Kangen

Sudah hampir lima tahun berlalu, bukan begitu?

Aku memandangi bekas gores demi gores peristiwa hari itu. Tentang pertama kali kau menitipkan adikmu kepadaku dan berkata, "Sana ikut Mbak Nisa belanja bulanan!". Tentang rasa khawatirku akan keadaanmu. Tentang keraguanku terhadapmu.. 

Aku menghela napas panjang malam ini. Malam-malam panjang tanpa hadirmu membuat pikiranku berlarian tanpa henti. Selalu saja kutanyakan kepada semesta mengapa dan bagaimana. Mengapa harus kamu? Bagaimana jika semesta berkata lain? Mengapa harus aku? Bagaimana jika semesta memberi garis lebih panjang untuk takdirmu? Takdir kita?
 
Teringat suatu siang ketika matahari tertutup kabut-kabut noda. Ketika guguran api menurunkan hujan tak biasa. Aku dan kamu hanya duduk berhadapan di lantai tiga, memandangi satu sama lain dengan senyuman. Aku menanti sesuatu yang ingin kau katakan. Aku menunggu saat-saat kau dapat bercerita dengan nyaman. Kemudian aku akan berkata kepadamu, "Tidak apa-apa,", membuat senyumku memelukmu dengan hangat.
 
Dahulu, ada satu kata yang aku selalu tunggu darimu. Ketika kisahmu telah usai, kau selalu menatapku puas. Senang karena merasa didengarkan. Lega setelah beban hatimu kau keluarkan. 
 
"Kamu memang bisa diandalkan," ujarmu hangat.
 
Kamu adalah laki-laki yang tidak takut menangis. Laki-laki yang tidak takut menunjukkan apa yang dirasa. Setiap kali beradu, kita berhadapan sebagai sesama manusia. Saat itu kamu tidak takut membanting barang kesayanganmu di hadapanku. Aku tidak ragu pula membanting pintu. Kita beradu tanpa ragu.
 
Karena pada akhirnya, kamu akan selalu kembali kepadaku.
 
Kamu tidak pernah ragu mengetuk pintuku. Menggedor, berteriak, memohon, apapun akan kau lakukan agar aku kembali membuka pintu. "Kumohon," pintamu. "Bisakah kita kembali seperti dulu?".

Jika kamu laki-laki yang berekspresi tanpa ragu, aku perempuan yang bertindak tanpa kata. Aku selalu ingin kembali kepadamu, tahukah kamu? Aku tidak pernah mengatakannya, tidak pula tersirat maupun tersurat. Aku hanya memberimu isyarat. Karena itu aku akhirnya menjadi tuan putrimu, kau adalah hamba yang mendengarkan perkataanku. 

"We're ready to serve you, Princess," katamu dengan seringai canda.

Aku ingin melompat pulang melintasi waktu. Kembali ke tempat kita duduk ditemani minuman yang kita suka. Aku bersama choco cream, kamu bersama vanilla blue. Aku berharap ada satu saja keajaiban yang membawaku pulang kepadamu di hari itu. Bersamamu, di siang hari, membicarakan hal-hal yang biasa. Bercerita tentang sekolah, teman, dan pelajaran.

Satu kesempatan saja, jika aku boleh berdoa.

Satu jam saja, jika semesta memperbolehkan.

Aku sadar ada banyak yang ingin kukatakan dalam tindakanku. Aku ingin menyuratimu dengan kalimat-kalimat yang ingin kau dengar dariku. Kalimat-kalimat yang juga ingin kudengar dari diriku sendiri, untukmu, di hari itu. Hari di mana aku tidak akan menjumpaimu lagi untuk besok, lusa, dan minggu depan. 

Bahwa kamu berarti banyak bagiku. Aku bersyukur ada satu orang saja yang memperjuangkan kehadiranku dalam hidupnya pada saat itu. Aku senang saat bersamamu; saat sedang duduk, bercanda, bertengkar, dan berdamai. Aku juga mempercayaimu dengan sepenuh hatiku. 

Bahwa aku juga mencintaimu. Bukan dalam fana merah jambu, melainkan rona-rona biru. Aku menyayangimu sepenuh jiwaku.
 
Aku tidak akan meminta semesta memutar ulang waktumu. Kapanpun tirai merah ditutup, aku akan melepasmu bersamanya. Seperti burung merpati yang terbang dari topi sulap.
 
Aku hanya ingin semesta tahu, kemudian menyampaikannya kepadamu.
 
Aku kangen sekali.
 
 
 
 
Yours,
Bebek

Komentar