Tulisan ini mungkin akan menjadi tulisan paling jujur yang pernah kutulis. Karena untuk pertama kalinya aku ingin cerita kepada semua orang, dari suaraku sendiri, tentang hal-hal yang selalu kusimpan sendiri. Aku ingin membuka diri lebih banyak lagi, tidak hanya untuk orang-orang yang selama ini peduli kepadaku, tetapi juga demi diriku sendiri. Agar aku bisa mengatasinya dengan tanganku sendiri secara efektif dan membuatku menjadi manusia yang berani.
Dari mana ya aku harus mulai?
Belakangan ini, ada satu hal yang kusadari. Bahwa selama ini porsi self-love dalam hidupku masih jauh lebih kecil dari yang aku pikirkan. Iya, aku memberi waktu kepada diriku sendiri ketika lelah. Aku juga sering pergi entah ke mana untuk me time sendirian. Aku juga membelikan diriku barang-barang yang kumau untuk self-reward. Namun, ternyata semua itu belum cukup. Hal-hal itu hanya sebagian kecil dari bentuk self-love itu sendiri. Ada hal-hal yang menurutku signifikan, tetapi belum pernah kulakukan sebelumnya.
Mengenali dan menghadapi perasaan cemasku sendiri, misalnya. Atau mengakui bahwa aku tidak tahu, tidak bisa, dan tidak mau.
Deklarasi-deklarasi kunci yang amat penting dan bisa dilakukan.
Ketika melihat ke dalam diriku sendiri, aku terkejut mengetahui bahwa ada banyak ketakutan dalam diriku yang tumbuh menjadi sebatang pohon yang kokoh. Namun, di satu sisi aku bersyukur bahwa itu tumbuh menjadi sebatang pohon. Karena semua pohon pasti memiliki akar, sehingga masih dapat kucari dari mana dia tumbuh.
Ada satu orang yang pernah bertanya kepadaku begini, "Sepertinya kamu punya banyak pengalaman traumatis ya?". Jujur saja, aku tidak tahu skala traumatis itu seberapa. Aku hanya sampai kepada kata 'takut' untuk mendeskripsikannya. Apakah ketika memori pengalaman itu terbuka, kemudian membuat jantungku sangat berdebar dan napasku sesak? Apakah sinyal yang selama ini tubuhku berikan menandakan bahwa selama ini aku trauma?
Aku...tidak tahu.
Hanya saja, aku ingin terbuka bahwa aku takut. Takut sekali. Aku takut ketika orang mengetahuinya. Aku takut orang akan meninggalkanku dan kehilangan harga diriku.
Karena aku ingin terbuka, maka aku ingin menceritakan ini semua.
Aku punya dua ketakutan terbesar dalam hidupku. Ketakutan yang sering kubuka ke publik adalah aku takut kehilangan orang-orang yang kusayang. Ketakutan lain yang selama ini aku simpan sendiri adalah aku takut orang meninggalkanku karena kekurangan-kekurangan yang kupunya. Silly, mungkin ada orang yang berpikiran seperti itu, tetapi aku mengakui bahwa ini valid dan kumiliki dalam diriku.
Aku sering terlihat berjalan sendirian sejak remaja. Di SMP aku tidak pernah takut ke mana-mana sendirian, Pun ketika di SMA. Orang-orang sering berpikir bahwa aku memang sebegitu penyendiri, padahal tidak juga. Kenyataannya, aku lebih takut lagi sendirian dalam hidupku.
Tidak masalah melakukan apapun sendiri, asal hidupku tidak sendiri, begitu yang selalu kutanamkan ke diriku.
Ketakutan kedua itu sebenarnya tidak serta-merta tumbuh sendiri. Ada banyak pengalaman, yang mungkin saja traumatis, yang menyebabkan ketakutan itu berkembang dalam diriku. Semuanya terjadi ketika aku remaja, sepanjang yang kuingat.
Masa SMA, kurasa dari situ ketakutan ini lebih banyak muncul. Karena masa ini tidak saja menjadi waktu-waktu terbaik, tetapi juga masa-masa terburuk. Aku dulu hidup di asrama dan untuk pertama kalinya jauh dari orangtuaku di luar kota. Aku tidak punya satu orang pun kerabat di kota itu, sehingga semuanya berbeda untukku.
Apa yang membuatnya berbeda? Well, aku tidak punya tempat untuk lari sementara dari hal-hal tidak menyenangkan yang kuhadapi.
Aku selalu memasang wajah berbeda di sekolah dan di rumah ketika remaja. Di sekolah, aku berusaha tampil maksimal menjadi siswa berprestasi, anak baik-baik, dan menjaga image dari pengaruh yang aneh-aneh. Aku dekat dengan guru-guru dan disegani teman-temanku. Di rumah, aku akan menjadi...diriku sendiri. Aku yang agak bandel, teguh pendirian, dan keras kepala. Aku yang hanya tahu belajar dan belajar, sementara tugas-tugas rumah dikerjakan oleh Papa.
Ketika di sekolah teman-temanku sering cerita harus membantu orangtuanya, aku hanya tersenyum karena aku hampir tidak pernah melakukannya. Bukan karena tidak mau, tetapi Papa selalu bilang kewajibanku di rumah adalah dengan diriku sendiri: membersihkan kamarku sendiri dan belajar. Sisanya adalah tugas orangtua.
Aku memang dididik untuk mengurus diriku sendiri sejak kecil.
Namun, semua berbeda ketika SMA. Karena jauh dari orangtua, untuk pertama kalinya aku dihadapkan dengan tugas-tugas yang biasanya dilakukan Papa. Aku nggak bisa nyapu, ngepel, memasak, mencuci bajuku sendiri, dan tugas-tugas domestik lainnya. Aku nggak pernah mengekspos kekuranganku itu di sekolah, sehingga aneh rasanya untuk membuat orang lain tahu untuk pertama kalinya.
Rasanya tidak mudah. Pertama, karena tidak terbiasa. Kedua, respons teman-temanku setelah mengetahuinya.
Aku di-bully setelah itu.
Menurutku, lebih enak kalau menghadapinya ketika SMP. Karena aku punya tempat untuk lari dan menenangkan diri sebelum menyelesaikannya, yaitu di rumahku. Di SMA aku hidup 24/7 bersama orang-orang yang setiap hari mengungkit kekuranganku. Membuatku dibayang-bayangi dengan, "Kamu di rumah ngapain aja, sih? Kok nyapu aja nggak bisa?", "Kamu masak gini aja masa' ga bisa, sih?", "Sebelah sini belum bersih. Kamu bisa nggak, sih?", apalagi, "Kamu kan perempuan, nanti juga bakal punya suami. Harusnya bisa dong,".
Setiap kali membersihkan kasurku, piket kamar, maupun piket asrama, aku selalu takut orang lain akan berkata seperti itu. Aku takut orang akan berkata keras-keras tentang ketidakmampuanku. Aku takut karena orang memandangku berbeda setelah itu.
Kemudian, terjadi lagi. Aku dari dulu orang yang selalu thinking out loud. Aku selalu berkata-kata sendiri, "Ah sudah selesai,", "Yay, hari ini aku selesai nyuci,", "Wuah, hari ini aku selesai lebih cepat,". Orang-orang terang-terangan menjauhiku setelah itu karena aku dianggap sombong. Karena seharusnya aku diam saja. Mereka kemudian membuat forum dan mengatakannya langsung, tanpa menanyakan kepadaku terlebih dulu.
"Seharusnya kamu begini," dan "Seharusnya kamu begitu,". Kata-kata itu seakan menjadi makanan sehari-hariku.
Aku merasa berubah setelah itu. Aku merasa semakin keras kepada diriku sendiri. Aku benar-benar harus sempurna. Karena aku hidup 24/7 dengan orang-orang yang setiap hari selalu berkata, "Seharusnya kamu begini," dan "Seharusnya kamu begitu,", aku harus benar-benar tanpa cacat. Aku merasa dituntut untuk jadi perempuan yang sempurna.
Karena, seperti kata-kata yang pernah kudengar di sana, buat apa pintar di sekolah, tetapi jadi perempuan saja masih seperti itu?
Selama tiga tahun, aku tidak berhenti mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku perempuan yang gagal. Aku tidak cantik dan tidak pintar melakukan pekerjaan rumah. Rasanya semua nilai lebihku hilang begitu saja tanpa sisa.
Aku merasa menjadi perempuan yang tidak berharga.
Sudah lewat lima atau enam tahun kejadian itu berlalu, tetapi tetap saja mudah bagiku untuk mengingatnya. Karena kata-kata itulah yang tertanam dalam diriku selama tiga tahun. Karena selama tiga tahun aku keras terhadap diriku sendiri, maka mudah saja aku menjadi lebih keras lagi dua dan tiga tahun setelahnya. Aku selalu ingin sempurna di hadapan teman-teman terdekatku dan berusaha fit in dengan mereka; menjadi sosok yang dewasa, reliable, bisa menjadi tempat bersandar, dan lainnya. Anissa Antania Hanjani harus tampil sempurna tanpa cacat, itulah lagu yang selalu kudengar.
Aku jadi takut berbuat salah dan memiliki kekurangan. Karena takut kehilangan teman-temanku. Karena takut orang-orang akan memandangku berbeda setelah itu.
Padahal, ternyata teman-temanku yang sekarang ingin aku tidak memaksakan diriku sendiri. Ketika mereka mengenalku lebih jauh, apa yang mereka inginkan adalah aku seorang saja. Aku yang kadang plin-plan ketika bertengkar dengan orang lain. Aku yang berhati anak-anak. Aku yang sangat polos, sehingga kepolosan itu terkadang membuat mereka tertawa. Aku yang kadang gengsi mengungkapkan perasaanku sendiri.
Karena itulah aku ingin membuka cerita ini kepada semua orang. Aku ingin minta maaf kepada teman-temanku, orang-orang yang peduli kepadaku, dan terutama...diriku sendiri. Aku tidak mengerti ternyata inilah yang kalian inginkan ketika kalian berkata, "Nggak apa-apa,", "Biasa aja,", dan "Nggak perlu cemas,".
Sekarang, aku ingin mengubah lagu yang selama ini kudengar. Anissa tidak ingin lagi berusaha tampil tanpa cacat. Susah, sama sekali nggak mudah untuk mengubah sesuatu yang ada bertahun-tahun dalam diriku, tetapi aku ingin membebaskan diriku dari belenggu keharusan yang mengikatku. Aku ingin membuka satu lembaran di mana untuk pertama kalinya tidak ada ekspektasi dari diriku sendiri. Tidak lagi ada penghakiman dari diriku untuk diriku sendiri.
Tidak apa-apa, asalkan kamu berusaha, Anissa. Itulah lagu yang ingin kudengar sekarang.
Anissa Antania Hanjani
Komentar
Posting Komentar