Untuk diriku yang berusia 15 tahun,
Hai! Aku adalah dirimu tujuh tahun dari usiamu sekarang. Apa kabar? Kamu sedang apa? Hm, kutebak saat ini kamu sedang ambis-ambisnya. Kamu pasti sekarang sedang latihan lomba atau mempersiapkan diri untuk OSN. Kutebak kamu pasti masih asyik-asyiknya menghabiskan waktu dengan Mr. Izz. Kamu pasti sedang menikmati kehidupan sekolahmu.
Aku masih ingat semuanya, kok. Aku masih ingat betapa kita sangat mencintai sekolah. Pelajarannya sih, hampir tidak ada yang kita suka, sebesar apapun kita menyukai guru-gurunya. Namun, aku tetap ingat bagaimana kita tetap ingin bertahan. Tetap ingin membuktikan kepantasan diri kita di sana, sesulit apapun lika-liku kehidupannya.
Well, itu perasaan yang membahagiakan saat aku mengingatnya. Kamu harus tahu itu.
Aku tahu pasti ada banyak hal yang ingin kau tanyakan saat membaca surat ini. Pertama, mungkin kamu ingin tahu apakah dirimu masih sama? Kemudian, apakah sekarang aku sukses? Lalu, bagaimana akhir kisah kita dengan si dia, kan? Apakah akhirnya kamu...ehem, berjodoh? Hahaha.
Aku mulai dari mana ya surat ini?
Sebenarnya, ketika membaca surat ini, kamu pasti kaget begitu mengetahui ternyata penampilanku akan jauh berbeda dari apa yang kau bayangkan. Rambutku dicat chestnut blonde. Aku jauh lebih stylish dari penampilanmu saat ini. Lalu, aku memutuskan juga untuk membiarkan diriku terbuka dengan opsi jilbab: bisa pakai, bisa juga tidak.
Oke, aku sudah bisa membayangkan kamu akan menghujaniku dengan banyak pertanyaan. Aku akan mencoba menjawabnya satu per satu.
Apakah dapat ijin dari Papa dan Mama? Jawabannya adalah iya. Papa dan Mama kadang akan membiarkan kita pergi tanpa jilbab. Aku bisa menunjukkanmu foto keluarga terbaru kita dan kamu akan kaget sekali ketika melihatnya. Ada Papa, Mama, juga aku dan Adek yang sama-sama tidak mengenakan jilbab. Semuanya oke, asalkan pakaian kita sopan dan rapi. Ada foto juga kok di mana aku pakai jilbab, tetapi tidak sepanjang kamu saat ini
Lalu, kenapa aku melakukannya? Hm, gimana ya menjelaskannya? Well, mungkin begini. Dalam tujuh tahun dari usiamu saat ini, akan tiba masanya di mana kita berproses untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang pernah Mr. Izz ajukan dulu. Itu lho, tentang 'who you really are'. Ingat dong pastinya, karena Mr. Izz selalu mengulangnya sampai kamu bosan. Dalam perjalanan, kamu akan bertemu orang-orang yang membantumu menjawab pertanyaan itu. Caranya? Sederhana, sih. Hanya dengan berbicara saja.
Kamu pasti ingin tahu kan, bagaimana berbicara dapat membantu kita menemukan jawaban dari pertanyaan itu? Well, bisa. Karena dalam pembicaraan itu, kita tidak hanya sekedar bertukar kata-kata. Ada ide dan gagasan yang saling bertukar juga. Adanya pertukaran itu membuat kita melihat lagi, lagi, dan lagi ke dalam diri sendiri, kemudian bertanya-tanya tentang kita dan dunia yang kita tinggali ini.
Pertanyaan yang awalnya satu, kemudian berkembang menjadi puluhan pertanyaan lainnya.
Seiring berjalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan itu akan terjawab karena pada akhirnya ada penemuan yang penting dalam diri kita, yaitu identitas kita. Identitas ini berisi tentang hal-hal yang kita percaya, prinsip hidup, dan jalan pemikiran. Kita kemudian menggunakannya untuk membangun diri kita di hadapan orang lain, membentuk citra, dan menunjukkan siapa kita kepada dunia. Pada saat itulah kamu akan menyadari betapa unik seorang Anissa Antania Hanjani. Seperti kata Mr. Izz yang selalu kamu dengar saat ini, kan?
Iya, pada dasarnya kamu adalah pribadi yang unik, kok. Kalau aku boleh bilang, kita adalah kontradiksi berjalan. Terkadang kita bisa menjadi orang yang paling logis, tetapi ada saatnya kita bisa menjadi orang yang paling emosional. Ada banyak hal saintis yang kita ketahui, tetapi banyak hal sehari-hari yang ternyata tidak kita pahami. Kita adalah orang yang sensitif, sekaligus orang yang paling sulit peka. Kita terbuka terhadap hal-hal tertentu, tetapi banyak hal juga yang membuat kita lebih konservatif.
Lucu, kan?
Namun, ada yang perlu kamu sadari (dan aku tahu pertanyaan ini pasti akan kau tanyakan). Tidak semua orang akan menerima hal ini dengan baik. Kamu pasti tahu siapa saja yang akan menolak ketika sudah siap memutuskan untuk menunjukkan siapa dirimu sesungguhnya. Well, aku paham. Ini akan sulit bagimu. Aku tahu betapa sayangnya kamu kepada orang-orang itu dan kamu ingin mereka mengerti keputusanmu.
Well, tidak apa-apa. Aku mengerti. Kamu akan melewati proses yang panjang untuk dapat menerimanya. Proses belajar ini menyakitkan karena kamu akan ditampar oleh satu realita yang tidak kau suka: kita tidak dapat menyenangkan semua orang. Menurutku, bahkan Superman saja tidak bisa melakukannya. Aku tahu kita tidak suka menonton film superhero, tetapi ada satu hal menarik yang bisa dipelajari. Kalau kita lihat, meski Superman menyelamatkan seisi kota, tetap akan ada kehancuran yang terjadi karena dia berkelahi dengan musuhnya. Penduduk kota tentunya tidak suka akan hal itu, kan? Siapa coba yang suka melihat rumah, tempat kerja, atau tempat bisnisnya dirusak orang lain?
Namun, apa coba yang terjadi kalau Superman tidak melakukan sesuatu? Well, mungkin saja malah seisi kota yang akan hancur. Mungkin saja korban jiwa akan bertambah. Mungkin saja kota malah jatuh ke tangan orang jahat yang tidak bisa dilawan pemerintah.
Lebih besar resikonya, kan?
Kalau kita kembalikan lagi ke pembahasan tadi, aku rasa kamu mungkin mengerti maksudku. Ketika kamu menunjukkan siapa dirimu sebenarnya, akan ada orang-orang yang berpaling meninggalkanmu. Sama seperti Superman, ada orang-orang yang tidak suka akan dirimu yang unik ini. Semua orang mengalami hal yang sama ketika ingin menunjukkan betapa uniknya mereka, baik disadari maupun tidak. Kamu tidak sendirian.
Menurutku, resikonya akan lebih besar ketika kita memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan menutupinya. Mungkin, seumur hidup kita tidak akan berproses ketika kita memilih untuk tetap diam. Padahal, kita sama-sama tahu bahwa proses adalah hal terpenting untuk hidup sebagai manusia. Ada kesehatan mental juga yang akan kita korbankan. Tentunya, itu bukan hal yang baik.
Lalu, kamu pasti bertanya apa yang bisa kita lakukan, kan? Jawabannya adalah tidak ada. Kamu tidak bisa membuat orang lain seketika memahami dirimu. Hal itu sudah bukan lagi dalam jangkauanmu; itu adalah pilihan yang sudah mereka ambil. Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Itu bukan salah mereka. Oh, itu juga bukan salahmu, kok. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu untuk itu. Aku tidak bisa juga menyalahkanmu untuk menjadi dirimu sendiri apa adanya.
Tidak ada yang salah dan benar. Karena kita sedang bicara tentang pilihan, bukan kebenaran. Ketika bicara tentang hidup, seperti sekarang, kita bicara tentang relativitas. Kita bicara tentang keyakinan yang ada dalam identitas kita.
Karena datangnya dari dalam diri kita, orang lain boleh untuk tidak mengikutinya. Setiap orang memiliki pengalaman berbeda dalam hidupnya, sehingga identitas mereka akan berbeda.
Hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Kamu bisa memenuhi hatimu dengan cinta. Hal yang sederhana, tetapi dampaknya besar menurutku. Karena ada nilai dalam dirimu, lebih banyak dari yang kau tahu. Tugas terpenting bagiku adalah menjaga nilai-nilai itu tetap ada, sembari memperbaikinya jika rusak. Well, identitas kita ini adalah kendaraan yang menjalankan kita, sehingga wajar jika suatu hari menemui kerusakan. Tidak mungkin tidak pernah rusak. Semua orang juga mengalami hal yang sama, lagi-lagi baik disadari maupun tidak.
Satu hal yang menurutku menjadi catatan penting adalah kerusakan itu tidak akan pernah mengurangi nilainya. Inilah perbedaan kendaraan kita dengan kendaraan yang secara literal biasa kita temui di jalan raya. Setiap kita menemui kerusakan, perbaiki saja sebagaimana adanya. Tidak apa-apa. Seumur hidup kita akan terus menemui kerusakan, mau bagaimana pun usaha kita untuk selalu membuat kendaraan kita tanpa cacat.
Lagi-lagi, aku ingin mengatakan bahwa membuat sesuatu tanpa cacat adalah hal yang bahkan Superman pun tidak sanggup melakukannya.
Aku bisa menebak kamu akan bertanya, dengan identitas dan diri kita yang seperti ini, apakah ada orang yang mencintai kita? Jawabannya, ada. Bahkan, mungkin kamu tidak sadar bahwa selama ini orang itu sudah berada di sekitarmu sejak lama.
Bicara soal orang yang mencintai kita, aku jadi teringat seseorang. Aku penasaran, bagaimana kabar orang ini? Well, aku tahu kok pastinya apa yang sedang kalian alami. Aku tahu kamu saat ini sedang menghindarinya. Kamu mungkin pernah berpikir akan lebih baik ketika dia tidak ada. Kamu kesal ketika dia mengusilimu di kantin, kan? Haha, iya, aku mengerti. Aku tahu betapa menyebalkannya saat itu terjadi.
Hm, mungkin sekarang aku ingin mengajakmu melihat di luar kotak kita selama ini. Tadi kita sudah ngobrol kan bahwa membahas hidup artinya bicara tentang relativitas? Kita juga sudah membahas bahwa orang lain pasti punya pengalaman hidup yang berbeda, kan? Nah, hal yang ingin kukatakan adalah kita tidak pernah tahu apa yang dialami orang lain. Ada cerita di balik siapa mereka dan bagaimana sifat-sifatnya muncul, seperti kita juga.
Aku hanya ingin meminta kamu untuk sedikit saja lebih pengertian terhadapnya. Karena dia sangat mencintai kita.
Nikmati saja momen-momen menyebalkan itu. Tersenyumlah. Tertawalah dengan lebar. Kamu juga boleh merasa sebal dan kesal. Namun, kuharap kamu tetap menyisakan ruang baginya di hatimu sedikit saja. Aku percaya suatu hari nanti kamu akan melihat betapa besar cintanya kepadamu. Kamu juga akan melihat betapa besar ruang di hatinya untukmu. Kamu akan melihat loyalitas dan kasih sayangnya kepadamu sampai titik akhirnya.
Aku ingin menjawab pertanyaan terakhir yang kau ajukan. Tentang aku dan dia...apakah berjodoh? Well, aku tidak tahu. Bukan karena aku nggak niat untuk menjawabnya, tetapi akan lebih baik kalau kamu tetap mencari jawabannya. Dengan begitu, petualanganmu sampai tujuh tahun ke depan akan jauh lebih seru.
Namun, ada satu hal yang aku ingin kamu tahu: you're beautiful. Kamu cantik. Kamu cantik tanpa harus menunggu pengakuan darinya tiga tahun lagi. Kamu cantik tanpa harus membandingkan dirimu sendiri dengan perempuan-perempuan di sekitarnya.
Alih-alih membandingkan dirimu, aku ingin kamu menjawab satu pertanyaan ini: bagaimana cantik menurutmu? Iya, menurutmu seorang saja. Pertanyaan ini masih ada di kepalaku sampai sekarang. Bukan berarti karena kamu tidak menjawabnya, kok. Hanya saja, pertanyaan ini adalah satu dari banyak pertanyaan yang jawabannya akan selalu berubah.
Komentar
Posting Komentar