Suatu hari, aku menghabiskan waktu bersama seseorang di meja makan, membahas bagaimana kepribadian teman-teman kami di kampus. Kami menemukan banyak orang yang ternyata kepribadiannya mirip satu sama lain. Well, kemungkinan alasan itu yang membuat satu orang bisa tahan untuk hang out dengan yang lain.
"Tapi nggak semua orang begitu, sih. Ada juga yang...gimana ya, kesannya baru pertama kali ketemu orang kayak dia seumur hidup. Pokoknya kayak cuma dia lah yang kepribadiannya kayak gitu," katanya, membawa diskusi kami ke fokus yang lain.
"Misalnya?" tanyaku.
"Kamu," Dia tertawa. "Kayaknya seumur-umur baru pertama kali ketemu orang kayak kamu. Pokoknya nggak ada yang kepribadiannya mirip kamu,".
De javu, aku sering sekali mendengar hal semacam ini.
"Really?" tanyaku serius.
"Beneran deh, nggak ada ya teman-temanku dari SMP atau SMA yang kepribadiannya beneran mirip kamu,".
* * *
Well, ketika mendengar hal semacam itu, kira-kira alasan terbaik untuk menjelaskannya adalah karena aku INFJ, yang katanya hanya dimiliki 1-3% dari populasi seluruh dunia.
Aku mengetahui hal ini tidak hanya lewat tes, tetapi dari juga dari artikel tentang signs INFJ yang kubaca dari beberapa situs psikologi, terutama yang khusus membahas introvert dan highly sensitive person (HSP). Semua signs si INFJ ini cocok sekali denganku dan sering kualami di kehidupan sehari-hari.
INFJ selalu merasa berbeda semenjak masih anak-anak dan merasa "ditakdirkan" untuk melakukan sesuatu. Karena itulah mereka sangat suka belajar. Indeed, itu yang kurasakan. Aku membaca buku tanpa gambar seperti Habis Gelap Terbitlah Terang sejak masih kelas 2 SD, menyukai topik sejarah sejak TK, dan suka membaca biografi di perpustakaan. Aku merasa...semua itu tidak ubahnya seperti membaca cerita-cerita dongeng favoritku sebelum tidur; menyenangkan dan menghibur. Ketika membaca semua itu, I really took it into my heart dan membawa pengaruh itu ke fase kehidupanku selanjutnya.
Jadi, kurasa alasan kenapa aku punya perhatian lebih ke isu-isu soal bagaimana perempuan harus berdiri sendiri, kenapa perempuan harus mandiri, kenapa aku berpikir perempuan lebih dari sekadar kanca wingking, itu karena buku yang kubaca sejak kecil.
Dari hal-hal inilah aku merasa berbeda, terutama yang disebabkan oleh hobi membacaku. Aku punya values yang berbeda. Aku punya passions yang berbeda. Aku melihat hal dengan caraku sendiri. Most importantly, aku punya duniaku sendiri. Dunia versi aku yang idealis.
Ketika bersosialisasi, INFJ adalah bunglon yang ingin menyenangkan orang lain dan memiliki empati yang besar. Well, ya, lagi-lagi ini yang kualami. Ketika masuk ke sebuah ruangan, entah mengapa aku bisa mendapatkan sense apakah orang-orang sedang bahagia, sedih, atau bosan, lalu segera menyesuaikan diri. Ketika orang menghampiriku, aku berusaha tampil sebaik mungkin untuk membuat mereka senang, meski suasana hatiku sedang tidak enak.
Well, pengecualian untuk orang-orang terdekat, kalau aku memang udah nggak mood, ya udah nggak mood aja.
Ada juga situasi di mana orang-orang sepertinya bisa membuka sesuatu yang mereka simpan ketika mengobrol denganku. Situasinya be like...aku sedang mengobrol dengan teman sekampus yang menurutku total stranger, kemudian tahu-tahu dia sudah bicara tentang masalahnya yang benar-benar private. Atau dia bisa bicara sesuatu yang sama sekali nggak pernah dia ungkapkan ke seseorang yang buatnya total stranger, seperti orientasi seksual, mimpi, pandangannya tentang Tuhan, dan lainnya.
Berkaitan dengan diri sendiri, aku yang INFJ ini adalah seseorang yang perfeksionis setengah mati, memiliki standar yang tinggi, dan punya tendensi untuk self-criticism. Orang-orang yang pernah bekerja denganku selalu bilang, "Kamu tuh perfeksionis banget,". Ketika membagi pekerjaan, standarku selalu merit system. Aku benar-benar memastikan dia bisa melakukannya. All or nothing banget pokoknya. Secara nggak langsung, aku pasti bilang, "Kamu bisa ngerjain ini atau nggak? Kalau nggak bisa, mending aku kerjain sendiri,".
Kalau gagal? Yep, self-criticism pasti bekerja. Aku punya tendensi menyalahkan diri sendiri ketika gagal. Misal, kalau kalah lomba, aku pasti nangis.
Selain itu, aku yang INFJ merupakan HSP. Yep, highly sensitive person. Orang yang sensitif setengah mampus. Aku bisa menangis ketika menonton scene di film yang...sebenarnya nggak menyedihkan sama sekali buat orang lain, tetapi there is something else about it menurutku. Not only that, ketika orang lain tidak mengkritikku dengan cara yang tepat, besoknya aku tidak akan bicara dengan siapa-siapa, tidak mau berangkat ke kampus, dan tidak akan melakukan hal-hal yang kusuka. Ini jatuhnya kayak depresi gitu, tetapi not so extreme menurutku karena aku biasanya segera berdiri. Orangtuaku, for unknown reasons, sudah tahu soal ini. Kalau aku seharian di kamar, nggak pakai laptop, di kasur terus, dan kamarnya gelap, mereka tahu there must be something happened yesterday.
* * *
Awalnya, aku merasa sendirian. No one will ever completely understands me, even my own family. Aku juga pernah berpikir, apa jangan-jangan emang aku doang yang seaneh ini.
But, not so long ago, aku pertama kalinya merasa nggak sendirian.
Aku bertemu banyak orang yang ternyata sesama INFJ. Dengan cara yang tak terduga, sih. Senang sekali rasanya bisa mengungkapkan apa yang kupikirkan dan orang lain bisa menanggapi, "Eh sama, aku juga mikir gitu,", "Ih, I can totally relate!", atau "Oh, kirain aku doang yang gitu,".
Dari semua INFJ yang kutemui, ada satu orang yang membuatku...stunned. Soalnya kesamaan kami tuh emang benar-benar on the spot gitu. Like, we are sibling from another mother. Bertemu dengannya menurutku seperti punya soul sister gitu.
Namanya Zahra. Aku sudah kenal dia lama di kampus, tetapi kami akrab ketika satu kamar untuk event MSNS Batch 61 dari Kemenlu. Pertama kali dia tahu kalau ternyata sekamar denganku, kami literally kayak ibu-ibu muda yang udah lama nggak ketemu. We freaked out, screamed, and hugged each other.
"Ih seneng tahu sekamar sama kamu, Nis! Jadi bisa ngobrol," katanya.
Kemudian, aku siap-siap untuk acara welcoming dinner jam 7 malam. Sementara menungguku, dia duduk di kasur.
"Eh, Nis, kamu tahu tes MBTI nggak?" tanyanya.
"Tahu,".
"Kamu tipe apa, Nis?".
"Aku INFJ,".
"Ya ampun, beneran? Aku juga INFJ! Aku kira Kevin doang yang INFJ di kampus,".
Well, I know him, too. Orang-orang INFJ biasanya memang saling menemukan satu sama lain, kurasa begitu.
We literally found out our similarities. Benar-benar sama gitu. Like, apapun yang dia ceritakan soal hidupnya, aku benar-benar bisa relate dengan hidupku sendiri. Even the smallest thing.
"Aku biasanya punya satu buku buat nulis apapun yang ada di pikiranku. Pasti selalu aku bawa ke mana-mana," ceritanya.
"No way!" sahutku sembari mengambil buku catatanku. "No way! Aku juga gitu!".
Yep, itu pertama kalinya aku menemukan INFJ yang juga melakukannya. It literally made me shook and stunned.
Kami sama-sama menunjukkan buku catatan masing-masing, kemudian tertawa keras.
"Ya ampun, kok bisa sama persis?".
"Ya kan? Aku nggak ngerti lagi!".
Untuk pertama kalinya aku belajar memahami bahwa INFJ itu unik dan spesial. Mereka langka bukan tanpa sebab. Mereka ada untuk...setidaknya membuat dunia sedikit bercahaya. Itu membuatku bersyukur.
So, for fellow INFJs, keep yourself alive!
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar