Ada dua hal yang menurutku paling sulit untuk dilakukan. Pertama, mengerjakan soal Matematika di papan tulis. Yah, udah selama pelajaran kerjaannya angop, ngantuk, dan tidur, disuruh mengerjakan di depan nggak bisa. Gimana ya, susah banget tahu Matematika tuh! X disuruh ketemu Y, mana macam-macam lagi soalnya.
Kedua, well, diet.
Menurutku, mengurangi berat badan itu mudah. Dulu SMP aku sempat gendut banget kan gegara stres UN, sampai rok sekolah pramukaku sobek waktu ujian sekolah (asli malu banget). Nah, tetapi setelah masuk SMA dan tinggal di asrama, berat badanku langsung turun drastis dalam 3 bulan. Why? Soalnya, aku orang yang picky banget kalau disuruh makan. Ya tahu lah, makanan di asrama kan biasanya begitu-begitu saja dan sometimes gimana gitu rasanya. Daripada mencela makanannya, biasanya aku langsung nggak makan dari awal kalau memang nggak suka. Atau makan sedikit aja lah.
Tahan? Wah, tahan banget! Aku pernah 1,5 hari nggak makan karena benar-benar nggak suka sama makanannya. Alhamdulillah lambungku kuat banget aku ajak "puasa" selama itu, huhu. Sampai sekarang nggak pernah ada masalah lambung yang akut banget, sih.
Aku juga jarang ngomong-ngomong gitu sih kalau mau makan, jadi mungkin nggak banyak yang tahu.
Nah, menurutku diet ini lebih dari sekadar "menurunkan berat badan". Diet itu gimana caranya mengontrol pola makan dengan sehat. Soalnya, kalau tujuan akhir diet itu biar kurus doang, ya kan sama aja dong kalau nanti makan lagi dan akhirnya gendutan lagi. Diet, menurutku, tujuan utamanya "ngerem" gitu biar makannya nggak berlebihan dan mengajari kita pola hidup yang sehat. Jadi, tujuan akhirnya bukan cuma kurus doang, tetapi juga membentuk kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan.
Ini makanya kenapa diet buatku sulit banget dilakukan. Pola makanku nggak sehat hitungannya. Makan banyak, ngemil jalan. Mana cemilannya pasti sukanya yang manis-manis, apalagi aku pecinta cokelat tingkat dewa. Pola makanku juga bakalan semakin sulit dikontrol kalau stres, pasti langsung banyak gitu buat pelampiasan. Aku juga jarang minum air putih. Bawa air putih ke kampus biasanya biar nggak ngantuk doang di kelas (maafkan saya, Bapak dan Ibu Dosen, hiks). Ditambah lagi ya, yang perlu aku tebelin, I hate physical exercises. Benci setengah mati aku sama olahraga. Aku payah banget dah pokoknya kalau disuruh olahraga. Lari nggak bisa, senam lantai gagal total, renang 50 m aja berhenti di tengah jalan.
Nah, awal diet ini sebenarnya adalah thanks to sahabatku yang datang ke Semarang beberapa minggu lalu. Berkali-kali kan dia kasih penekanan bahwa penampilan itu juga penting. Sehari setelah ketemu dia, aku memutuskan buat mulai diet. Aku pikir dia benar juga, sih. Nggak mungkin aku mempertahankan hidup begini terus, kan. Risiko mati muda dah, pastinya.
But, diet macam apa?
Aku nggak suka kan ya sebenarnya yang menyiksa begitu. Dulu pernah soalnya ngelakuin diet model begitu dan hasilnya gagal total karena nggak tahan. Jadi, aku merancang gimana caranya diet ini nggak menyiksa dan bisa jadi kebiasaan berkelanjutan. Pokoknya, ini harus jadi kebiasaan baik yang aku lanjutkan terus-menerus.
Pertama, aku mulai dari mengurangi porsi nasi. Sekarang kalau makan nasi nggak bakalan sampai lebih dari 1 enthong gitu. Kadang, malah setengah enthong doang cukup. Beberapa kali kalau pergi ke restoran, aku pesan nasinya setengah porsi aja (kecuali kalau benar-benar lapar banget, itu baru satu porsi). Buatku yang ini masih level 1 lah karena di asrama udah pernah.
Kedua, aku berusaha olahraga. Meski aku nggak suka olahraga, ini menurutku masih di level 1 juga. Soalnya, masih ada beberapa aktivitas fisik yang aku suka juga. Aku mencari kira-kira olahraga apa yang bisa kulakukan dan lumayan kusukai.
Guess what? Aku akhirnya senam irama setiap pagi. Aku suka kan sebenarnya sama senam-senam model SKJ 2012, soalnya asyik gitu. Jadi, aku putar tuh videonya setiap pagi dan senam gitu habis sarapan. Rencananya kalau sudah musim panas, aku juga bakalan renang seminggu sekali. Kebetulan rumahku deket sama kolam renang, jadi bisa lah ya.
Ketiga, aku mulai mengurangi cemilan. Biasanya selama liburan suka comot gorengan di warung, sekarang aku tahan-tahan. Biasanya selama liburan makan es krim di kulkas, sekarang jarang. Nah, menurutku ini level 2. Soalnya, aku gampang laper dah kalau udah makan sedikit gitu.
Alternatifnya, aku mulai mengurangi rasa lapar itu dengan air putih. Aku sediakan satu botol air putih di kamar dan pasti diisi kalau sudah mulai kosong. Pokoknya kalau lapar gantinya minum air putih. Kata si Aldin tuh yang kuliah di FK, otak kan kadang juga salah mengirimkan sinyal. Sebenernya haus, tetapi yang dirasain laper.
Jadi, amannya ya minum air putih aja.
Keempat, mengurangi makanan dan minum manis. WOYLAH YANG INI GA CUMA LEVEL 3 SULITNYA, INI LEVEL MAKSIMUM. Apalagi kan aku suka buanget cokelat. Susah digambarkan lah gimana sedihnya berpisah dari penghilang stres yang satu ini. Berat banget, dah!
Awal mengurangi minum manis itu ya...nggak bikin es cokelat di warung. Susah-susah gampang lah yang satu ini. Jadi, habis makan siang biasanya minum manis, sekarang minum air putih doang. Aku sekarang jarang makan cokelat. Seminggu ini kayaknya aku belum makan cokelat sama sekali, hiks!
Aku masih makan dan minum manis sih, tetapi pas itu dibayarin. Baik banget dah itu Mas Edrian sama Aldin traktir aku cookies 'n cream di Point Cafe. Yang jelas nih, aku nggak pakai duit jajanku buat beli yang manis-manis lagi buat ngemil. Eh, pernah sih sekali khilaf beli Oreo Bolu, tetapi sekali doang, ehehe.
Susah sih soalnya yang itu!
But, aku punya pelampiasan stres yang lain akhirnya. Uang sakuku sehari...well, aku berusaha ngumpulin buat jajan make up dan skin care, hahaha. Pernah kan waktu jalan sama keluarga ke Ada Setiabudi Semarang, Papa kan mau pulang duluan sementara aku masih ada acara di Tembalang. Nah, Papa kan ngasih aku uang saku, tuh. Begitu dikasih, aku langsung lari ke counter skin care beli masker sama toner, hahaha.
Doain semoga istiqamah dah ya!
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar