We Met, Cherished, and Then Part Away

(BGM: IKON - Love Scenario)

Ah, tiga tahun lalu ya.

Tiga tahun lalu, kita resmi bertemu. Awalnya canggung, sih. Aku sulit untuk terbuka dengan orang yang baru kukenal dan kamu terlalu pendiam. Banyak perasaan frustasi dan bingung ketika itu terjadi. Harus aku apakan kamu? Harus bagaimana hubungan kita? 

Aku hampir selalu bergantung kepada orang-orang di sekitarku untuk terbuka duluan. Kalau mereka terbuka, aku terbuka. Kalau mereka bercanda, aku akan mengikuti candaannya. Seperti itulah aku memulai semuanya dengan semua orang, kecuali denganmu.

Karena itulah aku selalu berusaha menyesuaikan diri denganmu. "Memaksakan diri" untuk fit in dalam hubungan eksklusif ini. 

Awalnya sulit, tetapi lama-kelamaan menyenangkan. Aku sangat menyayangimu. Betapa pun kesalnya ketika kita bertengkar, aku sadar kamu adalah orang yang berharga. Tidak dapat kugantikan dengan apapun juga. Cerewetnya kamu ketika aku sembrono, cerewetnya kamu ketika aku mengerjakan tugas kebut semalam, juga ketika aku terlalu banyak whining saat sedang down. Ketika teman-temanku yang lain mengajakku diskusi atau hanya mendengarkanku saat aku sedang dalam mode menjengkelkan, kamu akan fight balik.

Kamu memang seperti itu, kan?

Kita tidak punya kesamaan apapun. Sama sekali. Sebanyak apapun kita tahu kesukaan masing-masing, batas kita tak lebih dari apa yang terlihat sehari-hari. Kamu dan Stitch. Aku dan Arashi. Kamu dan Disney. Aku dan cokelat. Kamu dan feminisme. Aku dan konstruktivisme. 

Yah, itu alasan lain mengapa aku "mencoba" untuk fit in denganmu. Karena salah satu dari kita harus melakukannya.

Namun, aku juga manusia biasa, kau tahu?

Aku juga ingin melakukan apa yang kau lakukan dengan teman-temanmu. Aku juga ingin melakukan kegiatan yang biasa kulakukan dengan teman-temanku bersamamu. Aku juga ingin sesekali kamu melihat dari sudut pandangku. Mencoba, setidaknya, melihat dari mata dan pikiranku. Sebelum kau berkomentar lebih jauh lagi mengenai apa yang kupikirkan, bisakah melihat ke dalam hatiku?
 
Hanya karena kau tidak merasakan apa yang kurasakan, bukan berarti perasaan itu invalid, bukan?
 
Kalau memang kau tidak bisa berhenti membawa bayang-bayang masa lalu diriku ke dalam apa yang kita bicarakan sekarang, kurasa, ya sudah. Aku tidak ingin terperangkap dalam masa lalu. Kamu juga pasti lelah dengan semuanya.
 
Lebih baik kita akhiri saja pertunjukan ini dan tutup gorden merahnya.
 
Kita telah bertemu dan mengasihi satu sama lain. Kita telah berkorban untuk satu sama lain. Namun, aku sadar tidak ada yang baik dari hubungan tanpa titik temu. Tanpa common ground, tanpa sesuatu untuk menjadi landasan kita berpijak, juga kesamaan.
 
Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Namun, aku juga ingin seseorang memenuhi rasa cinta itu dengan sesuatu yang riil dan dapat kurasakan. Sesuatu yang tidak harus tersurat, hanya perlu memahami bahasa cinta apa yang kuinginkan. Aku tahu adalah kesalahanku karena tidak memberitahu dengan jelas keinginan itu, tetapi bukankah seperti katamu, "Seharusnya kita sudah bisa saling memahami,"?
 
Dan iya, kau benar. Aku memang berubah. Berkali-kali aku peringatkan bahwa karena perubahan inilah sebaiknya kita tidak membicarakan hal-hal tentang kita secara virtual, tetapi pada akhirnya inilah yang kita lakukan. Ketikkan kata demi kata, kemudian marah karena tidak memahami makna sesungguhnya. 

This is the end of our love scenario.
 
Dan aku sudah bahagia sekarang, apapun akhirnya.




Anissa Antania Hanjani

Komentar