Sudah berapa lama kita hidup di dunia ini?
Berapa banyak momen yang kita lewati?
Berapa banyak tembok yang sudah dilompati?
Menjawab tiga pertanyaan ini adalah sesuatu yang penting. Terkadang, ada saatnya kita perlu menengok ke belakang untuk mencari sesuatu yang hilang. Kembali melihat masa lalu untuk menemukan hal penting dalam hidup.
Mari melompat ke masa kanak-kanak.
Ketika aku memberi les untuk seorang anak kelas 2 SD, ada perasaan aneh setiap kali muridku bercerita tentang kegiatannya di sekolah. Lucunya, kebetulan SD muridku ini adalah SD tempatku bersekolah, jadi aku benar-benar bisa merasakan sensasi kembali menjadi anak-anak saat dia bercerita. Ketika dia mengejar teman laki-lakinya mengitari seluruh gedung sekolah. Ketika dia menonton video dengan teman-temannya. Ketika dia didongengi oleh gurunya. Ketika dia bermain dengan teman-teman sebayanya.
"Hari ini aku dijahili temanku, terus aku kejar dia ngiterin gedung sekolah. Itu lho, sama kayak Bu Guru dulu!" kisahnya dengan semangat.
Aku seakan sedang melihat diriku sendiri saat duduk di bangku SD. Aku yang tidak ragu-ragu mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan guru. Aku yang selalu semangat bersaing dengan Alif, Bargas, dan Shofa. Aku yang sangat bersemangat ketika guru mengadakan lomba cerdas cermat di kelas. Aku yang selalu bermain trivia tokoh dunia dan ibukota negara dengan Shofa setiap jam istirahat. Aku yang mengejar Ivan mengitari seluruh gedung sekolah karena dia mencoret-coret bukuku, lalu menjewer dan memukulnya sampai dia marah. Aku yang sedang tertawa-tawa bersama Ayu di balkon sekolah, tempat favorit kami dulu. Aku yang sedang mengikuti latihan marching band untuk karnaval. Aku yang bermain peran di teater sekolah dan ikut tampil untuk acara sekolah.
Hal-hal itu membuatku takjub. Aku dulu pernah menjadi anak yang berani. Aku dulu berdiri membela diriku sendiri ketika dijahili. Aku dulu benar-benar tegas dengan perasaanku sendiri. Satu hal lagi, ternyata dari dulu aku memang seambisius itu. Aku suka bersaing dari dulu.
"Wow, dulu aku tidak takut apapun,".
"Ternyata dulu aku tidak ragu untuk mencoba hal baru. Dari marching band ke teater itu tidak mudah,".
"Ternyata dulu aku membela diriku sendiri ketika dijahili,".
Kemudian, halaman berganti ke masa remaja.
Masa-masa SMP dan SMA, kata orang, adalah waktu-waktu yang ajaib. Dari fase bermain, anak-anak kemudian bertumbuh untuk perlahan merasakan kehidupan sedikit demi sedikit. Tugas sekolah semakin sulit. Pertemanan sedikit lebih kompleks. Virus merah jambu mulai mewabah. Cita-cita dan mimpi semakin realis daripada saat masih kanak-kanak.
Aku menatap warisan masa-masa mengagumkan itu di kamarku. Foto bersama teman-teman. Artikel-artikel wawancaraku yang dimuat di rubrik siswa berprestasi. Tulisan-tulisan di buku harian.
Aku melihat sosok diriku versi remaja dalam benda-benda itu. Aku yang menghabiskan waktu di perpustakaan SMP, membaca seluruh novel Harry Potter, Twilight Saga, Serial Cantik, Sejarah Dunia, dan lain-lainnya. Aku yang menghabiskan waktuku mengikuti empat ekstrakurikuler saat kelas IX karena bosan di rumah.
Aku yang tertawa-tawa bersama teman-teman Training Center OSN IPS. Aku yang menghabiskan waktuku di Facebook untuk menyapa teman-teman OSN yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya. Aku yang begitu hidup di lingkaran pertemanan seluas itu.
Sheila, Fahmi, Mblotaman, Fery, Maska, Dennis, Bagus, Roihan, Tohari, Ailsa, Hartono, Ardan, Rahma, Haddad, Jihan, Gerry, Tika-Chan, Krismon, Tere, apa kabar kalian?
Ternyata dulu aku tidak se-awkward itu ketika bertemu orang baru. Aku dulu sangat, sangat antusias bertemu banyak teman, setidaknya di dunia maya.
Grup Ikatan Alumnus OSN di Facebook masih ada dan menjadi jejak digital bagiku untuk kembali ke masa-masa yang sempat bersinar begitu cerah di mataku. Aku ternyata sudah sering bicara dengan 'lu-gue' sejak SMP karena teman OSN rata-rata dari Jakarta dan sekitarnya. Aku bahkan lupa dulu sering sekali menjadi api untuk membakar teman-temanku "perang komentar" di grup. Aku menang kategori best post, juga sempat menjadi teratas dalam pemilihan best member OSN Awards.
Meski tidak pernah masuk tingkat nasional, kebanyakan anak-anak OSN kontingen Jawa Tengah mengenaliku. Anak-anak yang berlomba di tingkat nasional juga mengenalku.
Aku menjadi salah satu so-called anak populer di grup Facebook itu.
Astaga, aku lupa pernah melewati semua itu.
Kemudian, dari SMP beranjak SMA. Public speaking, speech, lalu debat bahasa Inggris. Aku mulai mengenal arti cinta sedalam-dalamnya. Aku yang tertawa bersama Mr. Izz, Mr. Dimas, Pak Win, dan Pak Marwan. Aku yang perlahan tumbuh menjadi dandelion yang bibitnya berterbangan.
Lalu, setelah semua itu, akhirnya kembalilah aku ke masa sekarang.
Mengapa sekarang aku sepenakut ini ya? Mengapa aku sekarang terlalu memikirkan pendapat orang lain? Mengapa aku sekarang rendah diri? Mengapa aku merasa inferior?
Meski tidak pernah masuk tingkat nasional, kebanyakan anak-anak OSN kontingen Jawa Tengah mengenaliku. Anak-anak yang berlomba di tingkat nasional juga mengenalku.
Aku menjadi salah satu so-called anak populer di grup Facebook itu.
Astaga, aku lupa pernah melewati semua itu.
Kemudian, dari SMP beranjak SMA. Public speaking, speech, lalu debat bahasa Inggris. Aku mulai mengenal arti cinta sedalam-dalamnya. Aku yang tertawa bersama Mr. Izz, Mr. Dimas, Pak Win, dan Pak Marwan. Aku yang perlahan tumbuh menjadi dandelion yang bibitnya berterbangan.
Lalu, setelah semua itu, akhirnya kembalilah aku ke masa sekarang.
Mengapa sekarang aku sepenakut ini ya? Mengapa aku sekarang terlalu memikirkan pendapat orang lain? Mengapa aku sekarang rendah diri? Mengapa aku merasa inferior?
***
Rasanya, aku seperti berada dalam dongeng A Christmas' Carol setelah melihat masa lalu dan masa kini. Lalu, bagaimana dengan masa depanku? Masa depan apa yang ingin kulihat? Atau lebih tepatnya, masa depan apa yang menantiku sekarang?
"Belum terlambat untuk mengambil kembali semua yang hilang," kata si hantu ketiga, ketika aku ingin melihat masa depanku.
Aku selalu ingin menjadi perempuan yang ceria dan banyak tertawa. Perempuan seperti teman-teman yang kulihat di berbagai kesempatan, selalu tersenyum cerah bagai mentari di penghujung pagi, dikelilingi teman-teman lainnya.
Selama ini aku sebenarnya perempuan itu. Mengapa aku lupa?
Aku pernah menjadi seberani itu. Aku pernah berdiri menyatakan perasaanku setegas-tegasnya. Aku pernah membela diriku sendiri.
Aku pun pernah menjadi perempuan seperti itu. Perempuan yang tertawa-tawa bersama teman-temannya. Aku pernah bahagia.
Dan aku belum terlambat untuk kembali merasakannya.
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar