To My Dearest Friend

Sudah dua hari ini aku meminimalisir interaksiku di WhatsApp. Padahal ini hari Senin, ya? Well, entahlah. Di dalam istana pikiranku sekarang, aku hanya ingin beristirahat dari hiruk-pikuk dunia. Bukan bersantai, tetapi aku ingin mencari tahu kenapa perasaan hari itu begitu besar dan mendalam. Membuatku sesak akan penyesalan.

Rintik hujan adalah melodi malamku saat ini. Suara gitar itu sedang tidak ingin kuputar lagi. Rasanya aku hanya ingin sendiri, sendiri, dan sendiri.

Aku ingin memahami apa yang terjadi.

Ada banyak pertanyaan dalam kepalaku sekarang yang ingin kutanyakan kepadamu saat ini. Saking banyaknya, aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. 

Apakah kamu bahagia?
Apakah aku teman yang baik?
Apakah kamu kecewa kepadaku selama ini?
Apakah aku yang bertanggung jawab atas semua ini?

Aku tidak tahu jawabannya. Pun saat ini mustahil aku mendengar jawabannya darimu. Kalau kamu tiba-tiba ada, mungkin aku tidak bisa tidur nantinya, haha.

Aku tidak menemukan jawabannya saat ini. Namun, hati kecilku bersuara dengan lantang. Meneriakkan satu hal yang aku tahu dengan pasti.

Bahwa aku mencintaimu.

Seandainya kamu berada di sini, seandainya kamu bangun di hari itu (alih-alih tertidur panjang), seandainya aku punya kesempatan terakhir hari itu, ada satu jawaban yang tetap sama dalam pikiranku: aku belum tentu menjamin apapun darimu. Bahkan jika kamu bangun, aku belum tentu menjamin bahagiamu setelah itu. Kita mungkin akan terus sama saja; bertengkar setiap hari, dengan kamu membanting pintu dan aku membuang muka.

Yang aku tahu hanyalah aku mencintai dan menyayangimu.

Ada satu pertengkaran yang kuingat, benar-benar kuingat. Karena untuk pertama kalinya dalam semua pertengkaran kita, kamu tidak meminta maaf duluan. Kamu membanting pintu di depanku dan benar-benar marah. Kemudian, kita sibuk mengerjakan ujian akhir masing-masing. Fisika, Kimia, Matematika, semua kita lewati sendiri-sendiri.

Hari pertama setelah kita saling mendiamkan, aku masih angkuh. Kupikir aku hanya perlu menunggu karena kau pasti akan datang kepadaku. Dua dan tiga hari, tidak ada ucapan apa-apa darimu. Memasuki hari keempat, ada perasaan gelisah tak menentu. Ada perasaan aneh dalam hatiku ketika masih tidak terdengar apapun darimu. Perasaan itu membuatku berakhir di tepi jendela lantai dua dan menangis terisak. Tepat berada dalam jurang ketakutanku.

Itulah pertama kalinya kesadaran itu muncul. Bahwa aku mencintai dan menyayangimu.

Kamu tahu? Di antara banyak tanda tanya, ada satu pertanyaan what-if yang membuatku sangat penasaran. Sangat penasaran, hingga aku berpikir akan membayar mahal untuk menjawab pertanyaanku itu.

Jika seandainya aku bisa kembali ke masa tujuh tahun lalu, kemudian bertemu lagi, apakah kamu akan lebih bahagia? Apakah aku tidak punya penyesalan apapun nantinya?

Dalam istana pikiran itu, aku mencoba menyusun segala skenarionya. Mengingat bagaimana pertama kali kita bertemu, kemudian bagaimana aku pernah menyukaimu sebagai lelaki, kemudian kita menjadi sahabat baik, dan seterusnya, dan seterusnya. Aku juga mengingat kembali apa penyebab pertengkaran kita, mengapa kamu kesal kepadaku, mengapa aku saat itu marah, dan lainnya. Aku berpikir, bisakah saat itu aku mengalah, tidak mudah marah, dan lebih penyabar? Bisakah aku membuatmu bahagia?

Semakin pertanyaan itu digali, pada akhirnya jawabannya hanya satu: tidak ada.

Tidak ada jaminan aku bisa mengubah sesuatu yang telah menjadi latar belakangku. Tidak ada jaminan kita tidak pernah bertengkar. Tidak ada jaminan juga bahwa aku dapat membuatmu lebih bahagia.

Hanya saja, aku tahu satu hal: aku mencintai dan menyayangimu. Itu saja.

Mungkin, itu saja yang kita perlukan selama ini. Perasaan mengasihi dan dikasihi. Perasaan yang saling memberikan timbal-balik. 

Kurasa andai akhirnya aku memiliki pilihan untuk kembali ke masa lalu, ternyata tidak ada yang ingin kuubah sama sekali. Bahkan, ketika saat aku memilih tenggelam dalam keangkuhanku sendiri untuk mengakui perasaan sayangku terhadapmu. Aku juga tidak ingin membuat pertengkaran kita jadi lebih cepat selesai atau kita jadi punya banyak momen bersama.
 
Karena mungkin saja apa yang kita miliki saat itu, semua kenangan, memori, dan momen kita, adalah yang terbaik. Untuk saat itu, hingga diingat di masa depan.
 
Karena mungkin saja kamu juga tidak ingin aku terlalu sempurna. Aku masih akan tetap jadi aku yang gengsian mengakui perasaan sendiri. Aku masih akan tetap judes kalau kamu panggil habis bertengkar. Aku masih akan kesal kepadamu. Namun, kamu akan selalu menyayangiku.
 
Karena mungkin saja kita memang demikian adanya. Aku yang demikian, kamu yang demikian, dengan ikatan masing-masing yang begitu kuat tanpa kita sadari.
 
Dan masih banyak mungkin-mungkin lainnya.
 
Jujur, berat. Berat sekali merelakanmu pergi. Lima tahun ini aku menjalani hidup yang tidak mudah tanpamu di sini. Digelayuti perasaan takut kehilangan untuk kedua kali, kemudian menyesal lagi, dan akhirnya sendiri lagi. Dengan skenario what-if di atas tadi, kalau asumsinya aku tidak mengubah apapun, maka penyesalan pun masih tetap ada. Yah, pasti ada banyak hal yang masih ingin kulakukan denganmu tanpa kusadari.
 
Namun, bagaimana kalau kita melihatnya dengan cara lain?
 
Seandainya aku kembali dan mengubah masa lalu, ketika kita bertengkar besar empat hari itu, maka mungkin akhirnya aku tidak pernah menyadari betapa besar perasaan sayang itu kepadamu. Aku di usia 22 tahun ini akan mengetahuinya dengan jelas bahwa itu salah, tetapi bagaimana dengan aku yang di usia 16 tahun? Aku yang masih berpikir bahwa kamu pasti akan minta maaf sendiri? Si diri berusia 16 tahun itu mungkin hanya akan, "Well, ya sudah,".
 
Seandainya aku kembali untuk mengubah semua tentang kita menjadi lebih baik, maka mungkin yang akan kau lihat adalah aku berusia 22 tahun yang penuh penyesalan. Bukan aku berusia 15-16 tahun yang kau kenal begitu gengsian, keras kepala, dan lainnya. Pasti lebih banyak hal-hal yang tidak bisa kita sharing bersama karena perbedaan cara pandang kita. Karena kamu masih remaja, sementara aku yang datang usianya memasuki dewasa muda.
 
Tentu mungkin tidak akan adil bagi aku di usia remaja. Bukannya premis yang kita kenal adalah semua orang yang kita temui membawa pelajaran? Lalu apa yang akan kupelajari di masa remaja dan lima tahun setelahnya kalau aku mengubah semuanya?
 
Karena itulah jawaban yang kupunya saat ini begitu sederhana. Yang aku tahu pasti adalah aku begitu mencintai dan menyayangimu.
 
Saat ini.
 
Mungkin aku akan menemukan jawaban lain. Makanya, tolong perhatikan aku dengan baik. Aku ingin kamu membersamaiku hingga akhir, sehingga ketika kita bertemu lagi, kita bisa mendiskusikan pertanyaan ini:
 
"Apa yang kamu pelajari?"
 
 
 
Anissa Antania Hanjani 

Komentar