It's Okay to be Afraid!

Akhirnya, terbebas juga dari beban beberapa pekerjaan. Punya cukup waktu untuk belajar dan mengerjakan pekerjaan lainnya memang menyenangkan. Jadi lebih enak gitu waktu baca atau kasih review.

Aku tadi sempat browsing soal beasiswa S2 karena memang udah kepikiran buat melanjutkan sekolah. Apa yang menyenangkan dari S2 adalah tawaran beasiswanya lebih banyak dari S1. Program yang diajukan juga beragam. Ada beberapa major yang sudah kupertimbangkan juga (tentunya nggak jauh-jauh dari HI) dan nggak tahu kenapa ya itu bikin mataku so...dreamy. Jadi nggak sabar menyelesaikan skripsi!

Namun, tiba-tiba aku kepikiran sesuatu.

Bedanya S1 dan S2 nanti apa, sih?

Nah, akhirnya aku browsing di internet buat cari tahu. Ternyata beda banget, ya. Kalau S1 kita masih di kelas yang kuotanya 60 orang, bisa dengerin dosen sambil angop kalau ngantuk (eh), topik bahasannya masih bersifat pengetahuan dasar, dan waktu untuk mengerjakan tugas lebih banyak. Nanti kalau sudah S2 kuliahnya hampir nggak ada, topik bahasannya spesifik, dan waktu mengerjakan tugas lebih sedikit durasinya. Mungkin aja semacam tugas makalah dari Pak Tri yang 8 halaman itu disuruh ngerjain dalam sehari kali ya?

Tiba-tiba jadi takut buat S2.

Belum lagi kalau rejekinya di luar negeri, bisa adaptasi nggak ya?

Namun, sebelum ketakutan itu sempat melebar, hati kecilku berbisik, "Inget nggak, Nis? Waktu hampir lulus SMA, kamu juga pertamanya takut buat kuliah S1,".

Oh, iya ya. Aku ingat. Waktu itu aku sampai sering cerita ke Mr. Izz waktu pertama masuk kampus saking takutnya.

Iya, ya. Dulu waktu hampir lulus SMA, aku sempat takut kuliah. Takut nggak bisa mengikuti mata kuliahnya. Takut tertinggal sama teman-teman lainnya. Takut nggak bisa beradaptasi dengan kehidupan kampus. Takut nggak bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Takut nggak bisa mengerjakan skripsi. Takut nggak lulus. Takut drop out.

Percayalah, sebanyak itu ketakutanku dulu ketika memikirkan kampus di tahun-tahun terakhirku di SMA.

Alhamdulillah, so far everything is on my full control. Sekarang sudah masuk sempro. Sejauh ini semua baik-baik saja. Kampus dan aku sekarang sudah seperti teman akrab (karena harus datang saat weekend kalau ada sesuatu, hahaha). 

Kurasa ketakutan-ketakutanku dululah yang bisa membuatku bertahan sampai sekarang. Seingatku sih, manusia memang diciptakan dengan fungsi survival yang baik. Rangsangan rasa takut yang wajar akan membuat kita melakukan sesuatu untuk menghindarinya. 

Jadi, tidak apa-apa untuk merasa takut ketika memasuki fase kehidupan baru. Justru, sepertinya itu perlu.




Anissa Antania Hanjani
 

Komentar