diam, hahaha.

Jadi, Nis, sekarang kamu mulai tertarik, tidak, sangat tertarik dengan produk-produk seperti itu. Apa definisimu soal "tampil apa adanya" berubah?

Tetap tidak, kurasa. Ketika hari ini melihat-lihat produk-produk di bawah seratus ribu, aku optimis bahwa ini yang affordable buatku. Kurasa, mentang-mentang sekarang mulai suka melihat review produk make up yang bagus, aku...tidak akan kalap. Kalau ada yang murah, ngapain beli yang mahal? 

Setidaknya, selama pikiran itu masih ada dalam kepalaku, aku akan baik-baik saja.

Sebenarnya, inti make up itu untuk menutupi kekurangan kita, kan? Intinya itu saja. Hanya untuk membuat visual menarik, bukan ajang pamer.






Anissa Antania Hanjani

Komentar