Awalnya aku berpikir memang semesta mendesain perjalanan ini untuk menghilangkan rasa stresku. Karena sakit berhari-hari akibat stres menumpuk, semesta ingin aku beristirahat sejenak.
Awalnya aku berpikir perjalanan ini adalah semua tentangku dan relaksasi yang kualami. Meski pada dasarnya ini business trip selayaknya orang berkarier secara umum, perjalanan ini sudah kunanti karena memang pandemi membuatku tidak bisa melakukan traveling. Aku ingin mengeluarkan semua stres yang menumpuk dalam hatiku.
Perjalanan ini kumulai pada hari Selasa lalu, dengan kondisi badan masih lemas dan kurang bertenaga. Dengan menggunakan travel Joglosemar, aku melakukan perjalanan menuju Klaten untuk staycation di rumah Ayuski, memenuhi janjiku liburan di sana. Hanya butuh waktu 1,5 jam untuk tiba di perbatasan Kartasura-Klaten via jalan tol, lalu Ayuski akan menjemputku di sana.
Dan benar saja, setibanya di rumahnya di Klaten, aku langsung sembuh begitu mataku termanjakan oleh balkonnya yang strategis: menghadap sawah dengan langit berbintang di malam hari.
Keluarga besar Ayuski adalah orang-orang yang ramah. Eyangnya membuatku merindukan eyangku sendiri yang sudah lama tiada. Sesekali telingaku dimanjakan oleh gending-gending yang dimainkan Aang lewat gendarnya. Aku menghabiskan hariku berinteraksi dengan mereka dari pagi sampai sore. Kemudian, sisa waktuku adalah me time: bekerja diterangi pemandangan sawah dan langit berbintangnya di malam hari.
Aku sangat, sangat beruntung.
Setelah dua hari menginap, perjalananku dilanjutkan ke Jogja di hari Kamis menggunakan kereta api dari Stasiun Klaten Kota. Aku sangat beruntung dapat menginap di hotel berbintang 4 dengan harga 53 ribu saja, setelah malam sebelumnya benar-benar desperate mencari kamar. Ditambah fasilitas infinity pool yang dapat kurasakan pertama kali dalam seumur hidupku di sana. Ditambah menu grill bonus shabu saat mencari makan malam di area sekitar sana.
Sisanya adalah pekerjaan.
Ya...kupikir ceritaku hanya sebatas itu. Hanya sebatas aku relaksasi, kemudian selesai di situ saja. Tidak, tidak demikian ternyata.
Selama melakukan perjalanan, aku dipertemukan kembali dengan orang-orang yang kusayang. Sahabat yang selalu khawatir akan well-being dan keadaanku. Mentor yang selalu mendukungku. Aku menghabiskan hari-hari dengan waktu-waktu berkualitas bersama mereka di sela pekerjaan dan kuliahku. Membicarakan tentang hubungan eksklusif yang kami punya satu sama lain.
Juga, merasakan hangatnya pelukan orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat.
Aku tersenyum setiap kali Ayuski mau menemaniku di balkon rumahnya, bahkan ketika di tengah rapat Zoom yang sedang kulakukan. Ada keheningan menyelimuti kami berdua dengan nyamannya. Dia membaca tulisan Robert Greene favoritnya, sementara aku menyimak apa yang disampaikan dalam rapat. Hanya dengan mengetahui dia berada di sampingku, aku tahu ada cinta di sana. Dalam perhatian dan kepeduliannya.
Kemudian, aku bertemu kembali dengan mentor pertamaku. Kali ini di rumahnya yang sederhana, aku mendengarkan cerita-cerita ketika diriku masih menjadi seorang remaja putri di SMA. Tentang fana merah jambu yang berkesan, juga tentang kenangan masa lalu yang begitu rumit. Juga, mengenang kembali seseorang yang menyayangiku seumur hidupnya.
"Ketika masih hidup, pernah nggak dia mengatakan sesuatu tentangku?" tanyaku.
"Beberapa hari sebelum meninggal, dia pernah menemui saya," jawabnya. "Saat itu dia berkata dalam bahasa Inggris, 'Sir, there are only two best friends I have: Antania and Rifai',".
Aku tahu genangan air sudah berada di ujung mataku.
"Teman-temannya memang sulit memahaminya. Musiknya, kesukaannya, dirinya sendiri. Namun, baginya, hanya kamu yang bisa memahaminya dengan baik. Kalian memang bertengkar, itu wajar dalam setiap hubungan. Namun, saya tahu kalian lebih kuat daripada apapun," tambahnya.
Ah, ternyata kata-kata terakhirnya merupakan sebuah konklusi dari benang takdir yang menghubungkan kami. Bahwa memang hubungan kami sangat rumit dan aku sempat mendorongnya keluar dari hidupku. Namun, sebagaimana Freddie bercerita dalam These Are The Days of Our Lives. orang ini mensyukuri pertemuan kami dan berkata kepadaku dalam kematiannya yang indah:
"When I look, and I find, I still love you,".
Setelah cukup waktu bagiku untuk mencerna cerita itu, aku berkata kepada mentorku, "Seandainya aku lebih baik saat dia masih hidup...".
Aku tahu betapa sia-sianya mengatakan hal tersebut sekarang. Perkataan ini tidak akan membuatnya berjalan kembali di muka bumi untuk memelukku lagi. Namun, hanya inilah satu-satunya yang dapat kukatakan ketika menyadari betapa buruknya tabiatku terhadap orang-orang yang kusayang dulu.
Yah, satu-satunya jalan membuatnya berjalan di muka bumi ini lagi adalah membiarkannya hidup di dalam diriku. Menghidupkannya dalam tindakanku.
Aku juga menemui kesulitan dalam perjalananku. Ketika pekerjaanku di Jogja dimulai, ada banyak hal yang kulakukan untuk mencurahkan hati dan pikiranku di sana. Being professional, meski dua kata tersebut belum tentu dimaknai sama oleh lainnya. Rasanya seperti berada dalam kapal yang hampir tenggelam di samudera luas.
Namun, bukankah awak kapal yang setia harus tetap berada di kapal? Itulah yang akhirnya kuputuskan.
Meski hak prerogratif keputusan itu sepenuhnya milikku, mentor keduaku tidak menyukai ide tersebut. Kami berdebat semalaman di telepon mengenai hal tersebut. Aku tahu betapa menjengkelkannya keputusan yang kubuat dan keadaan yang membuat keputusan ini terjadi membuat orang ini tidak kalah jengkel. Karena aku mengorbankan dunia abstrak yang mati-matian kubangun dan kujaga. Namun, aku ingin menyelamatkan kapalnya, sekecil apapun usahaku itu.
Debat panjang itu berakhir kira-kira satu jam kemudian. Setelahnya dia berkata kepadaku, "Malam ini kita emang debat, Nis. Tapi gue bangga sama lo. Emang ini Nisa yang gue kenal. Nisa yang tulus,".
Aku merasa bendungan dalam dadaku jebol mendengarnya.
Aku berpindah ke kafe dekat penginapan setelah restoran ditutup. Sembari menatap keramaian di sana, kami bercakap-cakap secara virtual.
"Aku...minta maaf," ujarku. "Mas sama hebatnya dengan mentorku yang dulu. Aku belajar banyak hal juga dari Mas. Aku mungkin masih nggak bisa buat jadi pendengar yang baik...".
"Itu proses kok, Nis, lo pasti bisa,".
Keesokan paginya, aku mengunjungi seseorang yang kukenal tujuh tahun lamanya. Aku sudah mempersiapkan kado untuknya sejak Rabu lalu. Ketika membelinya, aku berpikir, "Aku nggak tahu ini seleranya atau bukan sih, tapi semoga aja suka,". Dua buah sheetmask dan eau de perfume edisi zodiak Aquarius. Padahal, hum, dia Capricorn kan ya?
"Hai, Nis! Hug me first!" sambut Rifai.
Begitu memasuki ruangannya, aku disambut pelukan familiar yang selalu kukenal. Pelukan hangat yang selalu membuatku tenang.
I've been missing you, batinku.
Kami baru saja melewati salah satu masa menjauh dari tujuh tahun pertemanan kami. Karena itulah rasanya lega sekali bertemu dengannya seperti ini.
"I am so sorry for whatever happened between us," katanya.
"It's okay. Gue juga salah, kok," balasku.
Begitu aku duduk di kasur, Rifai berdiri dari duduknya dan mendekati lemari tempatnya menyimpan barang-barang.
"Gue juga nyiapin sesuatu buat lo!" ujarnya.
"Apaan, jangan aneh-aneh lho!".
"Ini gue beli waktu di Malaysia. Nggak ada di Indonesia kalo ini dan agak pricey. Ini skincare favorit gue, tapi karena ini lo, jadi gapapa deh! Buat lo aja,".
Aku mengantisipasi rasa penasaran yang tiba-tiba menguat.
"Lo hadep sana dulu deh, Nis!".
Sesaat, aku sadar bahwa memang dia selalu begini. Such a kid at heart. Meski dia membuat berbagai keputusan sebagai orang dewasa, hatinya selalu seperti anak-anak. Apapun yang dia berikan atau rekomendasikan kepadaku adalah benda-benda atau tempat-tempat favoritnya, persis seperti anak kecil yang memberikan mainannya yang paling berharga. November tahun lalu saat bertemu di Jogja, dia membelikanku gelato dan nasi goreng favoritnya. Kemudian saat di Jakarta, karena aku terlalu asyik menimang-nimang boneka panda yang dia menangkan, akhirnya dia berkata kepadaku, "Bonekanya buat lo aja deh, Nis,".
"Nah, liat deh! Ini buat lo!".
Dia memberikanku sebuah cleansing foam yang tidak familiar, tetapi kemasannya menarik dan mayestik. Oh dan...
"Apaan, nih! Hey!" Aku tertawa melihat sebuah boks kecil dalam genggamanku.
"Itu buat jokes, kok! Hahaha,".
"Ih, lo geblek banget sih!".
Yah, bagaimana aku harus menjelaskan kepada orangtuaku saat mereka menemukan benda ini di kamarku? Dasar geblek.
Kami kemudian menghabiskan waktu dengan mengobrol. Dia baru saja membeli salad buah saat aku datang, jadi kami berbincang sambil brunch.
Komentar
Posting Komentar