Pergi ke Solo hari ini sebenarnya sangat out of plan. Serba mendadak. Aku bahkan tidak menyangka sampai perjalanan ini dimulai. Tujuannya pun kali ini tidak terduga: SMA lamaku. Kenapa? Urusan administratif, kira-kira begitu.
Jadilah sekitar jam setengah 6 pagi, aku berangkat dari rumah. Kembali menyusuri jalan yang selama 3 tahun dulu kulewati setiap bulan.
Awalnya, aku merasa sedikit enggan melakukan perjalanan. It's out of plan, anyway. Seharusnya ada kegiatan yang akan kuikuti di kampus hari ini, tetapi rencana-rencana itu harus kubatalkan. Besok juga ada bacaan yang harus didiskusikan di kelas. Belum juga bimbingan sempro harus presentasi.
Namun, sejak pagi aku berusaha mengubah pola pikirku.
"Ah, anggap aja ini me time buatku dari Tuhan. Sudah seminggu ini aku lumayan stres gegara sempro," batinku.
Jadilah sekitar jam setengah 6 pagi, aku berangkat dari rumah. Kembali menyusuri jalan yang selama 3 tahun dulu kulewati setiap bulan.
Awalnya, aku merasa sedikit enggan melakukan perjalanan. It's out of plan, anyway. Seharusnya ada kegiatan yang akan kuikuti di kampus hari ini, tetapi rencana-rencana itu harus kubatalkan. Besok juga ada bacaan yang harus didiskusikan di kelas. Belum juga bimbingan sempro harus presentasi.
Namun, sejak pagi aku berusaha mengubah pola pikirku.
"Ah, anggap aja ini me time buatku dari Tuhan. Sudah seminggu ini aku lumayan stres gegara sempro," batinku.
* * *
SMA sudah jauh berubah.
Mungkin ini ya yang dirasakan setiap alumni. Gimana gitu rasanya kalau lihat sekolah lebih bagus setelah lulus. Campur aduk, deh. Ada perasaan lega, tetapi tentunya agak kesal juga karena nggak sempat menikmati fasilitas yang tersedia sekarang.
Aku bertemu banyak guru lama juga di sana. Pertanyaan-pertanyaan biasa tentunya yang diajukan. Sudah lama nggak ketemu, tentu orang akan penasaran soal, "How's life?", "Sekarang ngapain?", "Semester berapa?", dan lain sebagainya.
Dan tentunya, "Ke sini untuk apa?".
Ho, yang ini akan kujawab di tengah cerita, ehe.
Usai menyelesaikan urusan di kantor kepala sekolah, aku mengintip kelas-kelas putra yang ada di lantai dua, berusaha mencari seseorang. Kalau ke SMA, ada seseorang yang selalu kucari keberadaannya. Seseorang yang spesial dalam hidupku. Kurang banget rasanya kalau mengunjungi sekolah tanpa menemui beliau.
Ah, there he is. Found him!
Di sebuah kelas dekat kamar mandi, seorang guru sedang duduk mengawasi UTS. Aku membiarkan diri berlama-lama menatap beliau. Sedikit berharap beliau akan melihat ke arah jendela, mendapatiku di luar kelas. Aku pernah baca fakta psikologi sih, katanya kalau kita menatap seseorang lama-lama, dia bakal menanggapi balik karena "peka".
Benar saja. Beliau akhirnya menatap ke jendela, mendapatiku berdiri di luar kelas dengan riang dan melambaikan tangan ke arahnya.
Sedang ujian, kira-kira begitu kode beliau untuk membalas lambaian tanganku.
"I know," Aku mengangguk.
Aku akan menemui beliau nanti. Pasti harus bertemu.
* * *
Di sekolah ini, terutama guru-guru yang lama mengajar, kurasa tidak ada yang tidak tahu kalau aku dekat dengan Mr. Izz.
Setahuku, Mr. Izz bukan favorit di angkatanku juga. Beliau galak, bisa dibilang begitu. Aneh juga, begitu menurut beberapa orang. Namun, beliau adalah favoritku. I will never find any teacher like him in my life time, like ever.
Sebenarnya, semua guru dan murid dekat di sekolah ini. Banyak teman yang setahuku juga sering curhat ke guru, terutama yang dulu di asrama. Dalam kenanganku, hal itu terjadi kepadaku dan Mr. Izz. Mungkin bahkan lebih dari itu.
Selama 3 tahun di Solo, aku sempat kehilangan figur orangtua. Aku tidak banyak cerita juga soal sekolah dan asrama ke orangtua selama di sana. When it happened, Mr. Izz was there. Tidak hanya curhat soal apa-apa yang terjadi di asrama dan sekolah, aku banyak mengutarakan pikiranku kepada beliau. Beliau banyak membimbingku selama itu.
Apa yang membuatku kagum dari semua itu adalah kedekatan beliau denganku tidak membuat penilaiannya bias. Beliau sama keras menghadapiku seperti teman-teman lain, bahkan lebih deh kurasa. I mean, ketika lomba debat bahasa Inggris pertamaku saja, lawan pertamaku adalah beliau yang nggak kenal ampun. Katanya waktu itu sih, "Kamu harus dihajar habis-habisan! Biar lomba di Jogja besok kamu hajar balik!". Aku juga sering dijatuhkan beliau, untuk kemudian dibiarkan untuk belajar berdiri sendiri. Ha, jangan harap ketika menyerah ada kata-kata motivasi. Dimarahin yang ada, disuruh cari sendiri dan berdiri lagi.
Intinya, beliau lebih dari sekadar guru favorit dan pembimbingku ketika lomba. Beliau adalah sosok ayah kedua bagiku. Beliaulah yang mendidikku untuk tumbuh menjadi perempuan yang mandiri, tegar, dan kuat.
Solopos waktu itu mewawancaraiku untuk profil siswa habis menang lomba debat bahasa Inggris dengan highlight judul demikian. Guru yang dimaksud sih...who else but Mr. Izz!
Didikan beliau yang keras akhirnya terasa dampaknya ketika aku kuliah. Di masa-masa ketika ketangguhan mental dibutuhkan, nasihat Mr. Izz adalah petunjuk pertama yang kudapatkan. Ada situasi yang terkadang membuatku berpikir, "Kira-kira kalau gini, Mr. Izz bakal bilang apa," dan akhirnya membuatku mencari jawabannya sendiri.
He is more than just my favorite teacher. He is my biggest influence, inspiration, and second father.
* * *
Usai UTS, Mr. Izz dan aku akhirnya bertemu di dekat pintu belakang sekolah. Bisa dibilang, tempat itu satu-satunya best place untuk kami mengobrol sih, haha.
"So, what are you doing lately?" tanya beliau.
"Aku lumayan sibuk akhir-akhir ini. Ikut pengabmas, penelitian, agenda komunitas,".
"I was in your place that time. Having agendas with community, spending time with friends and family,".
"Aku juga sudah mulai persiapan untuk skripsi, sih. Insya Allah kalau nggak ada halangan, aku lulus tahun depan," tambahku mantap.
Beliau tersenyum. "So soon?".
"So soon," Aku mengangguk. "IP-ku juga sudah cukup untuk lulus,".
"Berarti berapa tahun ya kamu kalau lulus tahun depan? Tiga setengah?".
"Three years and seven or eight months, I guess," jawabku.
"Still, that's amazing. Terus IP-mu?".
"Pip!" (maaf ya, ini sensor keras).
"It's cum laude, then! It's great," pujinya. Beliau kemudian cerita bagaimana kehidupannya semasa kuliah.
"I know that story," Aku tertawa. Sebenarnya, dulu aku pernah mewawancarai beliau untuk tugas bahasa Inggris. Cerita itu kudengar pertama kali waktu wawancara.
"So, is it your holiday?".
"Libur sih, tetapi hari ini ada agenda di kampus, makanya sebenarnya datang ke sini itu out of plan banget. Senin lalu, ketua departemen minta aku datang ke kantor. Beliau minta aku ikut seleksi mawapres tingkat fakultas mewakili jurusan. Makanya aku datang ke sini buat legalisir catatan keterangan prestasi,".
"Ah, mawapres. It was a dream for student like me that time,".
"Actually, I don't think mawapres is important in life later," ujarku. "Indeed, mawapres itu ajang yang prestigius, tetapi ke depannya setelah lulus toh kita semua akan mulai dari nol lagi. That's what I've been learning all this time,".
"Then?".
"I think, semua orang akan mulai dari nol lagi. Dulu aku lulus SMP dengan prestasi banyak, di SMA mulai dari nol lagi. Aku lulus SMA, di kampus mulai dari nol lagi. Makanya, aku rasa pada akhirnya semua dari nol lagi kalau memulai kehidupan baru. I always say to my friends that graduate without cum laude title is not a sin,".
Tentu, semua pengalaman itu akan membantu di CV kelak. Namun, at the end, yang terpenting adalah kualitas diri dan soft skill.
"Thank God you learn about that!" Beliau tertawa. "Then, what do you think is the most important now?".
"Experiences and moments," jawabku.
"You know, I have someone like you here and I want you to meet him. But, unfortunately, he can't. So far, I have two weird students here, you and him,".
Aku tersenyum. Mr. Izz selalu cerita soal murid itu, tetapi aku belum pernah bertemu dengannya. Beliau selalu bilang aku aneh. Caraku berpikir dan melihat sesuatu sedikit berbeda dengan orang lain.
"And I love both of you," tambah beliau.
I do love and respect you very much, Sir, ucapku dalam hati. Entah mengapa terharu mendengarnya.
Nggak tahu kenapa ya, kata-katanya Mr. Izz lebih affectionate setelah aku lulus. Dulu-dulu aja aku dikerasi terus.
Banyak guru yang lewat selama kami mengobrol. Mr. Sam waktu itu sempat melewati kami dan berkata, "Wah, bisa berjam-jam ngobrolnya,", membuatku tertawa kecil. Ada juga Miss Lisa yang tadi belum sempat kutemui. Buru-buru aku berkata, "Wah, Miss, aku belum nengok keponakanku, nih!".
"Makanya, main lho ke rumah," jawab Miss Lisa.
"Kamu tahu nggak Mr. Dimas sekarang di Jawa Timur?" tanya Mr. Izz.
"Tahu, kok. Di Surabaya," jawabku enteng. Yaa...sesibuk-sibuknya aing sekarang, sebenernya sempat sih buat cari tahu kondisi orang-orang terdekatku.
Ah, aku baru ingat. Kurang Mr. Dimas ya di sini.
"Coba kalau Mr. Dimas di sini, aku pasti dikerasi," ujarku. Dan tentunya, panggilanku bukan Antania, tetapi Katy, tambahku dalam hati.
"Of course,".
Aku merasa sebenarnya Mr. Dimas sama kerasnya mendidikku, tetapi agak beda gitu dibanding Mr. Izz. Kalau dilihat-lihat sih, Mr. Izz masih terhitung keras gitu dengan teman-temanku yang perempuan. Di kelas, kami disuruh baca, baca, dan baca. Sementara Mr. Dimas, nggak tahu ya, kerasnya kalau sama aku doang. Beliau lebih lunak gitu sama teman-teman perempuan yang lain.
Yaa...belum ada kan teman-teman perempuanku yang digeprek kertas sebendel sama Mr. Dimas karena tidur di kelas, terus disuruh hapus papan tulis. Atau dimarahin di kantor guru. Atau dibilang manja waktu ngerjain berkas beasiswa.
"Mr. Dimas and you taught me so hard and tough when I was a student," kenangku. "But, it helps me a lot when I am in college. I grow up understanding why you are being so hard. College life is tough,".
Sayangnya, sekitar jam setengah sebelas, kami harus menunda lagi obrolannya. "I need to prepare things for English Camp," kata beliau.
"Ah, you know it is very uncommon I come here so sudden! You can do it later, Sir!" protesku.
"I know, I know. I am, too, surprised when I see you from the window. I never think you will come in sudden. But, I have things to do and the preparation time is short. I don't want to leave you, but sadly I have to leave,".
"Ahh..." desahku kecewa. "Can I help, then?".
"If you were boy, I would let you help. I'll call you later when I finish,".
"Okay, Sir. Save my number, then. I changed my WhatsApp number,".
At least, our new picture is here. Seperti kata Mr. Sam sih, ngobrol sama Mr. Izz pasti makan waktu berjam-jam lamanya. Nggak kerasa banget udah jam setengah 11.
* * *
Kemudian, aku ke gedung putri dan mengobrol dengan Pak Marwan. Aku bercerita bagaimana kehidupanku di Semarang akhir-akhir ini.
"Kamu sudah tahu Mrs. Dee pulang? Beliau sekarang di kantor yayasan," kata Pak Marwan.
"Oh ya? Aku kira di SMA?".
"Nggak, sekarang di kantor yayasan. Tadi saya baru dari sana,".
"Yah, kok nggak bilang dari tadi deh," Aku tertawa. Kantor yayasan kan sudah kulewati waktu jalan ke gedung putri tadi.
Pak Marwan kemudian memberitahuku letak kantor Mrs. Dee, lalu aku jalan kembali menuju kantor yayasan. Aku belum bertemu Mrs. Dee setelah beliau pulang dari Australia. I think, she will be happy to see me.
Kantor Mrs. Dee letaknya di dekat pintu masuk yayasan. Ekspektasinya sedikit besar sih, tetapi ternyata lebih kecil dari yang kukira.
"My God, look at you, Anissa! All grown up!". sambut beliau ketika mengetahui kedatanganku.
Apa yang kuingat dari Mrs. Dee adalah surat beliau untukku sebelum berangkat ke Australia. Beliau memberikannya ketika kami datang berkunjung ke rumahnya sebelum keberangkatan. Aku selalu membacanya sambil menangis di asrama. Somehow, surat Mrs. Dee membuatku surprised juga karena nggak nyangka kesan-kesan beliau tentangku lebih dalam dari yang kuduga.
It was stated in the letter that I have a rare beauty inside my heart. Kalimat itu selalu membuatku menangis ketika membacanya.
Kami banyak mengobrol di ruang tamu kantor. It is a usual topic, soal kegiatan sehari-hari sekarang, tetapi rasanya senang sekali karena selama ini aku ingin bertemu beliau setelah pulang dari Australia.
"So, do you have boyfriend now?".
"No," jawabku enteng. "I don't have time for that,".
"Then, who's guy in the picture with you?".
"He's my best friend,".
"You've grown up, now. I believe you know the limit between female and male friends. You're too smart to do that. I have a faith in you,".
"Yes,".
"Don't forget to invite me in your wedding,".
Aku tertawa. Tentu saja, ini kan sudah tahun terakhir kuliah. "Of course I will invite you, Miss. But, I think it's not in my 20s,".
Aku tiba-tiba teringat sesuatu.
"Miss, I want you to save this. Actually, I should give it to Mr. Izz too, but I forget it," ujarku.
"Then, it's for Mr. Izz. I'll give it to him later,".
"No, Miss. I still have many," Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tempat pensilku. Sebuah kartu nama yang waktu itu kugunakan untuk penelitian di pusat kajian. Kartu nama yang sangat memorable untukku, karena rasanya itu seperti pertanda langkah awal untuk mengejar impianku menjadi peneliti.
"Wow, it's amazing, Anissa. I am so proud of you,".
"I want you to remember, Miss, when you see it, that I grow up well," kataku (dengan menahan air mata, mau menangis sebenarnya waktu memberikan itu).
"Of course, I will remember,".
Sekitar jam 11 lebih, obrolan kami diakhiri untuk persiapan English Camp minggu depan.
"Can I give you a hug before you go?" tanya Mrs. Dee.
Aku tersenyum. Tentu.
* * *
"Jadi, gimana tadi ketemu Mrs. Dee?" tanya Pak Marwan.
Aku kembali ke gedung putri dan mengobrol dengan Pak Marwan. Sebenarnya, dalam hati sih masih pingin gitu menghabiskan waktu lama-lama dengan Mrs. Dee, ya tetapi kan itu kantor yayasan.
"Gitu deh," jawabku sederhana. "Ngobrol sekarang ngapain aja, gitu-gitu,".
Pak Marwan cerita banyak soal perkembangan sekolah. Karyawan semakin banyak, guru juga semakin banyak. Aku juga tahu beberapa teman seangkatanku juga sering datang ke sekolah dari Pak Marwan. Banyak yang berubah juga.
"Itu Mr. Izz, Nis," tunjuk Pak Marwan. Sepeda motor Mr. Izz melewati gedung putri, dengan Nahl, putranya, duduk di jok bagian depan.
"Iya, itu Mr. Izz. Ngobrolnya kurang lama tadi. Beliau harus nyiapin English Camp sih,".
"Kamu dekat ya dari dulu sama Mr. Izz,".
Aku termenung. "Gimana ya," ujarku mengawang. "Aku merasa kalau ingat masa-masa dulu di sekolah ini, yang paling kuingat itu ya Pak Marwan, Pak Win, Mr. Izz, Mr. Dimas, juga Rifai dan Ucup. Memoriku kayaknya agak berbeda dari teman-temanku yang lain. Inget nggak ya dulu kita pernah makan durian bareng?".
"Kapan, sih?".
"Dulu di gedung lama. Mr. Izz waktu itu pulang kampung dari Boyolali bawa durian kan, terus beliau bilang, 'Nis, kamu mau durian nggak?'. Kita makan bareng-bareng waktu itu,".
"Oh iya, di dapur dulu ya?".
"Iya lho, di dapur lama,".
"Sekarang juga masih ada,".
Jam istirahat Zuhur akhirnya tiba. Pak Marwan bilang akan membawa Mr. Izz ke gedung putri setelah salat Zuhur nanti.
* * *
Sebenarnya, sebelum salat Zuhur tadi, Pak Marwan comes up dengan ide mengajak Mr. Izz makan di luar. Makanya, Mr. Izz akan ke gedung putri setelah salat. A great idea, udah lama banget aku nggak makan bareng dengan Pak Marwan dan Mr. Izz.
Aku janji ini akan jadi traktiranku siang ini.
Finally, kami pergi ke warung bakso yang letaknya cukup dekat dari sekolah. Mr. Izz boncengan dengan Pak Marwan, aku bawa motor Mr. Izz yang "sudah-gimana-gitu-ya".
"Mr. Izz, ini kapan sih terakhir kali diservis?" keluhku ketika kami sampai.
"Udah lama nggak diservis," Mr. Izz tertawa.
"Ngeri banget aku tadi bawa motor ini deh, Sir, ya ampun,".
"Katanya udah bisa bawa motor,".
"Motorku masih mendingan deh,".
Nostalgic banget rasanya bisa makan siang dengan Pak Marwan dan Mr. Izz hari ini. Padahal ekspektasiku hari ini bakal makan siang sendiri. Emang ya, harusnya aku dari awal nggak mengeluh waktu punya rencana mendadak ke Solo.
"Sayang ya, nggak ada Mr. Dimas," Aku tertawa membayangkan gimana kalau Mr. Dimas tahu kami makan siang bersama.
"Difoto dong, nanti dikirim ke Mr. Dimas," kata Pak Marwan.
"Oh ya, bener," Mr. Izz mengeluarkan HP. "Ah, nggak bagus kameranya,".
"Pakai HP-ku aja, Sir. Eh bentar, pakai punya Pak Marwan aja! Pak Marwan Vivo, kan?".
"Hehe, iya. Kok tahu, Nis?".
"Tahu, dong!".
I think, it will be very memorable for me this year. I treat my teacher with my own salary!
Kami nggak berlama-lama di warung bakso karena Pak Marwan ada agenda. Setelah makan, kami langsung kembali ke gedung putri. Aku kembali menghabiskan waktu dengan Mr. Izz di sana.
"Saya sekarang jualan ini lho," Mr. Izz menunjukkan gambar alpukat di HP-nya.
"Wuah, enak tuh kalau dimakan pakai susu. Sayangnya, lagi diet,".
"Kenapa? Kan alpukat bagus buat diet,".
"Iya ya. Kapan-kapan aku beli, deh,".
Aku mengamati ruangan di sekelilingku selama di gedung putri siang itu. Anak-anak berseragam batik sedang makan siang di kelas mereka. Rasanya, aku seperti melihat diriku sendiri dengan seragam itu bertahun-tahun lalu.
Bedanya, aku nggak akan makan siang kalau nggak suka makanannya. Honestly, salah satu alasan kenapa aku kurus banget dulu karena I am a picky eater.
"Mau jeruk?" tawar Mr. Izz.
"Mau,".
Mr. Izz benar. Terkadang, rencana Tuhan banyak yang nggak terduga. Hari ini misalnya, sedang stres sempro tahu-tahu direncanakan sedemikian rupa agar aku ke Solo. Menghabiskan waktu dengan seseorang yang selama ini mendidikku dan menjadi pengaruh besar dalam kehidupanku berikutnya.
Aku teringat waktu bertanya kepada Mr. Izz sebelum kembali ke gedung putri.
"So, Sir, do I grow up well now?".
"Yes. As I expected and as I want you to be,".
Aku hampir nggak menyangka aja gitu bahwa ada seseorang selain orangtuaku yang membawa pengaruh besar dalam hidupku. Seperti Mr. Izz dan Mr. Dimas.
Aku memutuskan pulang jam 2 siang ketika Mr. Izz juga akan rapat persiapan English Camp. Bisa ditebak, tentunya aku datang ke English Camp nanti.
"Thank you very much for everything. Especially your treat, it was a dream comes true,".
"Dream comes true?" tanyaku.
"Saya pernah bermimpi suatu hari nanti murid saya akan kembali dan mentraktir saya. I never believe it comes true 9 years later,".
Itu...hanya bakso, batinku dalam hati. Nggak usah bilang sesuatu yang bikin mewek deh, Sir.
"Actually, itu gaji pertamaku," ujarku.
"I am honored, then. I am very proud of you,".
"It was all thanks to you that I grow up very well," Aku tersenyum.
* * *
Becak dari Mujahidin telah membawaku pergi menuju terminal, tetapi entah mengapa hatiku masih tertinggal di gedung putri tadi. Bertemu Mr. Izz rasanya...seperti anak yang sudah lama menanti pertemuan dengan orangtuanya. Ingin banyak cerita. Ingin mendengar banyak nasihat. Ingin bercanda lebih lama.
You (and Mr. Dimas) deserve more than just that meatball for making me grow up, Sir, batinku ketika melewati beberapa restoran. Rasanya, pingin banget kembali lagi ke sini ketika punya pekerjaan tetap dan mentraktir mereka makan enak. Pingin banget bisa sering-sering melakukannya. They deserve it. More than they know.
Aku...akan segera kembali. Aku janji.
Foto ini sebenarnya ada maknanya, lho. Idenya Mr. Izz sih buat bikin pose begini Coba tebak, deh!
Anissa Antania Hanjani




Komentar
Posting Komentar