Sebuah kafe di Jl. Setiabudi Semarang begitu ramai siang itu. Es teh yang kupesan hampir habis, tetapi aku tidak peduli. Mengobrol dengan seseorang di depanku jauh lebih asyik.
"Aku merasa setelah bertemu dia, ada satu hal yang membuatku sebal. Setiap kali sudah mulai suka sama seseorang (hampir jatuh cinta), ketika ada satu aspek dari orang itu yang nggak memuaskan, tanpa sadar aku selalu membandingkan dengan dia. Pokoknya dia lagi, dia lagi. He's really...once in a million," ceritaku.
"Aku pernah baca nih di internet," tanggap lawan bicaraku. "Katanya INFJ itu memang selalu punya figur yang dia anggap standarnya gitu,".
Once she falls in love, she falls so deep, aku teringat juga kepada artikel yang pernah kubaca di suatu situs yang khusus untuk para introvert. Aku setuju.
"Iya kan, exactly, aku bisa relate itu banget," Aku mengangguk. "Seakan dia menjadi standar. Padahal deep down aku benar-benar sadar dia ya dia, orang lain ya orang lain. Mereka nggak pernah sama, tetapi aku terus-terusan mencari dia yang kedua,".
* * *
Semua ini dimulai sekitar 6 tahun yang lalu. Di Solo, pada Juli 2013.
Tugas akhir di hari pertama OASIS, nama kegiatan orientasi SMA-ku waktu itu, adalah mencatat masing-masing 10 nama teman cowok dan cewek. Tugas itu akan dicek besok pagi dan dipilih secara acak untuk dibacakan di depan. Jadi, kami belum bisa langsung pulang. Kami harus berkenalan dulu dengan teman-teman.
Tugas ini berat. Yep, aku nggak bercanda. Karena mayoritas anak waktu itu lulusan pondok pesantren dan mereka nggak biasa mendekati lawan jenis secara langsung. Aku...well, meski lulusan SMP Negeri, ada perasaan sungkan untuk mendekati lawan jenis duluan. Rasanya aku terkesan seperti anak liar kalau melakukannya.
But, okay, ini toh buat tugas, harusnya nggak masalah.
Aku akhirnya memberanikan diri untuk mendekati anak laki-laki duluan. Mereka ternyata dengan senang hati mengajakku berkenalan, lalu kami saling tukar buku catatan untuk menulis nama-nama teman lawan jenis. Senang rasanya memulai, jadi tugasku bisa selesai duluan. Aku mungkin bisa pulang duluan, tinggal menunggu buku catatanku selesai dipinjam saja.
Di waktu-waktu menunggu itu, tiba-tiba ada dua anak laki-laki yang mendekatiku.
"Namamu siapa?" tanyanya.
"Anissa Antania Hanjani," jawabku.
"Siapa?".
It would take forever, batinku.
"Sini buku catatannya," ujarku singkat. Kemudian, aku mengambil buku catatannya dan menulis namaku di daftar nama teman perempuannya. Begitu aku selesai, dia langsung membacanya.
"Namamu sepanjang Sungai Bengawan Solo," komentarnya.
Hah? Apa? Barusan dia bilang apa? Namaku panjang? Aku baru tahu nama dengan tiga kata itu kepanjangan. Anak yang aneh.
Aku kemudian mengambil buku catatanku yang sudah selesai dipinjam.
"Namamu siapa?" Aku balik bertanya.
Dia mengeja namanya, tetapi aku tidak dengar. Ruangannya ramai sekali.
Again, it would take forever. Aku kemudian membuka buku catatanku dan menyuruh, "Tulis sendiri aja, deh!".T
Seperti apa yang kulakukan sebelumnya, dia menulis namanya di buku catatanku, lalu mengembalikannya. Segera setelah membacanya, aku mengernyitkan dahi. Heran dan takjub.
Sendirinya namanya lebih panjang dariku, dasar aneh, batinku.
"Kamu dari SMP mana?" tanyaku.
"Ar-Rahmah Malang. Kamu?".
"SMP N 1 Ungaran,".
Dia lalu beralih kepada anak laki-laki di sebelahnya, lalu berkata, "Oh ya, lupa. Kenalin, ini Yusuf Habibi,". Anak yang bernama Yusuf Habibi itu tersenyum kepadaku.
"Halo," sapaku singkat.
Kami lalu bercakap-cakap singkat. Turned out dia juga anak asrama dan asalnya dari Balikpapan. Setelah itu, kami berpisah. Dia pulang duluan dengan Yusuf Habibi.
Kemudian, aku mengambil quick look ke buku catatanku, membaca namanya sekali lagi.
M. Ichlasul Amal Rifai.
Tanpa mengetahui, garis jalan hidupku, dia, dan Yusuf Habibi akan terus bertemu sampai tahun-tahun selanjutnya.
* * *
Ichlas, begitu aku memanggilnya di awal pertemuan kami, menjadi orang pertama yang kucari di hari kedua OASIS. Aku belum bertemu dengannya lagi sampai di hari ketiga, di mana kami duduk bersebelahan ketika menjawab soal-soal bahasa Inggris.
"Kamu udah selesai?" tanyanya.
"Udah tuh, kamu?".
"Udah juga,".
Lalu, dia tidur sampai waktu habis.
Di hari keempat, kami sudah akrab. Entah mengapa. Dia mengejekku dan aku balas mengambil ancang-ancang untuk memukulnya dengan buku catatan. Kami banyak tertawa dan bercanda menghabiskan hari-hari terakhir OASIS. He was quite something. Aku menganggapnya teman yang menyenangkan.
Aku ingat pernah menyimpan penampilan drama kelompoknya di laptop lama. Wish I could save that file in my new laptop.
* * *
Aku tidak bertemu dengannya sampai beberapa hari setelah libur lebaran.
Ketika pelajaran biasa sudah dimulai, kami saling mengejek satu sama lain ketika berpapasan di jalan. Karena dia habis tahalul saat umroh, kepalanya botak, sehingga teman-temanku memanggilnya dengan sebutan Penthol Korek. Well, itu juga karena dia cukup tinggi, sih.
Namun, aku tidak bersiap untuk menghadapi apa yang terjadi berikutnya. Apa yang membuat semuanya benar-benar...berubah. Perubahan yang berpengaruh besar di masa itu, kemudian di masa depan.
25 Agustus 2013, seusai pulang sekolah, aku diam-diam melanggar peraturan asrama. Aku membuka laptop dan mengambil modem di tasku setelah masuk kamar, lalu membuka Facebook di kasurku. Ketika mengetahui Ichlas sedang online, aku iseng chat dia.
👩: "Si A (teman satu sekolah) ngasih aku oleh-oleh baju jogja, lho,"
👦: "Mintain buat aku juga cepet. CEPET,".
👩: "Emang kamu pikir aku siapa? Kenapa ga minta sendiri aja?".
👦: "BABU. Males, nih. Yayaya? Kamu kan temenku,".
👩: "Terus aku musti bilang apa?".
👦: "Mm...kapan-kapan aja. Pinjem printemu. Kubawa ke boarding putra,".
👩: "Kabel penghubungnya juga di BPA kan kalo ga salah?? Pake dulu aja gapapa."
...
👦: "Gimana boardingnya?".
👩: "Enak sih. Airnya lebih bersih dari BPI Timur. Heh, mbokan ngalah kalo mandi. Sini sering ga kebagian air, tahu,".
👦: "Sama, Non,".
👩: "Aku kadang kalo sore ga mandi. Kalian ngalah makanya,".
👦: "SAMA,".
👩: "Maaf deh, maaf. Btw, kalo mau ambil printer besok pagi aja. Aku sekalian mau ambil paket dari ortuku,".
👦: "Oke, bagi-bagi jajan ya,".
👩: "Ga puasa yaa??? Btw, bagi oleh-oleh umroh dong,".
👦: "Iya sumpah sorry bro. Aku pulang umrohnya dipercepat jadi ga bisa beli oleh-oleh. Air zam2nya di balikpapan ga bisa dibawa di solo,".
👩: "Pantesan. Woy, mandi sana. Aku mau belajar habis ini,".
Kami offline setelah percakapan itu.
It was...another usual conversation. Percakapan kami sehari-hari. Tidak kalah biasanya seperti percakapan kami beberapa hari kemudian di suatu siang ketika sedang jam sekolah.
👩: "Jam segini on,".
👦: "Lu juga tolol,".
👩: "Lagi ga ada pelajaran tolol,".
Namun, aku bisa merasakan jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Pipiku juga memerah. Anak ini tiba-tiba terlihat lebih mengagumkan dari biasanya.
Aku akhirnya sadar apa yang terjadi. 31 Agustus 2013, aku jatuh cinta dengan si Penthol Korek.
* * *
Perasaanku ke dia itu ya, baru beberapa hari rasanya aku memahaminya, sudah cepat sekali tersebar. Entah karena emang gosip mulut ke mulut bisa secepat itu atau ekspresiku terlalu kelihatan ketika bertemu dengannya. Apapun alasannya, hal itu menyebalkan.
Aku dan dia kemudian sama-sama bergabung di teater. Itu aktivitas awal yang kami lakukan sama-sama. Aku masih ingat pipiku merah sekali ketika dia terus-terusan memujiku di pertemuan awal. Bukan karena pujiannya sih, lebih tepatnya karena teman-teman di sebelahku terus-terusan menyenggolku dan berkata, "Ciee Antania, dipuji tuh sama Penthol Korek,".
Tolong ya, ini baru beberapa hari.
Well, teman-teman asramaku rasanya lebih memperparah suasana. Like, mereka menggodaku 24/7, indeed, tetapi tidak ada yang lebih memalukan ketimbang kejadian yang akan kuceritakan berikutnya.
Suatu hari, sepulang latihan lomba bahasa Inggris, aku berkumpul dengan teman-teman di pendopo asrama. Biasanya memang ketika tidak ada kegiatan, kami memang berkumpul bersama. Apalagi ketika sore menunggu maghrib datang.
"Eh, An, tadi kita ketemu Rifai lho," Salah satu temanku memulai.
Another one, batinku. "Terus dia gimana?" tanyaku.
"Iya, tadi kan biasa kita bilang, "Fai, dicariin Antania tuh!'. Terus dia bilang, 'Heh, nggak usah gitu. Liat ya, Antania bakalan cantik 3 tahun lagi!',".
As-ta-ga.
Pendopo kemudian ramai dengan teman-temanku yang menanggapi cerita itu satu-satu. Well, karena memang tadi mereka melakukannya bergerombol, tentu saja banyak yang tahu.
"Ciee...katanya cantik 3 tahun lagi!".
"3 tahun lagi, lho!".
"Tapi bukannya itu ngejek ya? Berarti sekarang nggak cantik?".
"Emang iya ya?".
Kepalaku tiba-tiba pusing mendengarnya.
"Udah ah, aku mau mandi," Aku bangkit meninggalkan mereka dengan ekspresi malu yang ditahan. Seriously, stop it.
To Be Continued...
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar