"Kamu mau mendengarkan aku kali ini?" tanyaku kepadanya di sebuah ruangan putih. Dalam imajinasi yang kosong dan ruangan yang tidak hidup.
"Ya, tentu,".
"Tahun ini, aku ingin belajar soal...kecerdasan emosional. Bagaimana bisa memahami perasaanku dan perasaan orang lain. Aku ingin terkoneksi dengan semua itu. Karena, kurasa, selama ini aku hanya bisa merasakan. Sensing, with nothing much deeper than that. Aku ingin memahami kenapa ada sesuatu yang tiba-tiba membuatku marah, kesal, dan sedih, sehingga bisa kuantisipasi. Aku ingin lebih dari sekadar merasakan. Aku ingin bisa melakukan sesuatu setelah sensing apa yang dirasakan orang lain. Dengan tepat, tentu saja,".
Dia menatapku sungguh-sungguh. Kurasa dia tahu aku membalik alur ceritanya. Aku menceritakan bagian akhir kisahku, baru melompat ke awalnya.
"Well, ini bukan karena narsisme atau apapun sih, tetapi entah mengapa aku menemukan sesuatu yang beresonansi dengan apa yang kurasakan dan membantuku refleksi diri. Jadi, kau tahu, aku menemukan video ketika browsing YouTube berjudul 10 Reasons Why Smart People Are Often Unhappy. Well, tanpa perlu menulisnya di komentar, aku merasa...ini semua yang bisa menjelaskan apa yang kurasakan akhir-akhir ini, kau tahu?".
"Apa saja itu?".
"Overanalyzing situation, misalnya...".
Sebuah gelembung muncul di ruangan itu, menunjukkan segala situasi bagaimana aku terlalu banyak menganalisa apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
"...atau a very hard self-criticism...".
Gelembung lainnya muncul dengan bunyi "Pop!". Dengan aku...yang terus menyalahkan diri untuk kesalahan bertahun-tahun yang lalu di dalamnya. Adegan lain, aku yang terus berpikir, "Ini salahku, salahku, salahku," dalam berbagai situasi bermunculan.
"...then, hard to lower high expectation...".
Satu gelembung lain melayang. Aku dengan ekspresi kecewa bermunculan di dalamnya. Aku meringis. Sering sekali terjadi, batinku. Aku menaruh standar tinggi kepada orang lain dan ketika itu tidak tercapai, aku akan benar-benar kecewa. Relationships, works, friendships, in daily life, dalam semua situasi itu.
"...terkadang, making irrational decision...".
Gelembung yang lebih kecil datang. Aku dengan segala keputusan yang terkadang hanya didasarkan intuisi ada di dalamnya.
"...dan yang paling sering adalah being misunderstood,".
Gelembung terbesar melayang ke udara dengan lamban. Dengan adegan-adegan di mana aku harus menjelaskan banyak hal kepada orang lain karena...they don't get it. Gelembung yang paling kubenci di antara semuanya.
"Oke," Dia mengangguk takjub melihat ruangan itu sekarang dipenuhi gelembung. "Sekarang, dari semua itu, mana yang paling sering kau rasakan?".
"Tentu yang terbesar, obciously. Karena itu yang paling melelahkan di antara semuanya. Menyebalkan, terkadang," jawabku.
"Kurasa kau melupakan satu lagi," katanya.
Gelembung lainnya datang. Ukurannya sedang, tetapi warnanya yang paling berbeda di antara semuanya: merah. Di dalamnya, aku bisa melihat diriku sendiri berjalan sendirian.
"Hard to engage even in a little conversation, aren't you?" Dia tertawa.
"Tidak sesering itu, tetapi...begitulah. Menyedihkan, ya?" Aku tersenyum miris. "Bukannya tidak bisa sama sekali, hanya saja situasi itu sering menyulitkan,".
"Aku mengerti sekarang kenapa kamu mau belajar kecerdasan emosional,".
Aku mengangguk. "Menghentikan self-criticism, menurunkan ekspektasi, tidak terlalu overthinking, dan menurutku yang terpenting...membuatku bahagia dengan kehidupan yang kujalani,".
Kami tersenyum.
"Sudah dulu ya. Aku belum sit up, nih,".
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar