"Antaniaaa...ada Rifai, tuh!".
"Cieee...dicariin Rifai tuh, An!".
Well, tinggal di satu asrama bersama puluhan anak perempuan membuatku sulit menjaga rahasia. Sulit menjaga privasi. Lalu yang terpenting, sulit menyembunyikan perasaan.
Gimana ya, aku dari dulu tipikal paling berisik kalau jatuh cinta. Kalau ketemu sama orangnya, pasti tunggu agak jauhan dikit ya, habis itu aku bakalan teriak, "Kyaa!! Ya ampuun!!". Apalagi kalau sudah di rumah, pasti tambah heboh lagi. Ceritain tentang si dia lagi, si dia lagi, sampai mulutnya berbusa dan kuping orang-orang di sekitarku jadi sakit semua.
Yah, sayangnya nih, aku tidak bisa melakukannya di sini. Ketika aku hidup bersama puluhan orang yang masih asing dan suka bergosip. Apalagi ketika norma menjaga jarak dari yang bukan mahram diterapkan di tempat ini.
Aku sudah berkali-kali kena tegur di awal semester. Oleh wali kelasku, musyrifah-musyrifahku di asrama, juga beberapa teman sekelas. "Antania, kamu nggak boleh terlalu dekat sama ikhwan,", "Antania, jaga pandangan,", "Antania, suaramu terlalu keras,".
Ah, susah juga ya. Apa karena dulu aku di sekolah negeri ya?
Masalahnya tidak hanya di situ saja. Aku juga sudah bertepuk sebelah tangan ketika memulai kisah cintaku di SMA. Aiihh...tentu saja, orang yang dia sukai tentunya gadis paling cantik di sekolah yang hafalan Al Qur'an nya banyak. Dia bolak-balik menyuruhku minta nomornya waktu OASIS dulu.
Dan Rifai akan memberinya cokelat.
"An, kamu tau nggak Rifai mau ngasih dia cokelat?".
"Kamu nggak cemburu tuh, An?".
Cemburu lah, bawel. Ga usah sok menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah sangat pasti.
Ketika sudah mempersiapkan diri untuk kabar terburuk, tersiar kabar dari kelas-kelas ikhwan di lantai 1: Rifai ditolak! Cokelat dari Rifai ditolak! Cokelat itu kemudian dimakan Dziban yang sama-sama menyukai gadis itu.
Aku tidak bisa berhenti tertawa saat mengetahuinya.
"Yes, dia ditolak sekarang!" kata inner-self ku puas.
* * *
Tahun pertama, lomba-lomba pertama.
Setelah sekian lama berlatih, aku mengikuti lomba pidato bahasa Inggris. Aku, Yusuf Habibi, Rifai, dan beberapa teman kami lainnya hari itu berangkat ke kantor Penerbit Erlangga di Semarang untuk mengikuti Erlangga Speech Contest. Exciting, jelas. Pertama, karena pasti akan melewati kota yang aku tinggali. Kedua, aku melakukan perjalanan dengan Rifai.
Namun, hal yang agak menyebalkan terjadi saat hendak berangkat di pagi hari.
"Antania, kamu jangan di belakang. Kamu duduk depan, deh," perintah Mrs. Dee, guru yang mendampingi kami ke lomba.
Aku tahu alasannya. Apalagi kalau bukan karena aku dan Rifai terlalu...dekat.
Aku membawa laptop sepanjang perjalanan, jadi aku bisa nyetel beberapa lagu K-Pop di mobil sambil ikut larut dalam percakapan teman-teman lainnya. Kami saling berbagi cerita dan kesukaan seraya menikmati perjalanan. Berkat itu, kami jadi kenal satu sama lain. Yusuf yang emosian setengah mampus (karena aku dan dia pernah bertengkar di lapangan upacara sebelum pelantikan OSIS), tetapi ternyata cerita hidupnya menarik. Rifai yang ramai dan supel. Aku yang...random? Juga Dewi dan Imes yang hanya menimpali. Hanya Wafa yang tidak bicara sama sekali.
"Eh, Nis, itu yang kamu putar soundtrack-nya Rooftop Prince kan?" tanya Rifai.
"Ih iya, kok kamu tahu?" tanyaku.
"Aku juga nonton! Ending-nya sedih nggak, sih?".
"Lho, kamu nonton? Serius? Aku suka drama itu!" timpalku.
Dan inilah dia inner-self ku berkata dengan puas, "Oho, kita punya kesukaan yang sama! Asyik! Yes, yes, yes!".
Berkat obrolan-obrolan di mobil, lamanya perjalanan Solo-Semarang tidak terlalu terasa. Rasanya seperti masuk ke dalam time-warp: tahu-tahu saja termakan gelombang waktu, kemudian sampai di tujuan.
Aku dan Rifai berjalan bersama saat memasuki kantor Erlangga untuk mengikuti upacara pembukaan. Entah mengapa, ketegangan meliputi seluruh tubuhku. Padahal, aku sudah berlatih keras. Aku juga ranking 1 di seleksi tingkat sekolah. Kenapa rasanya gemetaran sekali?
Begitu duduk di aula untuk mengikuti pembukaan, aku membuka mulutku.
"Fai, aku tegang banget," kataku.
"Gapapa, Nis, kan kamu udah latihan," jawab Rifai yang duduk di depanku.
Aku semakin overthinking.
"Tapi kan banyak yang lebih bagus. Gimana coba? Mana...".
Laki-laki itu tiba-tiba saja membalikkan badannya.
"Bismillahirrahmanirrahim, Nisa! Kita pasti bisa!" ujarnya yakin.
* * *
Seleksi baru saja selesai. Aku tahu tadi penampilanku kacau saking tegangnya, tetapi syukurlah akhirnya selesai. Aku sudah nggak tahan lagi.
Aku menemukan Rifai terduduk di salah satu kursi di depan bilik ruangan seleksinya. Begitu melihatku, dia memberiku kode untuk duduk di dekatnya. Seleksinya masih berlangsung, tetapi sepertinya baru aku dan Rifai dari sekolah kami yang sudah selesai.
Sesaat, kami hanya diam. Aku hanya menatapnya tanpa henti seperti sedang memperhatikan karya seni. Tersenyum, karena untuk sekarang kami bisa berdua saja. Tercenung, karena orang yang kusukai sama sekali bukan tipe cowokku yang biasanya. Mantan pacarku orang yang cerdas dan lebih banyak diam, sementara Rifai...well, kalau di kelasku aku dijuluki sleeping beauty, mungkin dia sleeping handsome-nya karena di kelas dia juga sering tidur saat pelajaran.
"Semarang ternyata keren ya, Nis. Aku pengen ngajak ummiku ke sini kapan-kapan," ujar Rifai memecah es keheningan di antara kami berdua.
"Aku sih udah sering ke sini. Ajak aja ummimu kapan-kapan, I," tanggapku. "Aku sih pengennya ke Jogja. Udah lama nggak ke sana,".
"Eh, Jogja? Keren, tuh,".
"Iya. Aku dulu sering ke sana waktu Papa masih kerja kantoran. Biasanya kita backpacker-an gitu, terus jalan dari Jl. Malioboro ke Jl. Pasar Kembang buat nyari hotel,".
"Eh, keluargamu asyik ya. Aku pengen banget dari dulu kayak gitu, tapi ummiku kalau diajak jalan jauh capek. Dulu waktu sama abiku, kita naik mobil bareng-bareng gitu. Nanti kalau mau istirahat berhenti di jalan,".
Oh, abinya, batinku. Aku ingat sekilas dia pernah cerita bahwa abinya sudah meninggal. Puisi berjudul Pohon Sidra yang dia bacakan waktu lomba di Goro Assalam merupakan karya abinya.
Aku hanya mengangguk mendengarkannya.
Rifai kemudian mengarahkan badannya kepadaku, lalu bertanya, "Orangtuamu sekarang kerjanya apa, sih?".
"Mereka buka kafe kecil di akademi keperawatan. Biasanya ramai, sih," jawabku. "Jadi kepikiran deh, gimana nanti, kalau sempat, kita makan siang di sana?".
"Boleh tuh, boleh,".
Kami tertawa.
BRAK! Suara benda jatuh tiba-tiba menyela tawa kami. Seseorang rupanya dengan kikuk menjatuhkan barang-barangnya di lantai.
Sesaat itu entah mengapa semua terasa seperti film-film percintaan remaja. Kami terkejut, kemudian saling menatap lagi dan tawa lepas kembali terdengar di antara kami.
Seakan kami berdua lead couple yang terjebak dalam suasana canggung yang lucu.
"Eh, Mbak yang tadi dari tadi ngeliatin kamu terus. Pasti lagi mbatin deh kenapa ada makhluk kayak kamu. Aneh minta ampun," candanya.
"Ih, apaan. Berhenti genitin cewek kenapa sih, Fai!".
Ketika seleksi berakhir, kami berkumpul bersama teman-teman sekolah yang lain. Karena waktu sudah siang, kami memutuskan untuk salat Zuhur berjamaah di musala dekat kantor. Rifai, Yusuf, dan Wafa berjalan di depan kami, sementara aku, Dewi, dan Imes di belakang mereka ke arah tempat wudlu putri.
"Nis, Nisa! Lihat deh, Nis!".
Terdengar Rifai dan Yusuf Habibi memanggilku bersamaan. Ketika aku berpaling ke arah sumber suara, mereka melakukan gerakan-gerakan dance paling aneh yang pernah kulihat.
Mereka ternyata seru banget. Aku sudah lama tidak punya teman seseru ini.
Entah mengapa, aku merasa bahwa inilah awal mulanya. Awal bagaimana jalan hidupku, Rifai, dan Yusuf akan terus bertemu sampai tahun-tahun berikutnya.
* * *
Usai salat Zuhur, pengumuman hasil seleksi akhirnya keluar. Tidak ada yang lolos dari kami semua ke babak final selain Wafa. Meski sedih, aku merasa realistis karena memang tadi penampilanku tidak sebagus saat latihan. Yusuf kesal mendengar pengumumannya, kemudian langsung bercerita ke umminya. Sementara Rifai sedih sekali.
"Nis, kita hibur Rifai, yuk. Dia sedih banget," ajak Yusuf.
"Oh, oke," Aku mengangguk setuju. But, please tell me cuma kita bertiga aja, aku nggak mau diganggu yang lain, tambahku dalam hati.
Seakan pikiranku langsung terbaca, Yusuf buru-buru menambahkan, "Jangan ajak-ajak yang lain. Mendingan kita berdua aja,".
Yusuf kemudian memimpinku berjalan ke sebuah sofa di koridor kantor. Di sanalah Rifai duduk sendirian, sembari menyalakan laptop dan memasang headset, berpura-pura tidak menyadari kedatangan kami berdua. Aku dan Yusuf saling menatap, kemudian kami duduk bersamaan di kanan-kiri Rifai.
"Fai, kamu nggak apa-apa?" tanyaku.
Rifai hanya diam. Benda terkutuk itu menempel di telinganya, bodoh tentunya aku untuk berekspektasi dia akan menjawab.
Yusuf gerah melihatnya. Gerakan tangannya menuju ke arah benda terkutuk itu dan menariknya dengan paksa, membuat Rifai terkejut dan memasang tatapan kesal. Yusuf melayangkan tatapan galaknya, kemudian berkata, "Anissa udah di sini! Kamu bisa nggak sih dengerin dia sekarang?".
"Iya, iya," jawabnya terpaksa.
Aku menarik napas dan mengumpulkan kata-kata, "Semua pasti ada menang-kalah, kan? Kita masih punya kesempatan tahun depan, lho,".
Tidak ada jawaban. Dia mengacuhkanku dengan laptopnya lagi.
"Kamu tuh dengerin aku nggak, sih?!" ucapku marah, diikuti dengusan kesal Yusuf Habibi yang tangannya sudah gatal ingin menutup laptopnya.
"Iya, aku tahu," jawabnya datar.
Ekspresi Rifai tiba-tiba berubah ceria. Dia kemudian menggeser posisi duduk dan laptopnya lebih dekat denganku seraya berkata, "Nis, Nis, lihat deh!".
Dalam sekejap, percakapan sudah beralih begitu saja menjadi video cover dance yang sedang dia tonton ketika mengacuhkanku.
"Cuma adikku yang suka," Aku balas menjawab datar, tidak suka dengan caranya mengalihkan percakapan.
"Beneran? Aku suka banget kayak ginian! Kadang waktu mandi aku nyanyi-nyanyi sambil dengerin lagu ini,".
Yusuf tersenyum. "Aku juga suka dengerin musik," timpalnya.
"Oh gitu ya," Aku tertawa. "Hum, aku suka nyanyi. Aku juga suka musik. Tapi, aku nggak di kamar mandi biasanya," Aku berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan kalimatku, "Aku suka nyanyi di depan kaca,".
Mendengarnya, Rifai tertawa, diikuti Yusuf, kemudian aku setelah mendengar mereka berdua tertawa. Mata Rifai berbinar-binar menatapku dan dia menunjuk-nunjuk ke arahku. "Hey, kita sama!" sahutnya. "Keren! Aku juga suka kayak gitu! Kamu juga?".
Semu merah menjalari pipiku.
"Nggak nyangka ya ternyata kesukaan kita banyak samanya," sambung Rifai dengan tawanya.
Makanya, kenapa kamu tidak balik menyukaiku saja, batinku.
Aih, mikirin apa sih kamu, Nis? Kamu kan masih ada OSN setelah ini! Bisa-bisanya ya mengisi kepalamu dengan cowok!
"Eh, kita mau nonton Wafa nggak, nih? Pasti ditungguin yang lain," ujarku ketika teringat perintah Mrs. Dee untuk menonton babak final Wafa.
"Aku males ah, di sini aja," kata Rifai.
"Aku juga males. Mendingan kita ngobrol di sini," timpal Yusuf.
Kami bertiga tertawa lagi. Seperti trio usil yang sudah menemukan markas rahasia, kami melanjutkan obrolan panjang lebar sampai mataku lengket dan terpejam.
* * *
Jepret!
Suara kamera membuat gelombang otak mengirim sinyal kepadaku untuk bangun. Bayangan Rifai dan Yusuf Habibi terbentuk ketika mataku terbuka. Sebuah HP kamera tergenggam di tangannya, diikuti suara tawa dua cowok itu.
Aih, pasti wajahku memalukan saat tidur!
"RIFAI!!! AWAS YA KAMU!! HAPUS NGGAK FOTONYA?!" teriakku kesal. Yusuf dan Rifai tertawa-tawa melihat wajah kesalku, lalu berlari menuju arah aula tempat babak final. Ketika menyadari jam berapa sekarang, aku sadar ternyata finalnya belum mulai.
"Ih hapus fotonya! Nyebelin banget, sih!" kesalku.
"Iya, iya! Ini aku hapus,".
Aku kemudian duduk di belakang barisan Mrs. Dee dan rombongan, teringat rencana bahwa kami harus duduk bergerombol untuk memberikan Wafa semangat. Yusuf duduk di sebelah Dewi, sementara Rifai duduk terpisah dari kami semua. Ketika mataku menemukannya, aku menatapnya kesal karena lupa dengan rencana untuk memberi Wafa semangat.
"Hey, duduknya gerombolan dong!" tegurku.
Rifai segera berdiri dan pindah ke barisan kursi rombongan kami. Ketika kupikir dia akan pindah ke sebelah Yusuf Habibi, darah kembali menjalari pipiku saat Rifai malah duduk di sebelahku.
Bukan di sebelahku juga kali ah, batinku malu.
ini isinya curhatan terselubung sepertinya, wkwkwkwkwkwkwkwk
BalasHapus