Dasar bodoh, batinku.
Beberapa kali setelah membaca tulisan-tulisan di sini, ada satu kemajuan yang menurutku patut dirayakan. Kemajuan yang akhirnya tercapai juga di usia ke-22 tahun.
Akhirnya, aku resmi meninggalkan status anak nolep.
Akhirnya, aku perlahan-lahan memahami bagaimana menjalin hubungan dengan orang lain, memperjuangkan hubungan dengan orang lain, juga bersikap cool dan chilling. Sesuatu yang selama ini...sulit kulakukan. Aku selalu saja overthinking soal pertemanan.
Beberapa waktu lalu, sebulan atau dua bulan dilewati tanpa ngobrol dengan Adam, aku bicara dengannya dari kosan Rifai di Jogja. Ngalor-ngidul menanyakan kabar, cerita soal pekerjaan dan kesibukan, kemudian saling angguk-angguk. Karena lama-kelamaan pola kehidupan kami semakin mirip.
"Lama-lama aku bisa relate sama kamu, Nis. Karena tiap kali aku berusaha making sense kejadian-kejadian di hidup ini, aku selalu mikir apakah kamu juga ngalamin hal yang sama dan apa yang kamu pikirin," ucapnya lewat telepon
"Aku juga ngerasa gitu," ujarku.
Padahal, sepertinya baru beberapa minggu lalu aku berkata kepadanya, "Kayaknya aku nggak bisa kalau dinamika pertemanannya gini terus. Mungkin ke depan aku nggak bisa deket lagi kayak sekarang," dan resmi berakhir. Baru beberapa minggu lalu aku udah hanging dan berkata kepada diriku sendiri bahwa ya memang hubungan dengan orang ada yang tidak berjalan lancar, salah satunya dengannya.
"Okay, kalau udah mau kamu niatin, Nis. Padahal, niatnya aku mau ngobrol dulu sama kamu,".
Snap. Hanya butuh satu kalimat itu untuk menamparku.
Eh goblok, ga seenak jidat gitu juga, makiku kepada diri sendiri.
Cut off? Lupakan saja. Akhirnya yang kulakukan adalah bertanya, "Jadi, apa yang mau diobrolin? Aku mau dengerin dulu,".
Anissa Antania Hanjani punya satu kelemahan krusial: seringnya dia tidak mendengarkan orang lain. Di satu sisi memang itu bagus, itu akan membantu dalam membuat keputusan krusial. Namun, di sisi lainnya, ini membuatnya jadi luar biasa batu. Baru akan dengerin kalo udah ngalamin hal-hal enggak enak atau kena kejadian besar yang bikin kapok.
"Kamu kosong minggu ini, Nis? Mau main nggak?" tanyanya di chat.
"Boleh deh, di mana?".
"Di Pelangi gimana, Nis?".
"Boleh,".
Dan akhirnya, ketika kami bertemu, aku tidak lagi merasakan ada diam di antara aku dan Adam. Tidak lagi terbawa vibes deep conversation yang membosankan.
Aku mengibaskan rambutku dan tertawa.
"Rambutku baru aku coloring lagi di salon, nih! Jadi chesnut blonde!" pamerku.
"Hih sumpah aku pangling, Nis! Cantik banget!".
Dan obrolan kami hanya tinggal seperti derasnya air sungai saja. Dengan aku yang bersikap seperti biasa: seperti anak-anak yang bertemu teman favoritnya.
"Eh sori, aku gagal fokus dari tadi ngeliat rambutmu. Bagus banget!" pujinya.
"Hehe, stylist-nya berpengalaman banget, kan?".
* * *
Jujur, boleh dibilang aku sampai sekarang masih nggak percaya.
Alih-alih seorang yang pendiam dan tertutup, ternyata aku adalah kelinci iklan baterai Energizer. Ngomong terus ga berhenti kalau vibes-nya dapet. Semua orang berpusat kepadaku ketika bateraiku sedang full-charged. Aku yang biasanya menghindari orang baru, tiba-tiba bisa mendekati circle Rifai satu-satu dan berkata:
"Eh boleh dong follow Instagram-nya?",
"Oh, Kakak anak TikTok ya? Aku juga main, lho!".
"Lo sedih kenapa? Boleh tau?".
"Eh, sini kita nyanyi bareng!".
Alih-alih seorang yang reserved, ternyata aku suka bertemu orang baru. Aku semakin ingin mengenal lebih banyak orang, memperluas jaringan, mencicipi kehidupan yang macam-macam.
Yah, siapa yang melarang, kan?
Usiaku masih 22 tahun. Masa muda begitu bersinar, bukan?
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar