Ada sesuatu yang ingin kuceritakan hari ini.
Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini hatiku berat sekali. Indeed, aku sudah menetapkan diri mau ke mana setelah kuliah. And indeed, harusnya aku fokus dengan itu. Aku pingin segera selesai sempro. Aku pingin segera skripsian, KKN, dan magang. Aku pingin segera wisuda.
Namun, berat banget rasanya mau selesain itu semua. Capek, mungkin itu sebabnya. Soalnya, ketika udah mengumpulkan niat untuk mulai, pasti semangatnya yang nggak ada.
Kalau dipikir lagi, aku mungkin paham kenapa capek. Well, perasaanku...berat. Gimana ya, setiap kali aku dengan semangat cerita akan melanjutkan S2 di dalam negeri, the disappointment voices are everywhere. Dan aku capek menjelaskannya berulang-ulang ke banyak orang kenapa mengambil keputusan itu.
"Kok nggak langsung ke luar aja sih, Nis? Bukannya kamu pingin?".
"Sayang usia lho, Nis,".
"Yakin, nih?".
Yah, aku mengerti kenapa itu terjadi.
Aku dari dulu pingin ke luar. Pingin banget. Untukku yang 20 tahun belum pernah naik pesawat, pergi ke luar negeri adalah dambaan. Sebuah halaman petualangan yang sangat kuimpikan, begitu aku menyebutnya. Aku sering cerita ke banyak orang, pingin melakukan ini dan itu, pingin mencoba ini dan itu, dan hal-hal lainnya. Jadi, tentunya mau dong S2 ke luar.
Namun, ada banyak pertimbangan juga kenapa akhirnya memutuskan memulai di Indonesia terlebih dahulu. Pertimbangan yang tentunya lewat pemikiran panjang, mengingat sebentar lagi aku juga lulus. It's never easy for me and for everyone to restrain things we are so passionate about, to give ourselves a good timing.
Aku hanya memberi diriku lebih banyak waktu belum siap, itu saja. Aku merasa sekarang bukan timing yang tepat. Aku harus lebih maksimal dan semua itu juga butuh waktu. I want to appreciate the moments and the process.
Another thing, nggak tahu kenapa ya usai memutuskan ambil sempro semester ini, aku merasa ada banyak ekspektasi orang yang harus dipenuhi. To be exactly honest, aku cukup tertekan dengan semua itu. Kebetulan sih, ekspektasi semua orang meets targetku. Aku juga ingin lulus segera. Aku ingin melakukan yang terbaik. Yah, tetapi sekali lagi, arahnya berbeda dengan ekspektasi itu. Bukan untuk ke luar, tetapi lanjut di dalam negeri terlebih dulu.
Terutama nih, ini yang kurasakan dari keluarga dan mereka yang tahu riwayat akademikku dari kecil. Mereka-mereka yang sering bilang, "Wah, anak ini bakalan sukses," dari kecil. Mereka-mereka yang memandangku lebih tinggi. To be honest, pandangan-pandangan itu sekarang menekanku karena rasanya kalau nggak memenuhi itu semua, I am a potato. A loser. A failure.
I am the eldest in my mother's side family and the eldest granddaughter in my father's side family. Kakak-kakak sepupuku sudah bekerja semua. Adik-adik sepupuku banyak yang masih sekolah. I'll be the first one who pursues Master degree in both family side. Yaa...ada gitu saat-saat ketika orangtuaku bilang, "Kamu harus sukses, buat contoh adik-adikmu nanti," atau "Kamu tunjukkan kalau kamu lebih sukses dari kakak-kakakmu,". Well, aku tertekan dengan semua itu.
Sering sih ketika beberapa teman bilang, "Enak ya, kamu pinter sih," aku pingin kasih tahu mereka bahwa it's never been easy for 20 years of my life. Selamanya kamu dihantui ekspektasi orang yang telanjur melihatmu sebagai "anak pintar" dan "calon orang sukses" sejak kecil. Sometimes, aku iri dengan adikku yang dilihat orang "biasa-biasa saja akademiknya". She's so carefree and living her life without too much expectations.
Namun, aku berusaha mengkooptasi semua itu. Aku senang berkesempatan hang out dengan adik dan sepupuku akhir-akhir ini. Ketika cerita-cerita soal orangtua kami yang sering nanyain, "Kapan lulus?", kami bertiga menanggapinya santai.
"Ah, santai aja. Aku masih mau menuhin KTM sampai kadaluarsa," kata sepupuku.
"Lulusnya bareng aku aja, Mbak. Aku juga santai," kata adikku.
Aku sekarang berusaha melupakan semua ekspektasi itu. Lupa bahwa dari kecil aku diharapkan untuk "sukses" dan "pintar". Apa yang kuinginkan adalah ketika membuat penelitian untuk skripsi nanti, aku melakukannya karena this is the thing I am so passionate about. Aku mau lulus segera karena itu murni target dan keinginanku. Bukan karena memenuhi ekspektasi orang lain.
And for everyone, aku berharap kalian bangga menjadi diri sendiri. For who you are. Kita bersinar di tempat masing-masing. Hargai bakat kalian, apapun itu. Jadilah apa yang kalian mau. Tidak perlu berkecil hati soal akademik dan non-akademik. We are all unique.
Yours Truly,
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar