What I've Learned from South Korea: To Indonesia, that Will Elect Their New President





Entah kenapa ya akhir-akhir ini aku berpikir negara-negara Asia Timur itu mengagumkan. Terkadang, aku berpikir mereka lebih mengagumkan daripada negara-negara Eropa dan Amerika dalam satu bidang yang krusial.

Hum, beberapa minggu terakhir ini kan aku menyiapkan proposal penelitian skripsi, nih. Skripsiku ini akan membahas Sunshine Policy yang dikeluarkan oleh Korea Selatan. Hal itu menuntutku buat menyelami secara dalam proses perpolitikan di Korea Selatan. Kok bisa sih keluar Sunshine Policy? Apa yang melatarbelakangi Sunshine Policy?

Yaa...untuk menyelami semua itu, aku harus membaca banyak hal. 

Hari ini aku membaca sekilas tentang pemerintahan Korea Selatan di bawah presiden-presiden mereka terdahulu. Dari jaman Syngman Rhee sampai Moon Jae-in. Well, their history is a bit complex, tetapi ada satu poin yang aku kagumi dari mereka, baik pemerintahan maupun rakyatnya. Satu hal yang menurutku krusial banget bagi negara yang terhitung masih muda (ya maksudku belum berabad-abad kayak Amerika Serikat atau negara-negara Eropa gitu, haha).

Hal itu adalah proses politik mereka yang...begitu dewasa, menurutku.

Kalau dari apa yang kubaca, well, memang banyak kudeta yang terjadi dalam proses politik mereka. Terhitung lebih banyak dari Indonesia lah yang cuma terjadi dua kali kudeta. Wajar sih, toh itu juga bagian dari politik. Namun, apa yang bikin itu terlihat dewasa menurutku adalah alasan-alasan kudeta itu selalu ditopang dengan fakta-fakta yang kuat. 

Misal nih, waktu kudeta atas Yun Posun yang dilakukan Park Chung-hee. Alasan kudeta itu karena Yun Posun dinilai menjadi "boneka"-nya pemimpin otoriter sebelumnya, Syngman Rhee. Well, meski Yun Posun sendiri banyak nggak setuju dengan Rhee, tetapi karena kondisi politik yang sudah diatur rezim sebelumnya, dia hanya bisa bertindak sebagai boneka. Akhirnya, Park Chung-hee melakukan kudeta dan menjadi presiden untuk term kelima.

Terus, apa yang dilakukan Yun Posun setelah dikudeta? Well, dia tetap berkarir di politik secara sportif dan aktif mengkritisi rezim yang memimpin sampai pensiun pada tahun 1980.

Kasus lainnya terjadi waktu penggulingan Park Geun-hye pada 2016 lalu. Protes massa mereka untuk menggulingkan presiden terjadi secara damai tanpa korban jiwa. Mereka hanya duduk, bernyanyi, dan menyalakan lilin di Seoul. Dibandingkan Reformasi 1998, protes mereka yang mungkin kalau kita nilai "segitu doang" jauh lebih efektif tanpa korban jiwa.

Keren, serius.

Mereka juga tegas terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan rezim sebelumnya. Mantan presiden Chun Doo-hwan pernah dijatuhi vonis hukuman mati pada 1996 karena keterlibatanya dalam Gwangju Massacre. Mantan presiden Roh Tae-woo dinyatakan bersalah dalam kasus korupsi dan diharuskan membayar kerugian kepada negara. Mantan presiden Park Geun-hye juga divonis 24 tahun setelah terbukti melakukan korupsi.

Damn, it's cool. Seriously.

Apa yang terkadang membuatku berpikir banyak adalah...Korea Selatan ini kan seumuran sama Indonesia gitu. Sama-sama merdeka pada 1945, selisih 3 hari doang. Prosesnya mereka juga menyakitkan gitu untuk jadi semaju sekarang. Sebenarnya, dibanding Korea Utara, Korea Selatan lebih kurang beruntung gitu di tahun awal mereka merdeka. Sumber daya alam mereka sebenarnya lebih sedikit dari Korea Utara yang kaya mineral. Mereka penduduknya banyak dan saat itu juga industrinya belum berkembang. Konflik luar negerinya jauh lebih banyak dari Indonesia karena mereka bersitegang terus tuh sama Korea Utara. Korupsi juga terjadi di sana. Beberapa mantan presidennya malah terbukti korupsi di pengadilan, lho.

Namun, kedewasaan mereka dalam berpolitik menurutku menjadi salah satu faktor kenapa Korea Selatan bisa meraih kemajuan ini. Ketika menang pemilu, mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk bekerja sebaik-baiknya. Berani mengadili kesalahan-kesalahan rezim sebelumnya. Selalu belajar strategi ekonomi rezim sebelumnya dan membuatnya lebih baik. Pun ketika menjadi oposisi, kritik mereka matang gitu. Sejauh ini kalau mengikuti perkembangan politik Korea Selatan, kritik dari oposisi selalu berbobot dan faktual gitu.

Nah, jadi berangan-angan, deh.

Kapan ya Indonesia bisa seperti itu?

Belajar dari Korea Selatan, pesanku satu deh untuk Indonesia tercinta: either jadi penguasa atau oposisi, berpolitiklah secara dewasa. Kalah pemilu itu bukan akhir dari karir politik. Kalau terpilih jadi penguasa, bekerjalah sebaik-baiknya. Kalau menjadi oposisi pemerintah, kritiklah dengan dewasa dan cerdas. Bukan saling menjatuhkan agamanya. Bukan saling tuduh-menuduh. Bukan menyebar hoax dan hasutan.

Kalau Indonesia maju, yang bahagia juga kita semua, kan? Kalian juga bahagia, kan?




Anissa Antania Hanjani   

Komentar