The Imaginary Conversation (2): The Past and The Future

Wuusshhh...

Sebelum menyadarinya, sekelilingku berubah dalam satu kedipan. Kali ini terbentang di hadapanku sebuah taman ria dengan komidi putar yang warna-warni, di bawah langit biru yang bersih tanpa awan. Bau manis gulali dan pop corn semerbak di mana-mana.
Namun, di sana hanya ada aku. Taman ria itu begitu sunyi.

Kecuali...

"Hey, imajinasimu kali ini bagus juga! Kamu sedang ingin liburan ke taman ria ya?" tanya suara bass yang begitu akrab di telingaku.

"Begitulah," Aku tersenyum.

Dia berayun-ayun di salah satu kuda putih di komidi putar itu dengan jenaka. Senyumnya masih sama hangatnya seperti dulu. Aku mendekatinya, duduk di sebelahnya, di atas kuda cokelat.

"Tumben kamu nggak aktif di media sosial belakangan. Apa kejadian Rabu kemarin memukulmu?" tanyanya lagi.

"Yah, sedikit-banyak, tapi bukan itu alasannya," ujarku.

"Kenapa?".

"Entahlah, sepertinya aku sedang ingin istirahat saja. Pakai WhatsApp seperlunya saja kalau ada kerjaan atau..." Aku terkikik. "...kalau dia tiba-tiba ngabarin udah sampai Semarang,".

"Hoo..." Dia menjawilku.

Aku tertawa. "Ya gimana, udah lama nggak ketemu kan. Setahun lebih, sih. Aku juga penasaran dia seperti apa sekarang,".

"Oke, oke,".

Komidi mulai berputar perlahan, seakan membawaku kepada sebuah perjalanan.

"Jadi, apa rencanamu tahun ini?" tanyanya.

"Entah," Aku berayun di atas kudaku, menatap langit biru. "Mungkin...fokus belajar saja? Aku juga tidak ingin banyak main seperti tahun lalu,".

"Ho, tidak akan nongkrong ke kafe? Demi apa?".

"Hoho, tidak semudah itu, Ferguso," jawabku usil. "Tetap nongkrong di kafe, lah. Kalau perlu saja. Misal, perlu ganti suasana belajar atau kerja. Juga bisa tuh kalau lagi pingin sendirian,".

"Lalu, kamu menyerah begitu saja soal...um...".

"Tidak dan iya," potongku cepat. "Tidak, karena aku tahu orang-orang itu berharga. Iya, karena aku akan membiarkan mereka yang terakhir melihat pintu itu,".

Dia tiba-tiba menatapku sedih.

"Hey, jangan sesedih itu. Ini keputusanku," Aku segera menghiburnya. "Kamu tahu, rasanya ada yang aku lupakan selama setahun kemarin. Hal itu...adalah kesendirian. Aku lupa betapa senangnya sendirian. Juga...aku memang selama ini lebih solitude ketimbang jadi kupu-kupu sosial. Jadi, seperti tiga tahun lalu juga nggak masalah. Toh, selama itu juga aku bukannya nggak bahagia sama sekali. Ada bahagia, meski tekanan ada. Ya, nggak apa-apa, toh itu juga pelajaran hidup yang berharga,".

Komidi itu baru menyelesaikan putaran pertamanya ketika suasana di antara kami disela oleh keheningan yang menenangkan.

"Aku rasa bukan itu alasanmu yang utama, kan? Ada hal lain yang kau pertimbangkan sepertinya. Sesuatu yang jauh lebih penting," tebaknya.

"Benar sekali. Tahun depan adalah tahun terakhirku. Aku harus sesegera mungkin selesai kuliah. Ya bukan karena ambisius atau apa, kau tahu itu,".

"Oho, aku tahu,".

"Ya, aku nggak mau borosin uang Eyang dong," Aku mengedipkan mata kananku. "Aku nggak akan lupa berkat siapa aku bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi. Sepertinya Natal di tempat Budhe kemarin memberiku sentilan untuk...segera selesai sekolah,".

Dia tersenyum.

"Eyang Putri dan Eyang Kakung benar-benar...hebat. Melakukan apapun supaya anak-anaknya bisa sekolah. Sebisa mungkin anak-anak mereka harus sekolah tinggi-tinggi. Padahal, jaman dulu, orang desa mana ada yang berpikir supaya anaknya kuliah? Eyang Putri mungkin satu-satunya yang seperti itu di desanya. Meski kekurangan, Eyang berusaha gimana caranya agar gizi anak-anaknya terpenuhi dan mereka bisa sekolah, bahkan buku pun dibelikan. Papa, Budhe, dan Pakdhe semua jadi orang yang sukses," kenangku. "Rasanya, sekarang Papa juga mirip Eyang Putri, deh. Aku kalau minta macam-macam hal yang aneh, Papa nggak bakalan beliin. Coba misal aku datang ke kamar Papa gitu dengan daftar buku di keranjang akunku di online shop. Semahal apapun lho ketimbang permintaan anehku, Papa pasti bilang, 'Mana rekeningnya? Habis ini langsung Papa bayar'. Awesome, bukan?".

Kami kemudian turun dari komidi putar. Langkah kami tertuju kepada padang rumput tak jauh di dekatnya, di belakang tenda sirkus. Rerumputan yang penuh dengan bunga dandelion. Langit biru yang begitu bersih membuatku tak tahan untuk tidak berbaring di atas rerumputan dan menatapnya. Dia juga berbaring di sebelahku.

"Eyang Kakung juga luar biasa. Mulai dari nol, benar-benar nol, sejak beliau di Pendopo. Awalnya hanya berjualan es lilin keliling pasar, menikah dengan Eyang Putri. Aku tidak tahu banyak tentang itu sih, Papa jarang cerita tentang keluarga besarnya. Apa yang kutahu adalah sejak pindah ke Ungaran waktu aku masih kecil, mereka memulai bisnis kos-kosan. Dari awalnya hanya 8 kamar, sekarang sudah puluhan kamar sejak Eyang Putri meninggal. Selama 3 tahun sejak ditinggal Eyang Putri, uang hasil bisnis kos-kosan sudah sangat cukup buat Eyang Kakung menikmati hari tuanya dengan tenang...".

Genangan di pelupuk mataku memberiku jeda dalam bercerita. Seakan ada gulungan ombak tenang, air mata itu mengalir perlahan-lahan.

"Well, apa yang terjadi adalah...Eyang Kakung tidak pernah menggunakan uang itu. Semuanya beliau tabung untuk membiayai kuliahku, adikku, dan sepupuku. Aku juga jarang melihat beliau seharian di rumah. Beliau pasti ke kos-kosan, mengolah lahan supaya bisa dibangun kamar lagi. Begitu terus sampai beliau akhirnya...benar-benar pergi,".

Langit biru masih menemaniku dengan kesetiaannya.

"Jadi, Nis?".

"Jadi? Jadi, aku ingin fokus kuliah dan kerja karena itu," ujarku. "Aku bersyukur sekali Natal kemarin Papa dan Budhe asyik bernostalgia soal Eyang Kakung dan Eyang Putri. Aku jadi mengerti kenapa...sesulit apapun, Papa selalu bilang kepadaku kalau uang buat sekolahku pasti ada,".

Natal lalu, seusai mendengar cerita-cerita itu, aku terdiam penuh takjub kepada orangtua Papa. Orang-orang yang jarang kudengar ceritanya, tetapi di balik semua itu ternyata beliau benar-benar luar biasa.

"Nisa, kamu beruntung lho," kata Pakdhe. "Kamu cucu yang istimewa. Lihat tuh orangtuanya papa dan mamamu semuanya mementingkan pendidikan,".

Makanya, segeralah selesaikan sekolahmu, batinku kepada diri sendiri.

Ya itu memang harus.

Gerakan angin sepoi-sepoi meniup rambutku yang pendek sebahu. Bunga dandelion beterbangan dibawa belaian angin itu, membuat pemandangan di sekitar rerumputan begitu menakjubkan. Seakan aku melihat harapan baru terbawa ke dunia yang baru pula.

"Aku...banyak melakukan evaluasi juga. Tahun lalu, terlalu banyak hal yang membuatku gelisah dan menangis, sehingga aku kurang fokus belajar. Aku tahu...butuh banyak kekuatan untuk menjaga agar emosiku yang besar ini tidak sampai mempengaruhi banyak hal. Pertemanan. Belajar. Karena belum punya kekuatan itu, mungkin...ini jalannya sementara. Sendiri mungkin lebih baik. Dengan begitu, aku bisa menepati janjiku ke Eyang Kakung untuk lulus segera,".

"Ho, mau jadi ansos, nih?" godanya.

"Beda, geblek," Aku tertawa. "Ya biasa aja. Bedanya paling nggak banyak main, nggak banyak deket sama orang, biar nggak banyak drama. Mereka tenang, aku juga tenang. It's win-win. Aku juga...belum punya kekuatan buat hold besarnya emosi yang kupendam. Sementara sendiri nggak masalah, kan? Dia juga bilang...tenang sekali tanpaku,".

"Hey...".

"Aku tahu, iya. Lupakanlah soal kemarin-kemarin itu. Ambil pelajarannya dan kita harus ke depan," Aku bangkit dari pembaringanku. "Entahlah, aku sedih juga karena dikira posesif. But, apa yang harus digarisbawahi adalah...selama ini interpretasi satu dengan yang lain berbeda, itu saja. Nggak ada yang jahat. Semua orang ada benar dan salah. Ada bagian yang aku rasa itu benar, aku masih harus belajar. Ada bagian yang salah juga dan membuatku sedih karena sebenarnya nggak gitu. Sekarang, lebih baik aku fokus kembali ke akademik. Susah-susah juga sampai ke tahap ini, aku harus lebih fokus,".

Aku berdiri. Menatap horizon baru di ujung rerumputan yang hijau.

"Jadi, aku pergi dulu. Nanti aku akan belajar banyak hal lagi. Aku janji," Aku tersenyum. "Adios, mi amigo!".





Anissa Antania Hanjani

Komentar