Futur

Aku memaafkanmu, diriku. Seminggu ini kamu sepertinya sudah jenuh harus baca, baca, dan baca setiap hari. Kamu pasti bosan harus revisi, revisi, dan revisi. Kamu pasti bingung kepada siapa harus bertanya dan mencurahkan perasaanmu yang lelah dan butuh tempat bersandar sementara. 

Aku memaafkanmu, diriku. Ada banyak to-do list tak tercentang tepat waktu. Menumpuk sampai hari Sabtu. Lelah, butuh istirahat, begitu katamu. Kamu ingin menjalaninya pelan-pelan. Kamu butuh motivasi. 

Aku memaafkanmu, diriku. Untuk semua keluh kesah soal sulitnya menabung dan punya pemasukan tetap. Untuk semua keluh kesah tentang bagaimana akhir-akhir ini kamu banyak memendam kebutuhanmu sendiri dari keluarga. Untuk semua lelahmu saat berusaha memenuhi kewajibanmu. 

...

Aku...butuh bersandar kepada seseorang.

Entah mengapa malam ini aku teringat masa-masa SMA. Ketika masih ada seseorang menasihatiku soal kehidupan. Bahwa hey, Tuhan Maha Baik sedang bekerja untuk memprosesmu menjadi lebih baik. Bahwa kehidupan memang keras, tetapi kau berhak menangis karena ada banyak hal yang belum dapat dimengerti hati kecilmu. 

Aku menopang dagu, mencoba mengeluarkan imajinasi terliarku dalam situasi seperti ini.

"Mr. Izz kira-kira bakalan bilang apa sekarang ya kalau aku sedang begini?" tanyaku dalam hati, mencoba menerka-nerka.

Saat ini aku mendadak iri kepada diriku 5 tahun yang lalu. Dulu kalau sedang galau, butuh semangat, dan ada masalah, pasti larinya ke kantor guru setelah pulang sekolah. Sedikit-sedikit pasti datangnya ke Mr. Izz. Sedikit-sedikit pasti menangisnya ke Mr. Izz. Sedikit-sedikit bilang capek ke Mr. Izz. Mr. Izz lagi, Mr. Izz terus. Aku sampai tidak ingat lagi berapa kali dalam seminggu kunjunganku ke ruang guru. 

Ya kali sekarang juga mau ke Solo, Nis, batinku.

Ah, sungguh, aku kangen sekali sama nasihat Mr. Izz di saat-saat seperti ini. Nasihat-nasihat yang membuatku melihat beliau lebih dari sekadar guru favoritku di sekolah, tetapi lebih seperti figur ayah.

Andai saja kalau beliau sekarang di sini, sebelum aku sempat bicara, Mr. Izz pasti berkata, "Kamu pasti ada masalah ya. Ekspresimu kelihatan,".

"Ah, galau terus sih Antania! Semangat, dong!".

Sir, tahu nggak, sih? Antania lagi pingin dinasihatin. Serius, nih. Ternyata kehidupan yang sesungguhnya itu jauh melelahkan ya, Sir? Antania jarang banget sekarang mengungkapkan apa yang dirasakan. Sudah nggak pernah marah-marah seperti dulu di SMA pas Ucup masih ada. Antania sekarang takut mengungkapkan perasaan sebenarnya. Akhir-akhir ini rasanya mau aja diseret ke mana-mana, padahal Antania pingin punya me time dulu.

Selain itu, Sir, Antania banyak pekerjaan, tetapi bingung banget gimana membagi waktunya. Kalau semuanya dibagi, Antania akhirnya nggak punya me time. 

Sir, kenapa ya orang-orang banyak banget yang sulit dimengerti? Pinginnya tuh Antania hidup nggak ada drama, tetapi ada aja orang yang menyeret Antania ke dalam drama.

Sir, kenapa ya jadi orang dewasa sulit? Antania melihat orang dewasa di sekitar Antania terlalu gengsi mengungkapkan perasaan mereka. Orang dewasa di sekitar Antania berpura-pura bisa melakukan banyak hal, padahal sebenarnya mereka butuh istirahat. Orang dewasa di sekitar Antania terlalu kaku dan banyak standar.

Sir, kenapa ya jadi diri sendiri di tengah kerumunan banyak orang sulit? Pinginnya sih, waktunya harus menangis ya menangis. Pinginnya sih, waktunya capek ya bisa tegas bilang kalau lagi capek

Sir, ternyata self-love sulit ya? Sudah susah-susah dibangun kepercayaan dirinya, eh ada aja yang berusaha mematahkan. Sudah susah-susah dibentuk keyakinan, eh ada aja yang bilang kalau Antania nggak bakal bisa. 

Antania harus ngapain, nih?

Nasihatin dong, Sir.



Anissa Antania Hanjani 

Komentar