Perkuliahan hari ketiga...
Topik semester 6 rata-rata udah berat deh ketimbang semester-semester lainnya. Udah mulai ngomongin sempro dan bakal penelitiannya apa. Udah mulai ngomongin gimana siasatnya menyelesaikan kuliah. Even, udah ada yang ngomongin mau ngapain setelah menyelesaikan S1.
Namun, untuk hari ini, satu hal yang paling sering kudengar adalah soal mau lulus cum laude atau biasa aja. Soalnya nih, persyaratan cum laude di angkatanku sudah mulai berat. Dulu, lulus 5 tahun dengan beberapa nilai C di transkrip masih bisa disebut cum laude asal IPK masih 3,51. Sekarang, syaratnya harus lulus 4 tahun tanpa nilai C.
So, nggak heran banyak banget teman-teman angkatanku kalau perwalian udah pada nanyain gimana siasatnya bisa lulus cum laude. Syaratnya emang berat sih, ya. Belum kalau ada yang harus ngulang.
Hari ini, aku dan teman-temanku mengobrol soal itu. Banyak yang pingin lulus cum laude, sih. Ada kebanggaan kalau lulus cum laude. Pakai selempang bertuliskan cum laude gitu pas wisuda atau malah mungkin berpidato juga.
"...tapi masih ada tanggungan mata kuliah. Yah, nggak bisa cum laude dong," cerita seorang temanku siang tadi.
"Menurutku nggak apa-apa, sih. Sebenarnya kamu cum laude atau nggak, itu belum menentukan kesuksesan," ujarku berpendapat.
"Iya lho," sambung temanku yang kedua. "Maaf-maaf sih, banyak kok mahasiswa yang lulusnya cum laude, tetapi sampai sekarang belum dapat kerjaan,".
"Itu sebenarnya kayak kita dulu SMA juga. Dulu aku lulus dari SMA NEM-nya cuma sekitar 300 dari 600, tetapi ya bisa aja gitu kuliah di sini. Sampai sekarang nilai UN SMA kita kan nggak kepake, kecuali kalau mau daftar kerja pakai ijazah SMA," timpalku.
Temanku yang kedua memberi isyarat setuju. "Sebenarnya malah perusahaan lebih banyak mementingkan komitmen, tanggung jawab, kejujuran, dan loyalitas. Kalau kamu nggak loyal, setiap 2 tahun pindah kerjaan gitu, perusahaan sulit menerima. Masalah skill sebenarnya nanti kan perusahaan memberi pelatihan juga,".
"Iya, bener itu. Ya kayak tes masuk CPNS juga, IPK kan sebenarnya kayak pintu masuk pertama aja gitu,".
Temanku yang pertama itu mengangguk.
"Kalau menurutku sih, cum laude lah di institusi yang memberi persyaratan harus cum laude. Kalau nggak, pokoknya maksimal aja. Yakin deh, orangtua pasti bangga kalau anaknya lulus dan bisa melewati skripsi dengan baik,".
* * *
Well, guys, kira-kira itulah pendapatku.
Aku masih ada beban mengulang dua mata kuliah: Hukum Pidana Internasional dan (momok terbesarku) Olahraga. I know that I am not good at physical activity at all. Andai aja itu nanti nilainya C, aku nggak akan mengulang lagi.
Nggak cum laude, dong? Ya udah, nggak apa-apa.
Caraku melihat hal itu sekarang adalah seperti ini: if I am bad at one thing, it doesn't mean I am bad in everything. Aku mahasiswi hubungan internasional, bukan pendidikan olahraga. Ya kalau aku jelek di olahraga, mau gimana lagi.
Mungkin, kalau ini diterapkan di kasus teman-teman lainnya, kira-kira seperti ini: jelek di mata kuliah yang berhubungan dengan ekonomi, misalnya, bukan berarti nggak bisa di ilmu-ilmu HI yang lain. Mungkin kekuatannya ada di studi perdamaian. Mungkin kekuatannya ada di studi gender. Mungkin kekuatannya ada di studi keamanan. Dan masih banyak lagi lainnya.
Selain itu, menurutku lulus kuliah itu mau cum laude atau nggak, semua harus mulai dari nol lagi. Transkrip nilai hanya memberi bantuan pertimbangan di pekerjaan yang kita inginkan. Misal, pingin kerja di bidang manajerial, nilai A di mata kuliah Azas Manajemen akan memberi pertimbangan positif di pekerjaan itu. Atau pingin banget jadi peneliti kebijakan, nilai A di mata kuliah Kebijakan Publik akan membantu itu juga. Tentu, ditambah pengalaman-pengalaman di bidang terkait.
Menurutku, kita semua selalu mengalaminya di setiap pergantian fase kehidupan. Lulus SMA dengan nilai UN tertinggi tetap harus memulai dari nol ketika mulai kuliah. Lulus SMP dengan segudang prestasi juga harus mulai dari nol ketika SMA. Lulus SD dengan rekor 6 tahun berada di ranking 1 apalagi, harus mulai dari nol juga ketika SMP. Pencapaian-pencapaian kita selama SD, SMP, dan SMA itu hanya membantu kita menunjukkan arah untuk mengembangkan diri agar kembali berprestasi.
Ya, sekali lagi ini hanya opiniku, sih. Tentu saja nggak semua orang setuju. Namun, aku berharap cum laude atau tidak hasil akhirnya nanti, semua orang akan menjalani tahun-tahun akhir perkuliahan ini dengan lancar.
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar