Now I remember how happy I was that time, when I aimed to be the best!
...
Beberapa hari lalu, aku mengobrol dengan pelatihku OSN Geografi, Mbak Erni, lewat telepon. Sudah lama sekali, aku kangen, begitu terus-terusan kukatakan. Akhirnya, kami teleponan di suatu sore.
"Mbak pasti ngikutin Tania, kok. Di setiap posting Facebook, kalau ada Tania, pasti Mbak baca," katanya.
Aku tersenyum mendengarnya. Aku kangen sekali.
"Aku...akan ke Jogja deh pertengahan semester ini. Aku nginep di rumah Mbak ya, terus kita ke pantai. Kan pasti sudah musim panas," ujarku.
"Kamu nggak ke Solo memangnya?" tanyanya.
"Terakhir kali aku ke sana waktu mengisi di RRI. Sekalian ke sekolah lamaku deh, sambil menunggu cowok-cowok jumatan," jawabku.
"Ketemu Mr. Izz?".
"Ya,".
"Ahaha inget ya, itu kan guru favorit Tania dari dulu,".
"Iya dong, dari dulu,".
"Dari dulu kalau ngeliat Tania waktu sama Mr. Izz beda, sih. Nggak kayak guru sama murid gitu. Kalian lebih deket gitu,".
"Semua anak ABBS deket sama gurunya, sih. Naturally. Ya...tapi buatku Mr. Izz beda gitu. Aku kehilangan figur orangtua kan selama 3 tahun di sana karena lebih banyak di Solo. Mr. Izz tuh kayak...menggantikan itu,".
Topik kemudian berganti. Kami bernostalgia soal asyiknya belajar geografi selama OSN dulu. Latihan-latihan soalnya, perjalanan kami ke laboratorium geografi UNS, D-day perlombaan, lalu saat mendadak diumumkan lolos ke provinsi.
"Kamu masih suka sosial, ya?".
"Segala hal yang berhubungan dengan sosial, Mbak, termasuk geografi juga. Aku masih belajar kalau ada waktu,".
"Kalau gitu, kamu masih inget dong harusnya sama batuan,".
Aku geli. Dulu sekali ya belajar batuan. "Masih, kok. Batuan yang warnanya hitam, teksturnya lebih halus, itu batuan beku. Kalau warnanya berubah, tetapi teksturnya kasar, itu batuan sedimen. Kalau berwarna, tetapi teksturnya lebih halus, itu batuan metamorf,".
"Masih inget ya ternyata,".
"Iya dong, waktu ikut Merapi Jeep Lava Tour kemarin rasanya kayak belajar geografi lagi. Lihat batuan melulu sih,".
"Dulu kan kita pernah belajar itu. Inget dulu kita ke lab geografi UNS buat belajar OSN?".
"Inget, dong! Ya ampun, kangen banget! Sama belajar lihat citra lewat Google Earth juga!".
"Sampai hujan-hujanan juga ya waktu itu,".
"Iya loh, sampai sekolah aku basah gitu,".
"Terus pas lombanya kita ngos-ngosan ngejar pengawasnya. Kamu nangis juga kan habis lomba, grogi banget waktu itu?".
"Iya! Hahaha,".
"Tapi Tania memang suka belajar, kan. Mbak juga ngerasa Tania pas di geografi ketimbang kebumian. Wawasan spasialmu lebih luas,".
Nostalgia yang menyenangkan.
Dan menggugah.
* * *
Universitas Katolik Soegijapranata, 14 Januari 2019
Here he is. Finally.
Rifai sedang di sini. Bersamaku. Pertemuan kedua kami di Semarang kali ini benar-benar menyenangkan karena tidak terduga. Aku berencana menemuinya di Jogja hari Sabtu, dia pergi ke Semarang duluan.
"Dulu kamu pernah kan, Nis, menang public speaking JCI," katanya.
"Juara dua, Fai, kita ke Loji Gandrung waktu itu, inget kan?".
"Iya, ya! Aku inget lho waktu itu,".
Rifai sedang mencoba mengisi baterai ponselnya. Dia harus order ojek online untuk meletakkan kopernya di penginapan. What a coincidence, dia menginap di Bukit Sari. Dekat sekali dengan kampusku di Tembalang.
"Kamu sekarang lebih rajin latihan ya," pujiku.
"Apa?".
"Lomba debat ini, lho. Aku tahu, kok,".
"Masa' sih, Nis?".
"Dulu kamu mana pernah latihan kalau mau lomba. Inget nggak, dulu waktu kita lomba di JCI dulu? Mana ada kamu latihan. Dulu waktu kita ikut ESA Week juga,".
"Kapan kita ESA Week bareng?".
"Dulu,".
"Oh iya! Yang news itu ya," Dia nyengir. "Aku menang waktu itu kan,".
"Ya, ya," Aku tersenyum. Kenangan itu menyebalkan. Aku kalah waktu lomba speech dan menangis di depannya. "Skor kita masih seri lho,".
A best friend and a rival. Aku tidak pernah lupa betapa menyenangkannya bersaing dengan Rifai. Ketika dia tidak latihan, aku mati-matian mengerahkan tenagaku untuk mengalahkannya. So that, I looked very cool in his eyes. Ternyata waktu ESA Week, aku tersisih duluan.
Ya nangis lah.
Namun, aku tahu Rifai memang punya that aura. Sesuatu yang tidak aku punya. Waktu menontonnya di babak final ESA Week 2017, aku tahu orang-orang menatap ke arahnya dengan kagum. He really is a great competitor for me. My rival.
Buatku, diakui oleh Rifai membuatku puas sekali. Entah mengapa. Bahkan, setelah dia pindah sekolah, aku tetap sama: ingin sekali lebih unggul darinya dan diakui karena itu. Ketika etalase piala masih diletakkan di dekat kelasku di lantai dua, aku sering diam-diam memandangi pialanya, lalu berpikir, "Aku harus menang!". Terutama sekali waktu debat bahasa Inggris dulu.
Rivalry memang membawa motivasi tersendiri.
* * *
Dulu sekali, aku memang ambisius.
Seambisius apa?
Aku menjalani latihan seminggu sebelum ikut lomba public speaking. Ada sekitar lima tema, kalau nggak salah, dan karena waktunya mepet, Mr. Izz melatihku untuk impromptu. Berat, tetapi aku mau. Disuruh tampil di depan teman-teman sekelas mau. Latihan di jam istirahat mau. Latihan waktu pulang sekolah mau. Jam kosong? Latihan, pastinya.
Aku harus banyak baca ketika pertama kali ikut lomba debat. Aku memaksa diriku keluar dari zona nyaman karena sebelumnya nggak suka debat. Mr. Izz memberiku satu target waktu itu, "Kalahkan saya kalau mau menang di Jogja! Kamu harus dihajar sampai babak belur di sini biar menang di sana!" and I did it. Entah bagaimana pokoknya harus mencapai target itu. Baca 300 halaman per hari. Melek di sekolah dan asrama.
Iya, dulu seambisius itu. Dengan satu tujuan: aku ingin menang.
Sebenarnya, bukan hanya semata-mata ingin diakui oleh Rifai sebagai rival. Bukan juga karena ingin mencapai target saja. Bukan juga karena fame dan hal-hal yang kudapat setelah itu (lewat 3 kali wawancara Solopos).
Entah mengapa, ada perasaan tersendiri gitu kalau diumumkan menang. Bahagia, senang, dan puas bercampur jadi satu, kemudian melahirkan sensasi itu. Pun ketika aku berhasil mencoret beberapa hal dari daftar My 100 Dreams. Rasa senangnya sulit digambarkan dengan kata-kata gitu.
Dan aku merindukan perasaan itu.
Kali ini, aku ingin kembali seambisius itu, terutama ketika sudah skripsian. Aku ingin banget mengerjakan skripsi dengan menggebu-gebu seperti waktu latihan lomba dulu. Jadi, ketika sudah waktunya kompetisi (read: sidang), juri (read: dosen penguji) akan memutuskan aku layak menang (read: lulus).
Bisakah? Why not, kurasa.
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar