A Late Regret

Aku bersyukur banget teman-teman terdekatku merupakan orang-orang yang suportif. Duh, nggak ngerti lagi deh gimana kalau nggak ada mereka. Well, aku rasa semua orang pastinya senang kan ya didukung teman-teman dekatnya. Support system yang baik itu juga mempengaruhi kehidupan kita soalnya, ya kan?

Nah, salah satu orang suportif yang rajin banget mengirimiku ini dan itu adalah Rifai. Aku nggak ngerti lagi deh sama dia. Orangnya update banget! Waktu lomba bahasa Inggris kemarin, misalnya. Aku yang lebih dekat jaraknya ke Semarang aja nggak tahu lho kalau ada lomba bahasa Inggris di UIN Walisongo. Sumpah, aku nggak tahu. Kalau tahu, aku pasti udah ikutan.

"Kok kamu nggak ngabarin aku sih kalo ada lomba beginian?" omelku ketika kami bertemu hari Minggu lalu.

"Ya aku kira you're not into this gitu lho, Nis," jawabnya.

"Oh my gosh, you know me. Lomba kayak gini tuh masih aku banget, I!".

Well, setelah kupikir-pikir lagi, kayaknya aku tahu deh kenapa Rifai jarang banget ngabarin atau ngajak ikut lomba begini.

"Kamu pasti mikir aku sibuk ya?" terkaku. Dia tahu semester lalu aku jadi asisten dosen dan mulai persiapan proposal.

"Iya, aku kira kamu udah sibuk di kampus sama penelitian, makanya nggak pernah ngabarin," ujarnya.

Sebenarnya nih, Rifai udah sering keep me updated, tetapi baru masalah magang. Soalnya sebelum ketemu kemarin Minggu, terakhir kali aku cerita ke dia masalah magang. Setelah cerita, dia sering ngabarin aku kalau ada opportunities buat magang di tempat-tempat keren seperti UNHCR dan FPCI. Hal-hal kecil yang dia lakukan ini, selain menyenangkan perasaan, itu juga membuatku heran. Jurusannya kan sastra Arab di Universitas Ahmad Dahlan, nih. Kok bisa-bisanya gitu lho dia tahu soal tempat magang anak HI, even tahu lebih banyak dari aku yang kuliah di HI.

Nah, baru malam ini dia ngasih aku kabar lagi soal exchange gitu. Info yang dia kirim malam ini lumayan memantik rasa ingin tahuku buat browsing, karena exchange yang dia kasih infonya itu jadwalnya menabrak waktu KKN-ku. Jadi, at least, aku pingin cari yang lain. Siapa tahu ada yang jadi rejekiku.

Ketika browsing malam ini, tiba-tiba rasanya menyesal gitu. Program exchange ini sebenernya banyak yang menarik! Like, kamu bisa dilatih untuk bikin pengaruh kepada lingkungan sekitar. Belum pengalaman traveling ke luar negerinya. Belum teman-teman barunya. Belum pelajaran-pelajaran barunya.

Buatku yang seumur hidup belum pernah naik pesawat, apalagi pergi ke luar negeri, pengalaman itu benar-benar mewah banget.

Ini tuh dari dulu aku ke mana aja? Masa' baru tahu ada program beginian?

Sumpah, aku nyesel astaga. Kenapa aku baru tahu?

Malam ini, aku jadi berpikir betapa banyak pintu kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan dirinya. Plus, itu nggak harus selalu dari kampus. Iya ya, ternyata tuh emang Tuhan sebenarnya udah kasih banyak jalan gitu lho sama kita, tinggal mau ambil yang mana. 

Aku rasa, dengan banyaknya jalan pengembangan diri itu, harusnya nggak ada lagi mahasiswa yang diejek karena hanya kuliah-pulang. Oke lah, mungkin dia emang kuliah-pulang, tetapi tahu nggak pulangnya buat apa? Jadi guru les, mungkin? Jadi entrepreneur muda, mungkin? Atau jadi volunteer gitu? Kegiatan pengembangan diri nggak sebatas di kampus aja. Jadi, buka pintu sebanyak-banyaknya ya, gaes!



Anissa Antania Hanjani 

Komentar